Pasar SAF Tak Lagi Ditentukan Target Emisi, tetapi Jaminan Negara

TARGET emisi ternyata tidak otomatis melahirkan industri bahan bakar hijau. Di tengah mahalnya biaya produksi dan minimnya kontrak jangka panjang, negara mulai kembali mengambil peran besar dalam pembangunan ekosistem SAF dan e-SAF global.

Swedia dan Uzbekistan menjadi dua contoh terbaru.

Keduanya datang dari latar ekonomi berbeda. Namun arah kebijakannya sama. Transisi energi tidak akan bergerak cepat tanpa campur tangan negara, jaminan pembiayaan, dan dukungan industrial policy yang agresif.

Bahan bakar penerbangan berkelanjutan atau Sustainable Aviation Fuel (SAF) adalah bahan bakar alternatif rendah emisi yang dirancang untuk mengurangi jejak karbon sektor aviasi dibanding avtur fosil konvensional.

Pasar SAF global kini tidak lagi hanya ditentukan target pengurangan emisi, tetapi oleh kemampuan negara menciptakan proyek yang bankable dan pasokan yang stabil.

Target Iklim Mulai Bertabrakan dengan Krisis Pasokan

Laporan terbaru pemerintah Swedia memperingatkan bahwa kapasitas produksi bahan bakar hijau Eropa berpotensi tidak mampu memenuhi target Uni Eropa mulai dekade 2030-an.

Risikonya bukan sekadar keterlambatan transisi energi. Ketergantungan impor juga dapat memicu gejolak harga dan kerentanan geopolitik baru bagi maskapai dan industri pelayaran Eropa.

Tekanan itu muncul ketika Uni Eropa mulai memperketat regulasi melalui skema ReFuelEU Aviation, FuelEU Maritime, dan perluasan EU Emissions Trading System (EU ETS).

Swedia menilai pasar tidak cukup cepat merespons.

Produsen membutuhkan kontrak pembelian jangka panjang hingga 10–15 tahun agar proyek dapat memperoleh pembiayaan. Namun maskapai dan operator pelayaran umumnya hanya berani membuat kontrak satu hingga dua tahun karena harga SAF masih mahal dan fluktuatif.

Baca juga: SAF Mulai Diproduksi Massal, Indonesia Siap Jadi Produsen atau Tetap Pasar?

Di titik inilah negara mulai masuk.

Pemerintah Swedia kini mendorong skema berbagi risiko, dukungan produksi, green credit guarantee, hingga mekanisme lelang untuk mempertemukan produsen dan pembeli SAF.

Laporan tersebut bahkan memperkirakan dukungan senilai SEK10 miliar dapat membantu produksi sekitar 140 ribu ton e-SAF untuk periode 2030–2039.

Implikasi kebijakannya jelas. Transisi bahan bakar hijau kini mulai bergeser dari sekadar target emisi menuju desain pembiayaan dan jaminan pasar.

SAF Mulai Jadi Arena Perebutan Industri Baru

Swedia melihat SAF bukan hanya agenda iklim, tetapi peluang industri strategis baru.

Negara Nordik itu merasa memiliki modal kuat berupa listrik rendah emisi, biomassa, karbon biogenik, dan sistem inovasi industri yang matang.

Pada 2024, porsi SAF di bandara Swedia mencapai 5,09 persen dari total bahan bakar penerbangan. Angka itu delapan kali lebih tinggi dibanding rata-rata Uni Eropa.

Data tersebut menjadi sinyal penting.

Baca juga: SAF Indonesia: Produksi Dimulai, Pasar Belum Terbentuk

Perang baru transisi energi global kini bukan lagi hanya soal siapa paling hijau, tetapi siapa paling siap membangun kapasitas produksi domestik.

Fenomena serupa juga mulai muncul di Asia Tengah.

Uzbekistan Airports dan Allied Biofuels menandatangani nota kesepahaman pengembangan SAF dan electro-synthetic SAF atau e-SAF yang ditargetkan mulai berjalan pada 2030.

Grafis: Daffa Attarikh/ SustainReview.

e-SAF adalah bahan bakar penerbangan sintetis berbasis hidrogen hijau dan energi terbarukan yang diproduksi tanpa bahan baku fosil konvensional.

Proyek itu sangat besar untuk ukuran kawasan Asia Tengah.

Nilai investasinya diperkirakan mencapai US$6,1 miliar dengan kapasitas produksi sekitar 160.400 ton SAF dan 257.000 ton e-SAF per tahun.

Baca juga: Limbah Sawit Jadi SAF, Tata Kelola Menentukan Arah Indonesia

Fasilitas tersebut juga akan ditopang sistem energi terbarukan 4,45 GW, baterai penyimpanan energi 1.600 MWh, serta elektroliser hidrogen hijau 2,4 GW.

Artinya, proyek SAF kini tidak lagi berdiri sendiri. Ia mulai terhubung dengan rantai industri baru mulai dari energi terbarukan, hidrogen hijau, baterai, hingga logistik energi.

Bandara Kini Masuk Arena Transisi Energi

Kasus Uzbekistan juga memperlihatkan perubahan peran infrastruktur aviasi global.

Bandara tidak lagi hanya menjadi titik mobilitas penumpang dan logistik. Mereka mulai berubah menjadi simpul transisi energi.

Uzbekistan Airports ikut masuk ke dalam strategi pengembangan pasokan bahan bakar hijau nasional karena akses bahan bakar akan menentukan daya saing penerbangan masa depan.

Baca juga: Paul Charles: Industri Perjalanan Harus Berevolusi Menuju Langit yang Lebih Hijau

Implikasinya sangat besar bagi industri penerbangan global.

Maskapai, operator bandara, produsen energi, dan pemerintah kini mulai berada dalam satu rantai kebijakan yang sama.

Model ini diperkirakan akan makin banyak muncul ketika negara-negara berlomba menjadi pemasok bahan bakar hijau regional.

Indonesia Belum Masuk Fase Agresif

Indonesia sebenarnya memiliki modal besar.

Mulai dari biomassa, residu sawit, pasar aviasi domestik, hingga potensi energi terbarukan untuk mendukung produksi SAF dan e-SAF.

Namun hingga kini, Indonesia belum terlihat memiliki desain industrial policy SAF seagresif Swedia.

Belum ada skema risk-sharing khusus SAF. Belum ada green guarantee khusus proyek bahan bakar penerbangan hijau. Dan belum terlihat roadmap kuat untuk menjadikan Indonesia sebagai hub SAF regional Asia Tenggara.

Padahal, perebutan rantai pasok bahan bakar hijau global sudah mulai berlangsung.

Baca juga: Maskapai Dunia Patungan 150 Juta Dolar untuk Bahan Bakar Penerbangan Hijau

Jika tren ini terus berlanjut, negara yang lebih cepat membangun ekosistem pembiayaan, regulasi, dan kapasitas produksi kemungkinan akan menguasai pasar transisi energi berikutnya.

Pada akhirnya, pasar bahan bakar hijau global mulai memberi satu pelajaran penting, target iklim tidak otomatis menciptakan industri. Negara tetap menjadi aktor utama yang menentukan siapa memimpin ekonomi rendah karbon generasi berikutnya. ***

  • Foto:  Soumya Ranjan / PexelsPesawat berada di apron bandara di tengah meningkatnya dorongan global membangun ekosistem bahan bakar penerbangan hijau. Negara mulai masuk lewat pembiayaan, jaminan risiko, dan dukungan industri untuk mempercepat pengembangan SAF dan e-SAF.
Bagikan