SAF Masih Mahal, Bisakah Pabrik Modular Mengubahnya?

Pendanaan US$43 juta kepada Lydian membawa pendekatan baru dalam produksi avtur sintetis. Namun, klaim biaya lebih rendah dan emisi turun 95% masih harus melewati pembuktian komersial.

DUNIA penerbangan sedang mengejar bahan bakar rendah karbon dengan persediaan yang masih sangat terbatas.

Produksi sustainable aviation fuel atau SAF secara global diperkirakan mencapai 2,4 juta ton pada 2026. Jumlah itu hanya sekitar 0,8% dari seluruh bahan bakar yang dikonsumsi industri penerbangan dunia.

International Air Transport Association atau IATA memperkirakan biaya yang harus ditanggung maskapai untuk volume SAF tersebut mencapai US$4,3 miliar.

Angka itu memperlihatkan dua masalah sekaligus.

Pasokan SAF masih terlalu kecil untuk mengubah emisi penerbangan secara signifikan. Pada saat yang sama, harganya tetap jauh lebih tinggi dibandingkan avtur berbasis minyak bumi.

Di tengah kesenjangan tersebut, perusahaan teknologi asal Amerika Serikat, Lydian, memperoleh pendanaan Seri A sebesar US$43 juta.

Baca juga: Berebut SAF Sebelum Bahan Bakarnya Tersedia

Putaran pendanaan yang diumumkan pada 30 Juli 2026 itu dipimpin Breakthrough Energy Ventures, perusahaan investasi iklim yang didirikan Bill Gates. AP Ventures dan Builders Vision ikut berpartisipasi bersama sejumlah investor lama.

Pendanaan tersebut menjadi investasi pertama yang diumumkan melalui oneworld BEV Fund, kendaraan investasi yang dibentuk Breakthrough Energy Ventures bersama aliansi maskapai oneworld.

Bukan sekadar jumlah investasinya yang menarik.

Uang tersebut akan digunakan untuk membawa teknologi produksi bahan bakar pesawat sintetis dari fasilitas percontohan menuju tahap demonstrasi komersial.

Pertaruhannya terletak pada satu pertanyaan besar. Bisakah pabrik yang lebih kecil, modular, dan terstandardisasi membuat bahan bakar pesawat rendah karbon menjadi lebih murah?

Pabrik Tidak Lagi Harus Dibangun dari Nol

Lydian mengembangkan platform produksi bernama PIVOT.

Sistem ini mengubah karbon dioksida yang ditangkap dan hidrogen menjadi bahan bakar penerbangan sintetis. Jika hidrogennya diproduksi menggunakan listrik terbarukan, bahan bakar tersebut dapat dikategorikan sebagai electrofuel atau e-fuel rendah karbon.

Pada fasilitas konvensional, setiap pabrik bahan bakar sintetis umumnya dirancang secara khusus berdasarkan lokasi, kapasitas, sumber energi, dan konfigurasi teknologinya.

Pendekatan itu membutuhkan perencanaan panjang, konstruksi kompleks, serta modal awal yang besar.

PIVOT mencoba mengubah pola tersebut.

Teknologi reaktor, katalis, perangkat lunak, desain proses, dan sejumlah peralatan pendukung dirangkai dalam modul standar yang dapat diproduksi di pabrik. Modul-modul itu kemudian dibawa dan dipasang di lokasi proyek.

Dalam pengumuman pendanaannya, Lydian menyatakan pendekatan tersebut dapat memangkas biaya modal pembangunan pabrik lebih dari 50% dibandingkan teknologi pesaing.

Modul yang telah direkayasa sebelumnya juga diklaim dapat memangkas waktu pengembangan proyek hingga dua tahun.

Namun, kedua angka tersebut masih berasal dari perhitungan perusahaan.

PIVOT belum beroperasi sebagai fasilitas komersial berskala penuh. Artinya, penghematan biaya lebih dari 50% belum dapat diperlakukan sebagai hasil yang telah teruji di pasar.

Lydian saat ini baru mengoperasikan fasilitas percontohan berskala ton di pusat risetnya di Boston.

Perusahaan menargetkan fasilitas demonstrasi komersial mulai beroperasi pada 2028. Proyek komersial berskala penuh pertama diperkirakan baru menyusul pada 2030.

