KRISIS panas di ASEAN mungkin tidak akan dirasakan secara setara. Di kota-kota yang makin panas, udara sejuk perlahan berubah menjadi privilese baru perkotaan.
ASEAN Center for Energy (ACE) memperingatkan kota-kota besar di Asia Tenggara akan menghadapi lonjakan suhu ekstrem dalam beberapa dekade ke depan. Namun di balik ancaman itu, muncul persoalan lain yang mulai jarang dibahas, siapa yang mampu bertahan dari panas, dan siapa yang paling rentan menanggung dampaknya.
Secara sederhana, thermal inequality atau ketimpangan termal adalah kondisi ketika akses terhadap suhu ruang yang aman dan nyaman tidak dimiliki secara setara oleh seluruh masyarakat.
Kelompok miskin perkotaan berisiko menjadi pihak paling terdampak dalam era panas ekstrem ASEAN.
Kota Panas, Risiko Tak Merata
Dokumen Roadmap for Extreme Heat Protection through Passive Cooling in ASEAN Region menyebut kelompok rentan seperti masyarakat berpenghasilan rendah, pekerja informal, lansia, anak-anak, dan perempuan menghadapi risiko panas yang jauh lebih besar dibanding kelompok ekonomi atas.
Penyebabnya bukan hanya suhu.
Kelompok rentan umumnya tinggal di lingkungan padat dengan ventilasi buruk, minim ruang hijau, dan kualitas bangunan yang tidak dirancang menghadapi panas ekstrem.
Sebagian besar juga memiliki keterbatasan akses terhadap pendinginan mekanis seperti AC karena faktor biaya listrik dan kondisi ekonomi.
Baca juga: Kota ASEAN Mulai Kehilangan Kemampuan untuk Tetap Sejuk
Dalam situasi seperti itu, panas tidak lagi hanya menjadi isu cuaca, tetapi mulai berubah menjadi tekanan kualitas hidup.
ACE memperkirakan kota-kota ASEAN dapat mengalami 85–120 hari panas ekstrem dengan suhu di atas 35°C pada 2050. Jakarta sendiri diproyeksikan menghadapi hingga 95 hari panas ekstrem per tahun.
Artinya, kelompok rentan perkotaan berpotensi menghadapi paparan panas jauh lebih lama dibanding hari ini.
Udara Sejuk Jadi Komoditas
Panas ekstrem juga mulai memperlihatkan jurang adaptasi di kota-kota ASEAN.
Kelompok mampu cenderung memiliki:
- bangunan dengan pendinginan lebih baik,
- akses listrik stabil,
- ruang hijau,
- hingga kemampuan membayar biaya energi yang terus meningkat.
Baca juga:Â AC, AI, dan Krisis Daya Menguji Ketahanan Energi Asia Tenggara
Sebaliknya, kelompok ekonomi bawah lebih sering tinggal di kawasan dengan kepadatan tinggi dan kualitas termal rendah.

Dalam jangka panjang, kondisi itu dapat melahirkan cooling poverty atau kemiskinan pendinginan.
Secara sederhana, cooling poverty adalah kondisi ketika masyarakat tidak mampu mengakses pendinginan yang aman dan memadai untuk melindungi kesehatan dan produktivitasnya.
Baca juga: AC Mulai Menjadi Ancaman Energi ASEAN
Fenomena ini mulai menjadi perhatian global karena suhu ekstrem tidak hanya berdampak pada kenyamanan, tetapi juga kesehatan fisik, produktivitas kerja, hingga risiko kematian akibat panas.
ACE menyebut panas ekstrem dapat meningkatkan tekanan kesehatan masyarakat dan menurunkan produktivitas ekonomi kawasan.
Kota Tropis dan Keadilan Termal
Laporan ACE juga menekankan pentingnya thermal equity atau keadilan termal dalam kebijakan kota masa depan.
Artinya, kota tidak cukup hanya membangun gedung dan infrastruktur baru, tetapi juga harus memastikan seluruh warga memiliki akses terhadap lingkungan yang tetap layak dihuni di tengah kenaikan suhu.
Di titik ini, pendinginan mulai bergeser dari isu kenyamanan menjadi bagian dari kebijakan sosial dan kesehatan publik.
Baca juga:Â Ketimpangan Iklim, Indonesia Menanggung Panas yang Tak Diciptakannya
Karena itu, ACE mendorong strategi passive cooling seperti ventilasi alami, ruang hijau, peneduh, material reflektif, hingga desain bangunan tropis sebagai bagian penting adaptasi kota.
Strategi tersebut dinilai lebih terjangkau dan dapat membantu kelompok rentan mengurangi ketergantungan pada pendinginan mekanis yang mahal.
ACE memperkirakan pendekatan pendinginan pasif dapat menekan kebutuhan pendinginan mekanis hingga 24 persen pada 2050 dan mengurangi emisi setara 1,3 miliar ton CO2e.
Masa Depan Kota ASEAN
Dokumen ini memberi satu sinyal penting bagi pemerintah kawasan, krisis panas bukan hanya persoalan lingkungan, tetapi juga isu ketimpangan perkotaan.
Semakin panas kota ASEAN, semakin besar risiko munculnya jurang baru antara mereka yang mampu membeli kenyamanan termal dan mereka yang harus bertahan dalam ruang hidup yang makin panas.
Baca juga:Â Sinyal Krisis Iklim, Indonesia Hadapi Cuaca Ekstrem hingga 2100
Di masa depan, ukuran kota yang layak dihuni mungkin bukan lagi hanya soal transportasi atau gedung tinggi.
Tetapi juga tentang siapa yang masih bisa tidur nyaman ketika suhu malam terus meningkat. ***
- Foto: Tuan Vy/ Pexels – Warga beristirahat di ruang terbuka hijau perkotaan. Di tengah kenaikan suhu ekstrem, akses terhadap ruang sejuk mulai menjadi bagian penting kualitas hidup kota.


