Panas Ekstrem Dorong Sistem Pangan ke Titik Kritis, Risiko Sistemik Kian Nyata

SISTEM pangan global memasuki fase tekanan baru akibat meningkatnya panas ekstrem. Panas ekstrem kini bukan sekadar risiko iklim, tetapi telah menjadi faktor sistemik yang menurunkan produksi pangan, melemahkan tenaga kerja, dan memperbesar kerentanan ekonomi global.

Laporan bersama Food and Agriculture Organization (FAO) dan World Meteorological Organization (UN agency) menegaskan bahwa gelombang panas yang lebih sering dan intens telah memengaruhi hampir seluruh rantai produksi pangan, dari lahan hingga distribusi. Tekanan ini diperkirakan akan terus meningkat seiring tren kenaikan suhu global.

Panas ekstrem adalah kondisi suhu tinggi yang berlangsung lama, baik siang maupun malam, yang melampaui ambang toleransi biologis tanaman, hewan, dan manusia.
Sistem pangan adalah jaringan produksi, distribusi, dan konsumsi pangan yang saling terhubung dan sangat sensitif terhadap perubahan iklim.

Tekanan Produksi dan Produktivitas

Data FAO–WMO menunjukkan panas ekstrem telah menyebabkan hilangnya sekitar 500 miliar jam kerja per tahun secara global. Dampaknya langsung menekan produktivitas sektor pertanian.

Untuk banyak komoditas utama, suhu di atas 30°C sudah cukup untuk menurunkan hasil panen. Struktur tanaman melemah dan proses fisiologis terganggu. Produktivitas menurun secara konsisten.

Baca juga: Ketimpangan Iklim, Indonesia Menanggung Panas yang Tak Diciptakannya

Dampak juga meluas ke sektor peternakan dan perikanan. Ternak mengalami tekanan panas yang menghambat pertumbuhan dan menurunkan produksi susu. Dalam kondisi ekstrem, risiko kematian meningkat. Di laut, kenaikan suhu menurunkan kadar oksigen, menekan populasi ikan, dan mengganggu rantai pasok pangan laut.

Sekretaris Jenderal WMO, Celeste Saulo, menegaskan bahwa panas ekstrem kini semakin menentukan cara sistem pangan dan pertanian beroperasi. Ini menandai pergeseran penting. Variabilitas iklim telah menjadi faktor penentu output produksi, bukan lagi sekadar variabel eksternal.

Efek Berantai Risiko Iklim

Panas ekstrem bekerja sebagai pengganda risiko. Panas ini Tidak berdiri sendiri, tetapi memperburuk tekanan yang sudah ada dalam sistem pangan.

Baca juga: Laut Memanas, Darat Membara: Risiko Heatwave Indonesia Naik

Direktur Jenderal FAO, Qu Dongyu, menyebut panas ekstrem sebagai “faktor pelipat ganda risiko yang besar.” Dalam praktiknya, satu kejadian panas dapat memicu kekeringan, mempercepat penyebaran hama, dan meningkatkan risiko kebakaran hutan dalam waktu bersamaan.

Grafis: Daffa Attarikh/ SustainReview.

Contoh empiris memperlihatkan skala dampaknya. Gelombang panas di Kirgistan pada 2025 menaikkan suhu hingga sekitar 10°C di atas normal dan menurunkan panen gandum hingga 25%. Di Brasil, kombinasi panas dan kekeringan pada 2023–2024 memangkas hasil kedelai hingga 20%.

Baca juga: 2024 Tahun Terpanas dalam Sejarah, Krisis Iklim Makin Nyata

Secara global, 91% wilayah laut mengalami setidaknya satu gelombang panas laut pada 2024, memperlihatkan bahwa tekanan tidak hanya terjadi di darat, tetapi juga pada sistem pangan berbasis laut.

Implikasi Tenaga Kerja dan Kebijakan

Dampak panas ekstrem terhadap tenaga kerja menjadi isu struktural baru. Di beberapa wilayah Asia Selatan, Afrika sub-Sahara, dan Amerika Latin, jumlah hari yang terlalu panas untuk bekerja diproyeksikan dapat mencapai hingga 250 hari per tahun.

Artinya, risiko tidak hanya terjadi pada produksi, tetapi juga pada kapasitas tenaga kerja untuk mempertahankan produksi tersebut.

Langkah adaptasi menjadi kebutuhan mendesak. Penggunaan varietas tanaman tahan panas, penyesuaian kalender tanam, serta penguatan sistem peringatan dini perlu dipercepat. Pada saat yang sama, akses terhadap instrumen keuangan seperti asuransi pertanian dan perlindungan sosial harus diperluas untuk menjaga stabilitas pendapatan petani.

Baca juga: Kematian Iklim Tak Merata, Adaptasi Menentukan Siapa Bertahan

Pemerintah perlu mengintegrasikan adaptasi iklim ke dalam kebijakan pangan, tenaga kerja, dan perlindungan sosial secara simultan, bukan sektoral.

Namun, laporan tersebut menegaskan bahwa adaptasi saja tidak cukup. Transisi menuju sistem pangan rendah emisi menjadi prasyarat untuk menjaga stabilitas jangka panjang.

Arah Sistem Pangan ke Depan

Lebih dari satu miliar orang kini berada dalam kondisi rentan akibat meningkatnya frekuensi dan intensitas panas ekstrem. Ini menunjukkan bahwa sistem pangan global sedang menghadapi tekanan struktural yang tidak bisa diselesaikan dengan pendekatan konvensional.

Baca juga: Sepertiga Pemanasan Global Berasal dari 14 Raksasa Energi

Tanpa integrasi kebijakan antara adaptasi dan mitigasi, panas ekstrem berpotensi mengganggu stabilitas pangan secara sistemik, termasuk di negara berkembang seperti Indonesia. ***

  • Foto: Phúc Phạm/ Pexels Petani bekerja di tengah lahan kering akibat suhu tinggi. Panas ekstrem kini menekan produksi pangan sekaligus kapasitas tenaga kerja di sektor pertanian.
Bagikan