EV Turunkan Polusi, Truk Diesel Masih Jadi PR

EV atau kendaraan listrik adalah kendaraan yang menggunakan motor listrik sebagai penggerak utama, baik sepenuhnya maupun sebagian melalui sistem plug-in hybrid. Dalam kebijakan udara bersih, EV bukan hanya instrumen transisi energi, tetapi juga alat pengendalian polusi perkotaan dan risiko kesehatan publik.

Transisi kendaraan listrik sering dibaca dari sisi industri. Pemerintah memberi insentif. Produsen mengejar pasar. Konsumen melihatnya sebagai teknologi baru. Namun, di balik seluruh narasi itu, ada pertanyaan yang lebih mendasar. Apakah kendaraan listrik benar-benar membuat udara kota lebih bersih?

Sebuah studi baru di jurnal Nature Health memberi jawaban yang lebih kuat. Studi berjudul Reduced urban air pollution and mortality from the transition to new energy vehicles in China membaca dampak kendaraan energi baru atau new energy vehicles di China sepanjang 2013–2023.

Riset ini penting karena tidak hanya bertumpu pada model emisi. Dipimpin tim Hong Kong Baptist University, studi tersebut menggabungkan pengamatan satelit, pengukuran lapangan, data kepemilikan kendaraan, dan explainable machine learning. Dengan pendekatan itu, manfaat kendaraan listrik dapat dibaca dari perubahan nyata di udara kota.

EV terbukti membantu menurunkan polusi udara kota, tetapi dampaknya belum cukup besar pada polutan dari kendaraan diesel berat.

Bukti dari China

China menjadi laboratorium besar transisi kendaraan listrik. Dalam satu dekade terakhir, negara itu tumbuh menjadi pasar kendaraan energi baru terbesar di dunia. Skala ini membuat dampak EV tidak lagi hanya terlihat di ruang pamer otomotif, tetapi juga dalam kualitas udara perkotaan.

Studi Nature Health menemukan, pada 2023 adopsi NEV berkaitan dengan penurunan PM2.5 sebesar 23,80 persen atau setara 8,97 mikrogram per meter kubik. Konsentrasi PM10 turun 15,06 persen, sementara karbon monoksida atau CO turun 30,67 persen.

Baca juga: Mobilitas Berkelanjutan Berpotensi Tekan Emisi Transportasi hingga 76%

Angka ini penting karena PM2.5 adalah partikel halus yang dapat masuk jauh ke saluran pernapasan. Dalam konteks kesehatan publik, penurunan PM2.5 bukan sekadar capaian lingkungan. Namun, berkaitan dengan risiko penyakit paru, gangguan jantung, dan kematian dini.

Riset tersebut memperkirakan transisi NEV di China berkontribusi pada pencegahan sekitar 262 ribu kematian terkait PM2.5 dan lebih dari 75 ribu kematian terkait CO.

Grafis: Daffa Attarikh/ SustainReview.

Diesel Masih Tertinggal

Namun, keberhasilan itu belum menutup seluruh persoalan. Penurunan nitrogen dioksida atau NO2 jauh lebih terbatas, hanya 7,92 persen. Ini menjadi sinyal bahwa elektrifikasi kendaraan penumpang tidak otomatis menyelesaikan semua sumber polusi transportasi.

NO2 banyak terkait dengan pembakaran bahan bakar, terutama dari kendaraan diesel. Di banyak kota, truk, bus, kendaraan niaga, dan armada logistik tetap menjadi penyumbang besar emisi NOx. Elektrifikasi segmen ini lebih lambat karena kendala biaya, jarak tempuh, beban angkut, baterai, dan infrastruktur pengisian daya.

Baca juga: Revisi Perda Udara Jadi Kunci Jakarta Atasi Polusi Aglomerasi

Di titik ini, studi China memberi pelajaran penting. Transisi kendaraan listrik yang terlalu bertumpu pada mobil pribadi dapat menghasilkan perbaikan udara, tetapi tetap menyisakan polusi dari tulang punggung mobilitas ekonomi kota.

Dengan kata lain, EV efektif. Namun, kebijakan EV yang sempit akan menghasilkan manfaat yang terbatas.

Pelajaran untuk Indonesia

Bagi Indonesia, pesan kebijakannya cukup terang. Transisi EV tidak cukup diperlakukan sebagai agenda industri otomotif, insentif pajak, atau simbol gaya hidup hijau. Sebaliknya, perlu ditempatkan sebagai bagian dari strategi udara bersih dan kesehatan publik perkotaan.

Jakarta, Surabaya, Bandung, Medan, dan kota besar lain menghadapi beban polusi dari kendaraan pribadi, angkutan umum, logistik, konstruksi, dan aktivitas industri. Jika insentif EV lebih banyak mengalir ke mobil pribadi, dampaknya terhadap udara kota berisiko tidak optimal.

Baca juga: EV Melaju Kencang, Listrik Indonesia Diuji dari Hulu

Prioritas kebijakan perlu diperluas. Elektrifikasi bus kota, angkutan umum, armada logistik, kendaraan operasional pemerintah, taksi, ojek daring, dan truk jarak pendek harus masuk lebih serius dalam desain insentif. Infrastruktur pengisian daya juga perlu diarahkan ke depo, terminal, pelabuhan, kawasan industri, dan koridor logistik.

China menunjukkan EV dapat memberi manfaat nyata bagi udara dan kesehatan warga. Namun, riset yang sama juga mengingatkan bahwa transisi bersih tidak boleh berhenti di kendaraan penumpang.

Bagi Indonesia, pertanyaan kebijakannya bukan lagi apakah EV penting. Pertanyaannya adalah segmen kendaraan mana yang harus lebih dulu dialihkan agar udara kota benar-benar berubah. ***

  • Foto: Dapur Melodi/ Pexels – Kemacetan kota menjadi ruang uji transisi transportasi bersih. EV terbukti menekan polusi, tetapi kendaraan diesel berat masih menjadi PR besar.
Bagikan