Sawah Basah, Emisi Naik

SELAMA puluhan tahun, sawah produktif sering dibayangkan sebagai hamparan air yang terus tergenang. Air menjadi simbol kesuburan. Sawah yang kering kerap dianggap bermasalah.

Namun, perubahan iklim membuat cara pandang itu perlu dibaca ulang.

Di balik genangan sawah, ada emisi metana. Gas rumah kaca ini terbentuk ketika tanah berada dalam kondisi anaerob, atau minim oksigen. Semakin lama sawah tergenang, semakin besar peluang terbentuknya metana dari proses biologis di dalam tanah.

Masalahnya, padi tetap harus diproduksi. Beras tetap menjadi pangan utama. Di saat yang sama, air makin menjadi sumber daya yang diperebutkan.

Karena itu, inovasi irigasi hemat air kini bukan lagi urusan teknis pertanian semata. Pengelolaan air sawah mulai masuk agenda iklim.

Sawah Tak Selalu Basah

Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Tanaman Pangan BRIN, I Gusti Komang Dana Arsana, mengembangkan teknologi irigasi hemat air berbasis Alternate Wetting and Drying atau AWD. Teknologi ini bekerja dengan prinsip sederhana. Sawah tidak terus-menerus digenangi.

Air diberikan sesuai kebutuhan tanaman. Setelah itu, lahan dibiarkan mengering pada periode tertentu sebelum diairi kembali.

Dalam orasi ilmiah pengukuhan Profesor Riset di Gedung B.J. Habibie, Jakarta, Rabu, 24 Juni 2026, Komang menyebut sistem sawah yang terus tergenang berkontribusi pada pembentukan metana.

Baca juga: Ketahanan Pangan Terancam, 17% Sawah Dunia Tercemar Logam Berat

Dengan AWD, kondisi anaerob di tanah dapat dikurangi. Pada saat yang sama, penggunaan air menjadi lebih efisien.

Hasil penelitian yang dipaparkan Komang menunjukkan penerapan AWD dengan interval sekitar delapan hari mampu meningkatkan efisiensi penggunaan air dibandingkan pengairan terus-menerus. Sistem ini juga membantu menekan emisi metana dari lahan sawah.

Air Jadi Kebijakan

Secara global, teknologi AWD sudah lama dibaca sebagai bagian dari pertanian rendah emisi. International Rice Research Institute menyebut AWD dapat menurunkan emisi metana dari produksi padi sekitar 30 hingga 70 persen tanpa menurunkan hasil panen.

FAO juga menempatkan AWD sebagai praktik pertanian padi cerdas iklim. Pendekatan ini dapat menurunkan emisi metana sekitar 30 hingga 50 persen, sekaligus mengurangi penggunaan air hingga sekitar 30 persen.

Grafis: Daffa Attarikh/ SustainReview.

Angka tersebut penting bagi Indonesia. Sawah bukan hanya ruang produksi pangan. Sawah juga bagian dari sistem air, sistem sosial, dan sistem emisi.

Reuters pada Juni 2026 melaporkan petani padi Indonesia mulai mempercepat tanam karena risiko El Niño dan musim kering yang lebih panjang. Pemerintah juga mendorong optimalisasi irigasi dan penggunaan benih tahan kekeringan.

Baca juga: Indonesia Kehilangan 150 Ribu Hektar Sawah Setiap Tahun

Konteks ini membuat AWD menjadi lebih relevan. Teknologi ini tidak hanya menjawab kebutuhan pengurangan emisi, tetapi juga kebutuhan adaptasi terhadap ketidakpastian air.

Subak dan Sensor

Tantangan terbesar AWD bukan hanya teknologi. Tantangan utamanya ada pada perilaku, kelembagaan, dan tata kelola air.

Komang menekankan bahwa inovasi seperti AWD tidak bisa berdiri sendiri. Petani perlu mengubah anggapan lama bahwa sawah harus selalu tergenang untuk menghasilkan padi optimal.

Di sinilah kelembagaan lokal menjadi penting. Subak di Bali, misalnya, telah lama menunjukkan kemampuan mengatur distribusi air secara adil melalui kesepakatan bersama.

Baca juga: Alih Fungsi Sawah Diperketat, Negara Menutup Celah Erosi Lahan Pangan

Ke depan, model kelembagaan seperti ini dapat diperkuat dengan teknologi modern. Sensor kelembapan tanah, sistem digital, dan pemantauan berbasis data bisa membantu pengairan menjadi lebih presisi.

Namun, digitalisasi irigasi harus tetap berpijak pada realitas lapangan. Teknologi tidak akan berjalan tanpa kepercayaan petani, koordinasi antarpetak, dan kepastian akses air.

Pangan Rendah Emisi

AWD menunjukkan bahwa masa depan pertanian tidak cukup dibaca dari hasil panen. Efisiensi air dan jejak emisi juga harus masuk dalam ukuran keberhasilan.

Bagi Indonesia, agenda ini penting untuk menjaga ketahanan pangan di tengah tekanan iklim. Produksi beras tetap harus aman. Tetapi cara memproduksinya perlu semakin hemat air dan rendah emisi.

Baca juga: Lahan Rob Bisa Jadi Sumber Pangan Baru

Sawah yang baik tidak selalu berarti sawah yang terus basah.

Di era perubahan iklim, sawah yang dikelola cerdas justru bisa menjadi ruang baru untuk mempertemukan pangan, air, dan pengurangan emisi. ***

  • Foto: Ilustrasi/ Hongson/ Pexels Pengelolaan air sawah menjadi bagian penting dari upaya menjaga ketahanan pangan dan menekan emisi metana.
Bagikan