KRISIS iklim di ASEAN mulai berubah bentuk. Bukan lagi hanya soal banjir, emisi, atau cuaca ekstrem sesaat. Kota-kota besar di Asia Tenggara kini menghadapi ancaman yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari, panas yang makin sulit ditoleransi.
ASEAN Center for Energy (ACE) memperkirakan kota-kota besar di kawasan ini akan mengalami 85–120 hari panas ekstrem dengan suhu di atas 35°C pada 2050. Jumlah itu melonjak tajam dibanding kondisi saat ini yang masih berada di kisaran 25–45 hari per tahun.
Bangkok diproyeksikan menjadi salah satu kota paling terdampak, dengan 120 hari panas ekstrem per tahun pada 2050. Jakarta juga bergerak ke arah yang sama. Jumlah hari dengan suhu di atas 35°C diperkirakan meningkat menjadi 95 hari per tahun, hampir tiga kali lipat dibanding kondisi saat ini.
Ini bukan lagi sekadar isu cuaca.
Baca juga: Panas Ekstrem Dorong Sistem Pangan ke Titik Kritis, Risiko Sistemik Kian Nyata
Panas ekstrem mulai masuk ke wilayah produktivitas ekonomi, kesehatan publik, desain kota, hingga keamanan energi.
ASEAN Center for Energy dalam laporan Roadmap for Extreme Heat Protection through Passive Cooling in ASEAN Region menyebut kawasan Asia Tenggara menghadapi risiko panas yang meningkat akibat urbanisasi cepat, perubahan iklim, dan lonjakan permintaan energi.
Kota Tropis yang Memanas
Panas di ASEAN tidak hanya berasal dari perubahan iklim global. Kota-kota besar di kawasan ini juga menghasilkan panasnya sendiri.
Fenomena urban heat island atau pulau panas perkotaan membuat suhu di kawasan urban jauh lebih tinggi dibanding wilayah sekitarnya. Beton, aspal, gedung padat, minim ruang hijau, serta sirkulasi udara yang buruk membuat kota menyimpan panas lebih lama.
Data ACE menunjukkan intensitas urban heat island Jakarta mencapai 6,2°C pada siang hari dan 8,7°C pada malam hari. Manila bahkan hanya memiliki tutupan hijau sekitar 5,1 persen, sementara Bangkok berada di kisaran 6,8 persen.
Baca juga: Mutirão Global Lawan Gelombang Panas, Kota Jadi Garda Depan Adaptasi Iklim Dunia
Artinya, sebagian kota di ASEAN tidak lagi hanya menjadi pusat aktivitas ekonomi, tetapi juga berubah menjadi “mesin panas” raksasa.
Kondisi ini diperparah oleh pola urbanisasi kawasan. ACE memperkirakan populasi urban ASEAN akan meningkat dari 348 juta jiwa pada 2022 menjadi 521 juta jiwa pada 2050.
Semakin padat kota tumbuh, semakin besar kebutuhan pendinginan.
AC Tak Lagi Cukup
Selama bertahun-tahun, pendingin ruangan atau AC dianggap solusi paling praktis menghadapi panas kota tropis. Namun, pendekatan itu mulai dipandang problematik.
Semakin panas suhu kota, semakin tinggi konsumsi listrik untuk pendinginan. Di negara-negara ASEAN yang masih bergantung pada energi fosil, lonjakan penggunaan AC justru memperbesar emisi karbon dan memperparah pemanasan global.

ASEAN Center for Energy menyebut pendinginan mekanis tidak bisa lagi menjadi satu-satunya jawaban.
Karena itu, laporan tersebut mendorong filosofi baru bernama Passive First. Pendekatan ini menempatkan desain bangunan sebagai garis pertahanan utama terhadap panas. Bangunan didorong memanfaatkan ventilasi alami, peneduh, material reflektif, insulasi termal, atap sejuk, hingga ruang hijau sebelum bergantung pada AC.
Secara sederhana, passive cooling adalah pendekatan pendinginan bangunan yang memanfaatkan desain arsitektur dan elemen alami untuk menurunkan suhu tanpa konsumsi energi besar.
ASEAN menilai strategi ini bisa menjadi jalan tengah antara kebutuhan pendinginan dan target penurunan emisi.
Ketimpangan Baru Bernama Udara Sejuk
Laporan ACE juga menunjukkan panas ekstrem akan memperbesar ketimpangan sosial di kota-kota ASEAN.
Kelompok paling rentan umumnya berasal dari masyarakat berpenghasilan rendah, pekerja informal, lansia, anak-anak, hingga warga yang tinggal di permukiman padat dengan ventilasi buruk dan akses ruang hijau terbatas.
Dalam situasi seperti itu, udara sejuk perlahan berubah menjadi komoditas.
Baca juga: Ketimpangan Iklim, Indonesia Menanggung Panas yang Tak Diciptakannya
Mereka yang mampu membeli pendinginan akan lebih terlindungi. Sementara kelompok rentan menghadapi risiko kesehatan, penurunan produktivitas, hingga tekanan ekonomi akibat biaya listrik yang meningkat.
ACE menyebut pendekatan pendinginan pasif dan solusi berbasis alam dapat memangkas kebutuhan pendinginan mekanis hingga 24 persen pada 2050. Strategi tersebut juga berpotensi menghemat biaya peralatan hingga US$3 triliun dan mengurangi emisi setara 1,3 miliar ton CO2e.
Kota Sejuk Jadi Infrastruktur Baru
Dokumen ACE sebenarnya mengirim satu pesan besar kepada pemerintah kawasan. Masa depan kota tropis tidak bisa lagi dibangun dengan paradigma lama.
Kota tidak cukup hanya tumbuh cepat. Kota juga harus mampu tetap layak dihuni saat suhu terus meningkat.
Artinya, isu pendinginan akan semakin masuk ke kebijakan tata kota, standar bangunan, desain perumahan, transisi energi, hingga strategi investasi hijau.
Baca juga: Sinyal Krisis Iklim, Indonesia Hadapi Cuaca Ekstrem hingga 2100
Di titik ini, pendinginan bukan lagi sekadar urusan kenyamanan.
Pendinginan mulai menjadi bagian dari strategi ketahanan kota.
Dan bagi ASEAN, pertarungan menghadapi krisis iklim mungkin tidak lagi hanya terjadi di pembangkit listrik atau konferensi iklim global, tetapi juga di trotoar kota, atap bangunan, ventilasi rumah, dan jumlah pohon yang tersisa di kawasan urban. ***
- Foto: Tom Fisk/ Pexels – Lanskap kawasan bisnis Jakarta. Urbanisasi padat dan minim ruang hijau memperbesar risiko panas ekstrem di kota-kota besar ASEAN.


