Penangkap Karbon Tak Cukup di Laboratorium

KARBON dioksida bisa ditangkap. Tetapi pertanyaan besarnya belum selesai. Apakah teknologi itu bisa bekerja di industri nyata?

Di titik ini, riset material penangkap karbon menjadi penting. Selama ini, pembicaraan tentang Carbon Capture, Utilization, and Storage atau CCUS lebih sering bergerak di level proyek besar. Ada pabrik. Ada pipa. Ada sumur penyimpanan. Ada biaya investasi raksasa.

Padahal, salah satu pertarungan paling awal justru terjadi di level yang lebih kecil, material.

Material inilah yang menentukan seberapa efektif COâ‚‚ dapat ditangkap sebelum dilepas ke atmosfer. Makin kuat daya serapnya, makin besar peluang teknologi penangkapan karbon bekerja lebih efisien.

Material Berlapis

Mengutip laman BRIN, peneliti Pusat Riset Katalisis BRIN mengembangkan material komposit multilogam berbasis Layered Double Hydroxides atau LDHs. Material ini dirancang untuk menangkap dan menyimpan karbon dioksida.

LDHs memiliki struktur berlapis, porositas tinggi, dan luas permukaan besar. Karakter ini membuatnya menarik sebagai material adsorben, yaitu material yang mampu menangkap molekul tertentu di permukaannya.

Dalam riset tersebut, pendekatan multilogam digunakan untuk memperbanyak situs aktif, memperluas permukaan, memperbaiki karakter pori, serta memperkuat interaksi antara material dan molekul COâ‚‚.

Baca juga: Tagih Tanggung Jawab 66 Raksasa Polusi Dunia untuk Danai Teknologi Penangkap Karbon

BRIN menyebut beberapa material yang dikembangkan antara lain Ni-Al LDHs@karbon, Mn-Ni-Co-Cu-Al LDHs, Mn-Ni-Co-Cu-Fe LDHs, hingga Ni-Ag-Al LDHs. Hasil pengujian menunjukkan performa penyerapan karbon yang lebih baik dibandingkan material LDHs konvensional.

Temuan ini membuka peluang bagi pengembangan material penangkap karbon yang lebih efektif. Namun, dalam transisi energi, performa laboratorium baru langkah awal.

Ujian Skala Industri

Teknologi penangkapan karbon tidak cukup hanya menjanjikan di ruang riset. Sebaliknya, harus lolos ujian operasi industri.

Gas buang dari pabrik tidak selalu bersih. Di dalamnya bisa ada uap air, sulfur, nitrogen oksida, partikel, dan berbagai senyawa lain. Kondisinya juga tidak selalu stabil. Suhu, tekanan, dan komposisi gas dapat berubah.

Baca juga: China Luncurkan FPSO Pertama dengan Teknologi Penangkapan Karbon

Karena itu, material penangkap karbon harus diuji dalam kondisi yang mendekati dunia nyata. Bukan hanya berapa banyak COâ‚‚ yang bisa diserap, tetapi juga berapa lama material bertahan, seberapa mudah digunakan ulang, dan berapa besar energi yang dibutuhkan untuk melepaskan kembali COâ‚‚ yang sudah ditangkap.

Bagian terakhir ini penting. Dalam banyak teknologi adsorpsi, material perlu diregenerasi agar bisa dipakai berulang. Jika proses regenerasi membutuhkan energi besar, manfaat iklimnya bisa berkurang.

Di sinilah CCUS sering menghadapi pertanyaan kritis. Apakah teknologi ini benar-benar menurunkan emisi secara efisien, atau hanya memindahkan beban ke bagian lain dari sistem energi?

Bukan Jalan Tunggal

CCUS tetap punya posisi dalam peta transisi rendah karbon. Terutama untuk sektor yang sulit menurunkan emisi secara cepat, seperti semen, baja, pupuk, kilang, dan sebagian proses industri berat.

Namun, CCUS bukan pengganti efisiensi energi, elektrifikasi, energi terbarukan, dan perubahan proses produksi. Teknologi ini lebih tepat dibaca sebagai bagian dari bauran solusi, bukan jalan tunggal.

Baca juga: Standar Baru Pasar Karbon Global, Peluang bagi Proyek CDR Indonesia

Bagi Indonesia, riset material seperti LDHs penting karena bisa memperkuat fondasi teknologi lokal. Tetapi fondasi itu perlu disambungkan dengan ekosistem yang lebih besar: pilot project, standar pengujian, kolaborasi industri, pembiayaan riset terapan, dan regulasi penyimpanan karbon yang jelas.

Tanpa jembatan itu, riset material berisiko berhenti sebagai capaian akademik. Penting, tetapi belum cukup mengubah emisi industri.

Arah Kebijakan

Pemerintah perlu melihat riset material penangkap karbon sebagai bagian dari agenda teknologi hijau nasional. Bukan sekadar inovasi laboratorium, melainkan calon komponen dalam rantai dekarbonisasi industri.

Artinya, pertanyaan kebijakan tidak berhenti pada siapa menemukan material baru. Pertanyaan berikutnya lebih menentukan sektor mana yang paling membutuhkan, bagaimana standar uji industrinya, siapa yang membiayai tahap demonstrasi, dan bagaimana memastikan COâ‚‚ yang ditangkap benar-benar dikelola secara aman.

Material penangkap karbon adalah kepingan penting. Tetapi transisi rendah karbon membutuhkan lebih dari material canggih. Itu membutuhkan bukti skala, tata kelola, dan keberanian untuk menguji teknologi sampai ke lantai industri. ***

  • Foto: Ilustrasi/ Mikhail Nilov/ Pexels Material penangkap karbon perlu diuji dalam kondisi industri nyata, bukan hanya di laboratorium.
Bagikan