Jarak antara pabrik percontohan dan produksi komersial itulah yang akan menentukan apakah PIVOT benar-benar dapat mengubah ekonomi SAF atau hanya menambah daftar teknologi menjanjikan yang sulit mencapai skala.

Fleksibel Mengikuti Listrik Terbarukan

Biaya listrik menjadi salah satu komponen penting dalam produksi bahan bakar sintetis.

Hidrogen harus diproduksi, antara lain melalui elektrolisis air. Karbon dioksida kemudian diproses bersama hidrogen menjadi molekul hidrokarbon yang dapat digunakan sebagai bahan bakar pesawat.

Semakin mahal listrik dan hidrogen yang digunakan, semakin mahal pula bahan bakar akhirnya.

Lydian merancang PIVOT agar dapat beroperasi secara fleksibel mengikuti ketersediaan listrik terbarukan.

Ketika pasokan tenaga surya atau angin melimpah dan harga listrik turun, produksi dapat ditingkatkan. Ketika pasokan terbatas atau harga naik, sistem dapat menurunkan aktivitasnya.

Baca juga: Maskapai Mulai Berebut SAF Sebelum Regulasi 2030 Berlaku

Fleksibilitas semacam ini berpotensi mengurangi ketergantungan pabrik pada listrik berharga tetap sekaligus menekan kebutuhan penyimpanan energi.

Tetapi manfaat tersebut sangat bergantung pada lokasi.

Pabrik yang berada di wilayah dengan listrik terbarukan murah, jaringan yang fleksibel, serta pasokan hidrogen rendah karbon akan memiliki peluang ekonomi lebih baik. Sebaliknya, teknologi yang sama dapat menghasilkan biaya dan jejak emisi lebih tinggi apabila dijalankan menggunakan listrik yang masih didominasi bahan bakar fosil.

Karena itu, istilah bahan bakar sintetis tidak otomatis berarti rendah karbon.

Sumber listrik, cara menghasilkan hidrogen, asal karbon dioksida, proses produksi, hingga pengangkutan bahan bakar harus dihitung sepanjang siklus hidupnya.

Grafis: Daffa Attarikh/ SustainReview

Lydian menyatakan bahan bakarnya dapat menurunkan emisi gas rumah kaca sepanjang siklus hidup hingga 95% dibandingkan avtur konvensional.

Sekali lagi, kata pentingnya adalah hingga.

Besarnya penurunan emisi akan ditentukan oleh konfigurasi energi dan bahan baku pada setiap proyek, bukan semata-mata oleh nama teknologinya.

Maskapai Mulai Membiayai Pasokannya Sendiri

Masuknya oneworld BEV Fund memperlihatkan perubahan lain dalam industri penerbangan.

Maskapai tidak lagi hanya menunggu produsen energi menyediakan SAF. Mereka mulai ikut membiayai teknologi yang diharapkan dapat memperbesar pasokan dan menurunkan harga bahan bakar tersebut.

Oneworld BEV Fund dibentuk untuk mendukung teknologi SAF generasi berikutnya, mengembangkan pasar bahan bakar alternatif, dan menciptakan rantai pasok yang lebih beragam.

Bagi maskapai, investasi semacam ini bukan hanya agenda lingkungan.

Persediaan SAF yang terbatas dapat menjadi risiko bisnis ketika kewajiban pencampuran, harga karbon, dan standar emisi penerbangan semakin berkembang.

Tanpa tambahan produksi, permintaan yang naik dapat mendorong harga semakin tinggi.

Kondisi pasar saat ini menunjukkan besarnya persoalan itu. Produksi SAF global meningkat dari sekitar 1 juta ton pada 2024 menjadi 1,9 juta ton pada 2025. Namun, pertumbuhannya diperkirakan melambat pada 2026, ketika produksi hanya bertambah menjadi sekitar 2,4 juta ton.

Dengan pangsa hanya 0,8%, industri penerbangan tidak sedang menghadapi kekurangan komitmen. Ia menghadapi kekurangan pabrik, bahan baku, energi bersih, pembiayaan, dan pembeli yang bersedia menanggung selisih harga.

