Pantura Perlu Tanggul, tapi Mangrove Tak Boleh Kalah

PANTURA sedang memasuki fase baru perlindungan pesisir. Isunya tidak lagi cukup dibaca sebagai proyek tanggul, pemecah gelombang, atau reklamasi teknis. Pantura adalah ruang ekologis, ekonomi, dan sosial yang sedang ditekan oleh abrasi, banjir rob, kerusakan mangrove, ekspansi tambak, serta penurunan tanah. Tekanan berlapis itu membuat pendekatan tunggal semakin tidak memadai. Struktur keras dapat menahan gelombang,…

Baca Selengkapnya...

Bukti Ilmiah Jadi Penentu, Sengketa Lingkungan Diuji oleh Data

SENGKETA lingkungan hidup semakin sulit diselesaikan hanya dengan kesaksian, foto kerusakan, atau klaim dari pihak yang berkonflik. Pencemar dapat bergerak mengikuti angin, aliran sungai, dan arus laut. Dampaknya juga kerap muncul jauh dari sumber awal. Dalam kondisi tersebut, penyelesaian sengketa membutuhkan bukti yang mampu menjelaskan hubungan sebab-akibat secara terukur. Pemodelan lingkungan adalah metode ilmiah yang…

Baca Selengkapnya...

Krisis Iklim Geser Peta Chikungunya

KRISIS iklim tidak hanya mengubah suhu, curah hujan, dan garis pantai. Krisis iklim juga mulai menggeser peta penyakit. Chikungunya memberi sinyal itu. Penyakit yang selama ini lebih dekat dengan kawasan tropis dan subtropis kini diproyeksikan bergerak ke wilayah baru, termasuk Asia Timur, Eropa Tengah, dan Amerika Utara bagian timur laut. Chikungunya adalah penyakit virus yang…

Baca Selengkapnya...

Gajah Sumatra Mati, Ekologi Kalah

KEMATIAN induk dan anak gajah Sumatra tidak cukup dibaca sebagai insiden satwa liar. Peristiwa itu harus dibaca sebagai sinyal kegagalan tata kelola ruang, lemahnya pengawasan habitat, dan rapuhnya penegakan hukum konservasi di Indonesia. Konservasi satwa liar adalah upaya melindungi spesies, habitat, dan ekosistem agar fungsi alam tetap bekerja dan tidak runtuh oleh tekanan manusia. Dalam…

Baca Selengkapnya...

Korupsi Iklim dan Lubang Besar Tata Kelola Lahan Indonesia

TATA kelola lahan kini tidak lagi bisa dibaca hanya sebagai urusan izin, investasi, atau ekspansi komoditas. Di tengah krisis iklim, setiap perubahan tutupan hutan memiliki konsekuensi langsung terhadap emisi karbon, risiko bencana, dan perlindungan ruang hidup masyarakat. Korupsi iklim muncul ketika kebijakan, izin, atau tata kelola lahan melemahkan perlindungan ekosistem dan memperbesar risiko emisi serta…

Baca Selengkapnya...

Tanah Turun, Laut Naik: Pantura Jawa Butuh Kebijakan Pesisir Berbasis Data

PANTAI Utara Jawa sedang menghadapi risiko ganda yang tidak lagi bisa dibaca sebagai banjir rob biasa. Di satu sisi, permukaan tanah di sejumlah wilayah terus turun. Di sisi lain, muka laut naik hingga 4,3 milimeter per tahun. Pantura Jawa makin rentan tergenang karena daratan turun lebih cepat dari kemampuan kebijakan pesisir beradaptasi. Penurunan tanah adalah…

Baca Selengkapnya...

Kota-kota Asia Mulai Kehilangan Badan Airnya

KOTA-kota di Asia mulai menghadapi krisis ekologis yang sering luput dari perhatian, yakni hilangnya badan air perkotaan akibat tekanan pembangunan, ekspansi properti, dan lemahnya pengawasan tata ruang. Badan air perkotaan adalah kolam, rawa, situ, danau kecil, hingga aliran sungai yang berfungsi menyimpan air, menahan banjir, menjaga suhu kota, dan menopang keseimbangan ekosistem urban. Badan air…

Baca Selengkapnya...

Cagar Biosfer Tak Lagi Sekadar Kawasan Konservasi

KAWASAN konservasi kini tidak lagi hanya dipandang sebagai wilayah perlindungan alam. Di tengah tekanan perubahan iklim, degradasi lingkungan, hingga kebutuhan ekonomi hijau, kawasan seperti Cagar Biosfer mulai bergeser menjadi instrumen strategis pembangunan berkelanjutan berbasis jasa ekosistem. Cagar biosfer adalah kawasan yang menggabungkan fungsi konservasi keanekaragaman hayati, pembangunan ekonomi berkelanjutan, dan dukungan riset untuk menjaga keseimbangan…

Baca Selengkapnya...

Saat Dunia Memburu Bioekonomi, Indonesia Masih Kekurangan Ahli Taksonomi

INDONESIA dikenal sebagai salah satu negara dengan kekayaan biodiversitas terbesar di dunia. Namun, di tengah meningkatnya persaingan global memperebutkan sumber daya hayati untuk obat, pangan, hingga teknologi hijau, Indonesia justru menghadapi persoalan mendasar, belum banyak spesies yang benar-benar terpetakan secara ilmiah. Indonesia memiliki kekayaan flora sangat besar, tetapi kapasitas riset dan jumlah ahli untuk mengidentifikasi…

Baca Selengkapnya...