Berebut SAF Sebelum Bahan Bakarnya Tersedia

MASKAPAI penerbangan mulai menyadari satu kenyataan penting. Membuat janji menggunakan bahan bakar penerbangan berkelanjutan atau sustainable aviation fuel belum tentu membuat bahan bakar itu tersedia. Permintaannya tumbuh. Regulasi mulai mengetat. Namun, produksinya masih jauh tertinggal. International Air Transport Association atau IATA memperkirakan produksi SAF global hanya mencapai 2,4 juta ton pada 2026. Jumlah itu setara…

Baca Selengkapnya...

Ambisi Bangunan Nol Emisi Tersandung di Seluruh Uni Eropa

SELURUH 27 negara anggota Uni Eropa menghadapi masalah yang sama, terlambat menerjemahkan ambisi bangunan hijau menjadi hukum nasional. Komisi Eropa mengirimkan surat teguran resmi kepada semua negara anggota pada 14 Juli 2026. Mereka dinilai belum sepenuhnya mengadopsi Energy Performance of Buildings Directive atau EPBD. Batas waktunya berakhir pada 29 Mei 2026. Tidak satu pun negara…

Baca Selengkapnya...

Malapari Menjanjikan SAF, tetapi Siapa Menjamin Bahan Bakunya?

MALAPARI mulai mendapat tempat baru dalam peta transisi energi Indonesia. Tanaman bernama ilmiah Pongamia pinnata itu tidak hanya menghasilkan minyak nabati yang dapat diolah menjadi biodiesel. Minyak bijinya juga dinilai berpotensi menjadi bahan baku bahan bakar penerbangan berkelanjutan atau sustainable aviation fuel (SAF). Prospek tersebut diperkenalkan Badan Riset dan Inovasi Nasional dalam Capacity Building dan…

Baca Selengkapnya...

B50 Diluncurkan, Kemandirian Energi Butuh Pembuktian

INDONESIA memasuki tahap baru dalam kebijakan biodiesel. Pemerintah mulai menerapkan B50 secara nasional sejak 1 Juli 2026. Campuran baru ini terdiri atas 50 persen biodiesel berbasis minyak sawit dan 50 persen solar fosil. Kadarnya naik 10 poin persentase dari program B40 yang berlaku pada 2025. Presiden Prabowo Subianto dijadwalkan meresmikan peluncuran B50 pada Juli 2026….

Baca Selengkapnya...

Listrik Hijau Tak Lagi Cukup Tahunan

Klaim listrik hijau sedang memasuki fase yang lebih ketat. Selama bertahun-tahun, banyak perusahaan global mengandalkan pencocokan energi terbarukan secara tahunan. Perusahaan membeli listrik atau sertifikat energi hijau dalam jumlah yang setara dengan konsumsi listrik selama setahun. Namun, pendekatan itu mulai dianggap belum cukup. Pertanyaannya kini lebih rinci. Apakah listrik bersih tersedia pada jam ketika perusahaan…

Baca Selengkapnya...

Bank Dunia Lepas Target Iklim, Indonesia Perlu Bukti Baru

Ketika target persentase ditinggalkan, proyek hijau tidak otomatis kehilangan ruang. Namun, Indonesia harus menunjukkan manfaat iklim lewat hasil pembangunan yang lebih nyata. BANK Dunia tidak lagi ingin membaca pembiayaan iklim terutama dari besar kecilnya persentase dana berlabel hijau. Lembaga pembiayaan pembangunan itu melepas target 45 persen pembiayaan tahunan untuk proyek dengan manfaat iklim. Target lama…

Baca Selengkapnya...

Listrik Rentan Padam, Grid Jadi Titik Lemah

Pemadaman bergilir di Jawa menunjukkan ketahanan listrik tidak cukup dibaca dari jumlah pembangkit, tetapi dari kekuatan jaringan, cadangan, dan kesiapan sistem. PEMADAMAN listrik bergilir di Pulau Jawa bukan hanya cerita tentang lampu yang mati. Di balik gangguan itu, ada pertanyaan yang lebih besar. Seberapa tangguh sistem kelistrikan Indonesia menghadapi tekanan baru? Pertanyaan ini menguat setelah…

Baca Selengkapnya...

Penangkap Karbon Tak Cukup di Laboratorium

KARBON dioksida bisa ditangkap. Tetapi pertanyaan besarnya belum selesai. Apakah teknologi itu bisa bekerja di industri nyata? Di titik ini, riset material penangkap karbon menjadi penting. Selama ini, pembicaraan tentang Carbon Capture, Utilization, and Storage atau CCUS lebih sering bergerak di level proyek besar. Ada pabrik. Ada pipa. Ada sumur penyimpanan. Ada biaya investasi raksasa….

Baca Selengkapnya...

Daya Saing RI Turun, Energi Jadi Titik Uji

INDONESIA masih tumbuh. Ekonominya besar. Pasarnya luas. Namun, data terbaru IMD World Competitiveness Ranking 2026 memberi pesan berbeda. Ukuran ekonomi belum cukup menjaga daya saing. Indonesia turun ke peringkat 48 dari 70 ekonomi dunia. Setahun sebelumnya, Indonesia berada di posisi 40. Dua tahun lalu, Indonesia sempat menembus posisi 27. Artinya, dalam dua tahun, Indonesia kehilangan…

Baca Selengkapnya...

Perusahaan Global Menagih Negara Mempercepat Elektrifikasi

Dorongan 112 perusahaan global menunjukkan elektrifikasi tidak lagi sekadar agenda iklim. Bagi Indonesia, kesiapan grid, listrik bersih, dan regulasi akan makin menentukan daya saing investasi. ELEKTRIFIKASI tidak lagi cukup dibaca sebagai agenda iklim. Ketika 112 perusahaan global meminta pemerintah mempercepat peralihan dari energi fosil ke listrik bersih, pesan yang muncul lebih luas. Daya saing ekonomi…

Baca Selengkapnya...