BOTOL plastik bekas selama ini lebih sering dilihat sebagai masalah. Menumpuk di sungai, memenuhi tempat pembuangan, dan menjadi simbol kegagalan manusia mengelola sampah sekali pakai.
Namun, riset terbaru Badan Riset dan Inovasi Nasional atau BRIN menunjukkan arah lain. Limbah botol plastik PET tidak hanya bisa dikumpulkan atau didaur ulang menjadi produk sederhana. Material itu juga dapat diproses menjadi membran filtrasi untuk membantu menjernihkan air sungai dan mengolah limbah cair.
Teknologi ini penting karena mempertemukan dua agenda besar dalam satu ruang. Pengurangan sampah plastik dan penyediaan air bersih.
Limbah botol plastik PET dapat naik kelas menjadi material penyaring air, sehingga ekonomi sirkular tidak berhenti pada daur ulang, tetapi masuk ke teknologi lingkungan.
Membran dan Air Bersih
Membran filtrasi adalah teknologi penyaringan yang menggunakan lapisan tipis berpori untuk memisahkan partikel, kotoran, atau zat tertentu dari air.
Membran filtrasi PET daur ulang adalah lapisan penyaring berbahan limbah botol plastik yang dirancang untuk membantu menjernihkan air dan mengurangi beban pencemaran.
Dalam keterangan yang dimuat di laman resmi BRIN, Peneliti Pusat Riset Sistem Nanoteknologi BRIN, Badrut Tamam Ibnu Ali, menjelaskan bahwa riset ini berangkat dari mahalnya membran komersial, baik berbahan keramik maupun polimer. Di sisi lain, limbah botol PET tersedia dalam jumlah besar dan banyak ditemukan di lingkungan.
Baca juga: Limbah Sawit Mulai Masuk Rantai Material Teknologi Energi
Pendekatan itu membuat riset ini tidak sekadar berbicara tentang teknologi laboratorium. Ada logika ekonomi sirkular di dalamnya. Sampah plastik diperlakukan sebagai bahan baku baru. Nilainya tidak berhenti pada pengumpulan, tetapi bergerak masuk ke rantai teknologi pengolahan air.
Proses pembuatannya dimulai dari botol PET bekas yang dihancurkan menjadi potongan kecil. Material ini kemudian dilarutkan dengan pelarut organik hingga membentuk larutan polimer. Setelah itu, larutan dicetak menggunakan metode phase inversion hingga menjadi lembaran membran berlapis.
Ketebalan membran yang dihasilkan sekitar 0,19 milimeter. Ukuran ini menunjukkan bahwa teknologi filtrasi tidak selalu membutuhkan perangkat besar. Lapisan tipis dapat bekerja sebagai batas selektif antara air kotor dan air yang lebih layak pakai.
Data Kinerja Filtrasi
Kekuatan riset ini terletak pada data kinerjanya.
BRIN menguji membran berbasis limbah PET untuk pengolahan air sungai yang semula belum memenuhi standar baku mutu air layak pakai berdasarkan Permenkes Nomor 32 Tahun 2017.
Sebelum filtrasi, tingkat kekeruhan air sungai mencapai 440 NTU. Setelah melewati membran, kekeruhan turun menjadi 1,42 NTU. Penurunan ini sangat signifikan karena standar baku mutu air layak pakai menetapkan kekeruhan maksimal 25 NTU.

Parameter lain juga menunjukkan perbaikan. TDS turun dari 506 ppm menjadi 374 ppm. TSS turun dari 793 ppm menjadi 37 ppm. COD turun dari 17,05 ppm menjadi 2,45 ppm. BOD turun dari 6,94 ppm menjadi 1,24 ppm.
Dengan hasil tersebut, air yang telah difiltrasi memenuhi indikator baku mutu air layak pakai untuk parameter yang diuji.
Baca juga: Baterai Bekas Bisa Jadi Tambang Baru Logam Kritis Indonesia
Riset ini juga diarahkan untuk pengolahan limbah industri. Pada air limbah elektroplating yang mengandung ion chromium (VI), membran menghasilkan fluks 200 Lm-2h-1 bar−1 dengan tingkat rejeksi 70 persen.
Angka ini memberi sinyal bahwa membran PET daur ulang tidak hanya relevan untuk air sungai. Teknologi ini juga berpotensi masuk ke sektor industri yang menghasilkan limbah cair berisiko, seperti elektroplating, batik, dan kegiatan manufaktur tertentu.
Implikasi Kebijakan
Dari sudut kebijakan, inovasi ini membuka ruang penting. Pengelolaan sampah plastik dan penyediaan air bersih selama ini sering berjalan dalam jalur terpisah. Sampah plastik ditangani sebagai isu persampahan. Air bersih ditangani sebagai isu layanan dasar dan infrastruktur.
Riset membran PET memperlihatkan bahwa keduanya bisa dihubungkan. Limbah plastik dapat menjadi bahan baku teknologi untuk memperbaiki kualitas air. Inilah bentuk ekonomi sirkular yang lebih bernilai, karena tidak hanya mengurangi sampah, tetapi juga menghasilkan fungsi publik.
Implikasinya tidak kecil. Jika teknologi ini terus ditingkatkan dan dapat diproduksi secara stabil, pemerintah daerah, PDAM, dan pelaku industri bisa memiliki opsi filtrasi yang lebih terjangkau. Terutama untuk wilayah yang menghadapi tekanan kualitas air sungai dan keterbatasan biaya pengolahan.
BRIN juga telah menjalin kolaborasi dengan PDAM untuk mengembangkan penerapan membran dalam pengolahan air baku sungai. Dalam jangka panjang, pendekatan ini dapat menyederhanakan sebagian proses pengolahan air, termasuk mengurangi ketergantungan pada tahapan konvensional seperti sedimentasi dan koagulasi.
Baca juga: Rp2 Triliun Dana Riset dan Ujian Hilirisasi SDGs Indonesia
Namun, jalan menuju penerapan luas tetap membutuhkan pengujian lanjutan. Teknologi membran harus diuji dari sisi daya tahan, kapasitas aliran, biaya produksi massal, keamanan penggunaan, serta konsistensi hasil pada berbagai jenis air sungai dan limbah industri.
BRIN menyebut pengembangan berikutnya diarahkan pada peningkatan fluks aliran dan selektivitas penyaringan. Salah satu pendekatan yang dikaji ialah penambahan nanopartikel agar membran mampu menyaring partikel tertentu secara lebih optimal.
Bagi Indonesia, riset ini membawa pesan strategis. Transisi menuju teknologi hijau tidak selalu dimulai dari proyek besar dan mahal. Kadang, titik masuknya justru berada pada limbah yang paling akrab dengan kehidupan sehari-hari.
Botol plastik bekas bisa tetap menjadi masalah. Tetapi dengan riset, desain material, dan kebijakan yang tepat, botol itu juga bisa menjadi bagian dari solusi air bersih. ***
- Foto: Ilustrasi/ SustainReview.ID/AI, diolah dari informasi riset BRIN – Ilustrasi membran filtrasi berbasis limbah botol plastik PET untuk menjernihkan air sungai dan mengolah limbah cair.