Membuka Jalur di Luar Biofuel

Sebagian besar SAF yang tersedia saat ini masih diproduksi dari minyak nabati, limbah lemak, dan minyak jelantah melalui jalur hydroprocessed esters and fatty acids atau HEFA.

Teknologi tersebut lebih matang dibandingkan banyak jalur SAF lainnya. Namun, pasokannya dibatasi oleh ketersediaan bahan baku berkelanjutan.

Bahan bakar sintetis menawarkan jalur berbeda.

Produksinya tidak harus bergantung pada minyak jelantah atau tanaman energi. Bahan baku utamanya berupa karbon dioksida, hidrogen, dan listrik.

Baca juga: Pasar SAF Tak Lagi Ditentukan Target Emisi, tetapi Jaminan Negara

Secara teori, pendekatan itu dapat memperluas pasokan SAF tanpa meningkatkan persaingan terhadap lahan dan biomassa.

Namun, keterbatasannya berpindah.

Jika biofuel menghadapi persoalan bahan baku, e-fuel menghadapi kebutuhan listrik terbarukan dan hidrogen dalam jumlah besar.

Dengan demikian, bahan bakar sintetis bukan pengganti tunggal bagi SAF berbasis biologis. Keduanya kemungkinan akan berkembang sebagai jalur yang saling melengkapi, bergantung pada sumber daya dan kondisi ekonomi setiap negara.

Apa Artinya bagi Indonesia?

Indonesia telah mulai membangun jalur SAF berbasis minyak jelantah.

Unit pengolahan Pertamina di Cilacap memiliki fasilitas yang dapat memproses sekitar 6.000 barel minyak jelantah per hari. Produksi bahan bakar terbarukan dari fasilitas tersebut, termasuk SAF dan hydrotreated vegetable oil, diperkirakan dapat mencapai sekitar 300.000 kiloliter per tahun.

Potensi tersebut penting. Namun, teknologi seperti PIVOT memperlihatkan bahwa peta SAF global tidak akan hanya ditentukan oleh negara yang memiliki biomassa.

Negara dengan listrik terbarukan murah, hidrogen rendah karbon, sumber karbon yang dapat dipertanggungjawabkan, serta kepastian pembeli juga dapat menjadi pusat produksi bahan bakar penerbangan.

Bagi Indonesia, perkembangan ini belum berarti pabrik avtur sintetis harus segera dibangun.

Teknologinya masih menuju tahap demonstrasi. Struktur biayanya belum terbukti pada skala penuh. Kebutuhan listrik dan hidrogennya juga harus dihitung secara hati-hati.

Namun, strategi SAF nasional perlu cukup terbuka untuk mengantisipasi lebih dari satu jalur teknologi.

Ketergantungan pada satu jenis bahan baku dapat menciptakan keterbatasan baru ketika permintaan meningkat. Sebaliknya, portofolio yang memadukan biofuel, limbah, bahan bakar sintetis, dan teknologi lain dapat memperkuat ketahanan pasokan.

Baca juga: Eropa Industrialisasi SAF, Indonesia Perlu Membaca Arah

Pendanaan US$43 juta kepada Lydian belum mengubah industri penerbangan.

Ia bahkan belum membuktikan bahwa avtur sintetis dapat bersaing dengan biofuel atau avtur fosil.

Namun, investasi tersebut memperlihatkan ke mana perhatian industri mulai bergerak.

Persoalan penerbangan rendah karbon bukan lagi sebatas menemukan bahan bakar yang dapat digunakan pesawat.

Tantangannya adalah membangun bahan bakar itu dalam jumlah besar, dengan emisi yang benar-benar lebih rendah, pada harga yang masih dapat ditanggung maskapai.

PIVOT menawarkan satu kemungkinan jawabannya.

Pembuktian sesungguhnya baru akan dimulai ketika modul-modul itu keluar dari fasilitas percontohan dan memasuki pabrik komersial. ***

  • Foto: Tuan Vy Spotter/ Pexels – Pesawat bersiap mendarat di kawasan bandara. Teknologi pabrik modular dikembangkan untuk menekan biaya produksi avtur sintetis dan memperbesar pasokan bahan bakar rendah karbon bagi penerbangan.
Bagikan