PENDINGIN ruangan atau air conditioner (AC) selama ini dianggap penyelamat kota-kota tropis. Namun di tengah lonjakan suhu ekstrem di Asia Tenggara, perangkat pendingin itu mulai memunculkan persoalan baru, tekanan besar terhadap sistem energi kawasan.
ASEAN Center for Energy (ACE) memperingatkan kebutuhan pendinginan di kawasan ASEAN akan melonjak tajam seiring meningkatnya suhu dan urbanisasi. Dalam jangka panjang, kondisi ini berpotensi memperbesar konsumsi listrik, emisi karbon, hingga risiko tekanan terhadap jaringan energi perkotaan.
Secara sederhana, cooling demand atau permintaan pendinginan adalah kebutuhan energi untuk menjaga suhu ruang tetap nyaman melalui sistem pendinginan seperti AC, kipas, atau teknologi pendingin lainnya.
Semakin panas kota ASEAN, semakin besar konsumsi listrik untuk pendinginan, dan itu mulai menjadi tantangan serius bagi ketahanan energi kawasan.
Kota Panas, Listrik Melonjak
ASEAN menghadapi kombinasi yang sulit dihindari. Suhu meningkat, populasi urban tumbuh, dan penggunaan pendingin ruangan terus naik.
ACE mencatat sektor pendinginan menjadi salah satu pendorong pertumbuhan konsumsi listrik tercepat di kawasan. Permintaan listrik untuk space cooling diproyeksikan mencapai 300 TWh pada 2040, setara gabungan konsumsi listrik Indonesia dan Singapura saat ini.
Lonjakan tersebut terjadi ketika kota-kota besar ASEAN bergerak menuju era panas ekstrem.
Baca juga: Kota ASEAN Mulai Kehilangan Kemampuan untuk Tetap Sejuk
Bangkok diproyeksikan mengalami hingga 120 hari dengan suhu di atas 35°C pada 2050. Jakarta diperkirakan mencapai 95 hari panas ekstrem per tahun.
Dalam kondisi seperti itu, AC perlahan berubah dari perangkat tambahan menjadi kebutuhan dasar perkotaan.
Semakin tinggi suhu, semakin lama AC digunakan. Semakin banyak AC menyala, semakin besar beban listrik kota.
Lingkaran Pendinginan
Di sinilah paradoks mulai muncul.
Sebagian besar negara ASEAN masih bergantung pada energi fosil untuk memasok listrik. Artinya, peningkatan penggunaan AC justru mendorong emisi gas rumah kaca lebih tinggi.
Situasi ini menciptakan lingkaran yang sulit diputus. Panas meningkatkan penggunaan pendinginan, pendinginan meningkatkan konsumsi energi, dan konsumsi energi berbasis fosil mempercepat pemanasan global.
Baca juga: AC, AI, dan Krisis Daya Menguji Ketahanan Energi Asia Tenggara
ASEAN Center for Energy menyebut pendekatan pendinginan konvensional tidak lagi cukup untuk menghadapi krisis panas jangka panjang.

Jika tidak diantisipasi, tekanan pendinginan massal dapat memicu:
- lonjakan beban puncak listrik perkotaan,
- kebutuhan pembangkit baru,
- biaya energi yang lebih mahal,
- hingga risiko tekanan terhadap stabilitas grid.
Dalam konteks ini, panas ekstrem bukan lagi sekadar isu lingkungan. Tapi, mulai masuk ke wilayah keamanan energi.
Pendinginan Jadi Isu Ketahanan Kota
Dokumen ACE menunjukkan pendinginan kini bergerak menjadi isu strategis perkotaan di ASEAN.
Kota-kota tropis tidak hanya dituntut tumbuh cepat, tetapi juga harus mampu menjaga suhu tetap layak dihuni tanpa membebani sistem energi secara berlebihan.
Karena itu, ACE mendorong pendekatan Passive First.
Pendekatan ini menempatkan desain bangunan sebagai garis pertahanan utama terhadap panas sebelum menggunakan pendinginan mekanis seperti AC.
Baca juga: Indonesia Kekurangan Bangunan Hijau, Mengapa Investasi dan Kebijakan Belum Sinkron?
Secara sederhana, passive cooling adalah strategi pendinginan bangunan yang memanfaatkan ventilasi alami, peneduh, material reflektif, ruang hijau, dan desain arsitektur untuk mengurangi panas tanpa konsumsi energi besar.
ACE memperkirakan strategi pendinginan pasif dapat menekan kebutuhan pendinginan mekanis hingga 24 persen pada 2050. Pendekatan tersebut juga berpotensi menghemat biaya peralatan hingga US$3 triliun dan mengurangi emisi setara 1,3 miliar ton CO2e.
Masa Depan Kota Tropis
Laporan ini memberi sinyal bahwa masa depan kota ASEAN tidak lagi cukup dibangun dengan logika ekspansi ekonomi semata.
Desain bangunan, ruang hijau, ventilasi kota, material konstruksi, hingga efisiensi pendinginan mulai menjadi bagian dari strategi ketahanan energi.
Baca juga: Sejuk Tanpa AC, Solusi Bangunan Hemat Energi untuk Kota-kota Indonesia
Artinya, pertarungan menghadapi krisis iklim di ASEAN mungkin tidak hanya terjadi di sektor pembangkit listrik atau konferensi iklim global, tetapi juga di cara kota-kota tropis mengelola panasnya sendiri.
Di titik itu, AC bukan lagi sekadar perangkat rumah tangga.
AC telah berubah menjadi indikator baru tentang seberapa siap kota menghadapi masa depan yang lebih panas.
- Foto: Shuaizhi Tian/ Pexels – Deretan unit pendingin ruangan di bangunan hunian perkotaan. Kebutuhan pendinginan di ASEAN diproyeksikan terus meningkat seiring lonjakan suhu dan urbanisasi.


