KANKER masih menjadi momok besar bagi sistem kesehatan Indonesia. Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Kementerian Kesehatan dan Globocan 2022 mencatat, terdapat 408.661 kasus kanker dengan 242.099 kematian. Tingkat kematian mencapai 59,24%, salah satu yang tertinggi di kawasan. Beban ekonomi keluarga pasien pun kian berat, sementara kesadaran deteksi dini masih rendah.
Fenomena ini mendorong para peneliti untuk mencari solusi inovatif. Salah satu terobosan datang dari bidang kedokteran nuklir, melalui pemanfaatan radionuklida medis. Teknologi ini memanfaatkan isotop radioaktif untuk diagnosis dan terapi, mulai dari deteksi dini kanker hingga pengobatan yang lebih presisi.
“Radionuklida medis terbukti efektif dalam diagnosis dan terapi kanker, bahkan berpotensi menjadi metode primer di masa depan,” jelas Profesor Riset dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Imam Kambali, dalam orasi ilmiahnya di Gedung B.J. Habibie, Jakarta (20/8), sebagaimana dikutip dari laman resmi BRIN.
Diagnosa Lebih Cepat, Terapi Lebih Tepat
Radionuklida yang memancarkan sinar gamma energi rendah digunakan dalam alat PET (Positron Emission Tomography) dan SPECT (Single Emission Computed Tomography). Untuk terapi, digunakan isotop pemancar radiasi beta maupun alfa yang dapat membunuh sel kanker secara terarah.
Baca juga: Kanker Paru di Era Polusi, Ancaman Baru bagi Non-Perokok
Uniknya, beberapa radionuklida bersifat teranostik, artinya bisa dipakai sekaligus untuk diagnosis dan terapi. Konsep ini memberi efisiensi tinggi sekaligus mengurangi risiko salah arah pengobatan.
Tak hanya kanker, perkembangan terbaru menunjukkan radioisotop F-18 bisa mendeteksi komplikasi pasca Covid-19. Artinya, kebutuhan radionuklida medis akan semakin luas di masa depan seiring munculnya penyakit baru.
Tantangan Infrastruktur dan Kemandirian Teknologi
Radionuklida medis diproduksi lewat dua jalur, reaktor nuklir dan siklotron (akselerator partikel). Produksi berbasis reaktor membutuhkan investasi sangat besar, sehingga tren global kini beralih ke siklotron yang lebih efisien dan menghasilkan isotop lebih beragam.

Di dunia, terdapat lebih dari 1.200 siklotron aktif untuk produksi isotop medis seperti F-18, C-11, Ga-68, dan Tc-99m. Namun, Indonesia masih menghadapi keterbatasan fasilitas. Saat ini, lebih dari 90% radioisotop medis masih bergantung pada impor. Kondisi ini berisiko menghambat layanan kedokteran nuklir dan meningkatkan biaya kesehatan nasional.
Baca juga: Teknologi Cerdas: Alat Pacu Jantung Sekecil Beras, Tanpa Operasi Tambahan
“Fasilitas siklotron tidak boleh hanya terkonsentrasi di Jawa. Harus tersebar di seluruh Indonesia, karena radionuklida medis memiliki waktu paruh yang pendek,” tegas Imam.
Menuju Kemandirian dan Visi Indonesia Emas 2045
Radionuklida medis bukan sekadar isu teknologi kesehatan. Ia juga terkait dengan kemandirian industri, penguatan farmasi nuklir, dan daya saing nasional. Dengan membangun kapasitas produksi dalam negeri, Indonesia bisa menekan ketergantungan impor sekaligus memperluas layanan hingga daerah terpencil.
Lebih jauh, pemanfaatan radionuklida mendukung target RPJMN 2024–2029 dalam pencegahan dan pengendalian penyakit tidak menular. Investasi di bidang ini juga dapat menciptakan ekosistem inovasi teknologi tinggi yang sejalan dengan visi Indonesia Emas 2045.
Baca juga: Jejak Karbon di Ruang Operasi, Saatnya Medis Hijau Jadi Prioritas
Imam menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor. Mulai peneliti, rumah sakit, lembaga perizinan, dan kementerian kesehatan. “Dengan keterbukaan informasi dan kerja sama erat, kita bisa mempercepat adopsi teknologi nuklir medis untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat,” ujarnya.
Jika langkah strategis ini dijalankan, radionuklida medis bisa menjadi kunci menekan beban kanker di Indonesia, memperpanjang harapan hidup, dan mengurangi kesenjangan layanan kesehatan. ***
- Foto: Ilustrasi/ Thirdman/ Pexel.