LIMBAH cair ternyata tidak hanya bisa menghasilkan biogas. Karbon yang tersisa dari proses tersebut juga dapat ditangkap, disimpan permanen, lalu menghasilkan sertifikat penghilangan karbon bernilai ekonomi.
Model itu mulai bekerja di Norwegia.
Puro.earth menerbitkan lebih dari 700 CO₂ Removal Certificates atau CORC untuk proyek di instalasi pengolahan air limbah VEAS. Sertifikat tersebut mencakup penghilangan karbon selama empat bulan, sejak Februari hingga Mei 2026.
Setiap CORC mewakili satu ton bersih CO₂ yang telah dihilangkan dan disimpan dalam jangka panjang.
Puro.earth menyebutnya sebagai proyek pertama di dunia yang menghasilkan penghilangan karbon permanen terverifikasi dari produksi biogas.
Bagi Indonesia, proyek tersebut membuka pertanyaan penting. Setelah menghasilkan biogas, bisakah limbah juga menjadi sumber carbon removal?
Karbon Tidak Lagi Dilepas
VEAS merupakan instalasi pengolahan air limbah terbesar di Norwegia. Fasilitas itu melayani lebih dari 800.000 penduduk di Oslo, Bærum, dan Asker.
Material organik dari air limbah digunakan untuk menghasilkan biogas. Metananya dapat dimanfaatkan sebagai energi. Sementara itu, CO₂ biogenik yang terbentuk dalam proses tersebut biasanya kembali ke atmosfer.
Proyek yang dikembangkan Inherit Carbon Solutions mengubah aliran itu.
HoopCO2 menangkap dan mencairkan CO₂ di fasilitas VEAS. Gas kemudian dibawa menggunakan truk menuju terminal Northern Lights di Øygarden, sebelah barat Bergen.
Dari terminal, CO₂ dialirkan melalui pipa bawah laut. Gas tersebut lalu diinjeksi ke formasi geologi sekitar 2.600 meter di bawah dasar Laut Utara.
Northern Lights dapat menerima hingga 7.000 ton CO₂ per tahun dari VEAS.
Baca juga: Carbon Removal Jadi Aset Baru, Indonesia Jangan Sekadar Menjual Kredit Karbon
Volume itu memang kecil dibandingkan proyek penangkapan karbon dari industri semen atau pembangkit energi. Namun, nilai pentingnya bukan hanya terletak pada skala.
Proyek ini menunjukkan bahwa fasilitas biogas dapat terhubung dengan infrastruktur penyimpanan karbon tanpa harus membangun rantai pasok biomassa baru.
Limbah menghasilkan biogas. Metana menjadi energi. CO₂ yang tersisa ditangkap dan disimpan.
Satu aliran limbah menghasilkan dua nilai iklim.
Indonesia Punya Bahan Bakunya
Indonesia mempunyai sumber karbon biogenik yang besar. Salah satu pintu masuk paling potensial berasal dari palm oil mill effluent atau POME.
Limbah cair pabrik kelapa sawit itu menghasilkan metana jika dibiarkan terurai. Sejumlah perusahaan telah menangkap gas tersebut untuk pembangkit listrik atau mengolahnya menjadi bio-CNG.
Baca juga: SeaCURE, Terobosan Menangkap Karbon dari Lautan untuk Masa Depan Bumi
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral mencatat lebih dari 50 instalasi biogas berbasis POME telah beroperasi di Indonesia sejak 2019.
Dokumen Technology Data for the Indonesian Power Sector memperkirakan potensi pembangkitan biogas dari POME mencapai sekitar 430 megawatt.

Potensi tersebut tidak otomatis menunjukkan jumlah CO₂ yang dapat ditangkap. Setiap fasilitas memiliki volume, teknologi, jarak angkut, dan kelayakan ekonomi berbeda.
Namun, Indonesia tidak memulai dari nol.
Pabrik biogas sudah tersedia. Aliran CO₂ biogenik muncul dalam proses pemurnian gas. Tahap yang belum banyak dibangun adalah penangkapan, pencairan, pengangkutan, dan penyimpanannya.
Selain POME, model serupa dapat dikaji untuk limbah peternakan, industri pangan, sampah organik, serta instalasi pengolahan air limbah perkotaan.
Ruang Penyimpanan Belum Cukup
Modal geologi Indonesia juga besar.
Laporan Kinerja Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi 2024 memperkirakan potensi penyimpanan CO₂ mencapai 572,77 gigaton pada akuifer salin. Masih ada sekitar 4,85 gigaton pada reservoir minyak dan gas yang telah habis.
Peraturan Presiden Nomor 14 Tahun 2024 telah memberikan dasar hukum bagi kegiatan penangkapan, pengangkutan, penginjeksian, dan penyimpanan karbon.
Sementara itu, Perpres Nomor 110 Tahun 2025 mengatur instrumen nilai ekonomi karbon dan kerangka transparansinya.
Namun, cadangan geologi dan regulasi belum otomatis melahirkan industri carbon removal.
Baca juga: Penangkap Karbon Tak Cukup di Laboratorium
Banyak fasilitas biogas berada jauh dari calon lokasi penyimpanan. Mengangkut CO₂ dalam volume kecil dapat membuat biaya proyek melonjak.
Indonesia juga membutuhkan metodologi yang secara tegas mengakui penghilangan CO₂ biogenik, sistem pengukuran dan verifikasi, serta aturan mengenai kepemilikan karbon dan tanggung jawab setelah penyimpanan.
Karena itu, pendekatan klaster kemungkinan lebih realistis. Sejumlah produsen CO₂ dapat berbagi fasilitas pencairan, kapal, terminal, pipa, dan reservoir penyimpanan.
Bukan Jalan untuk Memutihkan Emisi
Peluang ekonomi karbon tetap harus dibaca secara hati-hati.
Menangkap CO₂ dari POME tidak otomatis membuat industri kelapa sawit menjadi negatif karbon. Emisi dari perubahan penggunaan lahan, pupuk, energi, transportasi, dan kebocoran metana tetap harus dihitung.
Kredit penghilangan karbon juga tidak boleh menjadi alasan untuk menunda pengurangan emisi secara langsung.
Proyek VEAS penting karena membuktikan satu konsep: limbah, biogas, CCS, dan pasar karbon dapat disambungkan dalam satu rantai nilai.
Baca juga: Big Tech Bangun Pasar Baru Penghapus Karbon
Indonesia memiliki bahan baku biogas dan kapasitas penyimpanan CO₂ yang besar. Namun, keduanya masih berkembang di jalur berbeda.
Peluang sesungguhnya bukan hanya menjadikan Indonesia tempat penyimpanan karbon dari luar negeri.
Nilai yang lebih strategis dapat muncul ketika ruang penyimpanan itu dihubungkan dengan limbah dan industri domestik.
Indonesia sudah mempunyai sumber karbon dan tempat untuk menyimpannya. Pekerjaan berikutnya adalah membangun jembatan di antara keduanya. ***
- Foto: Northern Lights – Truk membawa CO₂ biogenik dari fasilitas pengolahan air limbah VEAS menuju terminal Northern Lights di Øygarden, Norwegia. Karbon tersebut kemudian disimpan sekitar 2.600 meter di bawah dasar Laut Utara.


