Indonesia menguasai sekitar 62 persen produksi nikel tambang dunia, tetapi harga komoditasnya masih merujuk pasar luar negeri. Bursa baru membuka peluang membentuk harga, menekan kebocoran, dan memperkuat ketertelusuran. Namun, semua itu bergantung pada satu modal yang tidak dapat dibentuk lewat undang-undang, kepercayaan.
INDONESIA sudah memilih orang yang akan mengawasi Bursa Mineral dan Komoditas Strategis. Dalam rapat paripurna, Kamis, 27 Agustus 2026, DPR menyetujui Sarjito sebagai Kepala Eksekutif Pengawas BMKS Otoritas Jasa Keuangan periode 2026–2031.
Sarjito bukan direktur utama atau kepala bursanya. Ia merupakan anggota Dewan Komisioner OJK yang akan memimpin pengaturan dan pengawasan BMKS. Namun, pengesahannya menandai semakin dekatnya bursa yang ditargetkan mulai beroperasi pada 1 Januari 2027.
Bursa ini membawa ambisi besar. Indonesia tidak lagi sekadar menjual kekayaan alam, tetapi ikut menentukan harganya.
Presiden Prabowo Subianto mempertanyakan mengapa harga komoditas Indonesia masih banyak mengacu pada bursa luar negeri. Indonesia merupakan produsen utama nikel, timah, batu bara, emas, kelapa sawit, kopi, dan karet, tetapi kekuatan produksinya belum sepenuhnya berubah menjadi kekuatan dalam pembentukan harga.
“Kita yang punya barang, orang lain menentukan harganya,” kata Prabowo dalam pidato pengantar RUU APBN 2027 di DPR, 14 Agustus 2026.
Pertanyaannya, apakah memiliki bursa sendiri otomatis membuat Indonesia mampu menentukan harga?
Modalnya Sangat Besar
Secara material, Indonesia memiliki modal yang sulit diabaikan pasar global.
Data United States Geological Survey menunjukkan Indonesia menyumbang sekitar 62 persen produksi nikel tambang dunia pada 2024. Indonesia juga berada di urutan kedua untuk produksi timah dengan pangsa sekitar 19 persen dan produksi kobalt sekitar 12 persen.
Artinya, hampir dua dari setiap tiga ton nikel yang ditambang di dunia berasal dari Indonesia. Posisi ini jauh lebih kuat dibandingkan satu dekade lalu dan memberi Indonesia pengaruh besar terhadap pasokan global.
Indonesia juga memiliki cadangan yang sangat besar. Kementerian ESDM mencatat, berdasarkan status data 2023, sumber daya bijih nikel Indonesia mencapai sekitar 18,55 miliar ton, dengan cadangan sekitar 5,33 miliar ton. Untuk bauksit, sumber dayanya mencapai sekitar 7,48 miliar ton, sedangkan cadangannya sekitar 2,78 miliar ton.
Besarnya produksi tersebut memberikan bahan dasar bagi pembentukan harga di dalam negeri. Jika transaksi dalam jumlah signifikan berlangsung secara rutin, harga yang terbentuk di BMKS berpeluang mencerminkan kondisi pasokan, permintaan, mutu, dan biaya produksi Indonesia secara lebih nyata.
Baca juga: Indonesia Siapkan Bursa Mineral, Harga Komoditas Jadi Taruhan
Di sinilah potensi pertamanya muncul. Bursa dapat menjadi tempat price discovery atau pembentukan harga yang lebih transparan. Pelaku usaha tidak hanya menerima harga referensi dari London Metal Exchange, Shanghai Futures Exchange, atau pasar luar negeri lainnya.
Potensi kedua adalah memperbaiki penerimaan negara. Transaksi yang tercatat, harga yang terbuka, dan data volume yang saling terhubung dapat membantu mendeteksi under-invoicing—pelaporan harga atau volume ekspor lebih rendah daripada kondisi sebenarnya.
Bursa juga dapat mempersempit ruang penyalahgunaan transfer pricing dalam transaksi antarperusahaan yang memiliki hubungan afiliasi. Praktik tersebut tidak selalu melanggar hukum, tetapi dapat digunakan untuk memindahkan laba ke yurisdiksi lain dan mengecilkan pajak yang dibayar di Indonesia.
Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi mengatakan BMKS diharapkan menjawab persoalan transfer pricing dan under-invoicing yang merugikan negara. Bursa juga diproyeksikan membuat pembentukan harga lebih transparan dan memperkuat tata kelola perdagangan komoditas.
Namun, bursa bukan mesin otomatis yang langsung mengubah produsen besar menjadi penentu harga.

Produksi Belum Cukup
Kekuatan pasokan memang penting, tetapi harga acuan dunia tidak lahir hanya karena sebuah negara memiliki komoditas paling banyak.
Harga baru dipercaya apabila dibentuk oleh transaksi yang cukup besar, rutin, transparan, serta melibatkan banyak penjual dan pembeli. Produk yang diperdagangkan juga harus memiliki standar mutu yang jelas. Sistem pergudangan, penilaian, kliring, dan penyelesaian transaksi harus bekerja tanpa keraguan.
Sarjito menangkap titik tersebut dalam uji kelayakan dan kepatutan di Komisi XI DPR pada 24 Agustus 2026.
“BMKS tidak harus menjadi besar di hari pertama, tetapi harus dipercaya sejak transaksi pertama,” ujarnya.
Ia menawarkan delapan fondasi, mulai dari infrastruktur, pasar, produk, data, regulator, hingga ekosistem yang terpercaya. BMKS juga akan memperluas partisipasi pelaku pasar dan secara bertahap membangun harga referensi Indonesia.
Kata kuncinya adalah bertahap.
London Metal Exchange tidak menjadi rujukan dunia hanya karena berada di London. Bursa itu digunakan karena memiliki sejarah transaksi, jaringan pembeli dan penjual, kontrak standar, sistem penyimpanan, serta mekanisme penyelesaian yang dipercaya lintas negara.
Baca juga: Carbon Removal Jadi Aset Baru, Indonesia Jangan Sekadar Menjual Kredit Karbon
Guru Besar Universitas Indonesia sekaligus pengamat pasar modal Budi Frensidy mengingatkan bahwa likuiditas menjadi penentu. Bursa membutuhkan jumlah penjual dan pembeli yang memadai, transparansi harga dan volume, standardisasi mutu, serta sistem kliring dan penyelesaian yang kuat.
“Kalau transaksi diwajibkan tetapi pasarnya tipis, harga yang terbentuk tidak akan menjadi benchmark yang kredibel,” kata Budi kepada wartawan.
Peringatan ini penting. Kewajiban memperdagangkan komoditas melalui bursa memang dapat menciptakan volume awal. Namun, jika transaksi terkonsentrasi pada sedikit perusahaan besar, harga rentan dipengaruhi kepentingan tertentu.
BMKS juga akan berhadapan dengan struktur industri mineral Indonesia yang kompleks. Produsen, smelter, trader, eksportir, lembaga pembiayaan, surveyor, pengelola gudang, dan perusahaan afiliasi dapat memiliki kepentingan berbeda. Karena itu, pengawasan terhadap transaksi afiliasi, manipulasi harga, benturan kepentingan, dan konsentrasi pemain harus dibangun sejak awal.
Harga yang Bertanggung Jawab
Potensi BMKS sebenarnya melampaui urusan harga.
Bursa dapat menjadi simpul data yang menghubungkan asal komoditas, legalitas tambang, mutu produk, volume produksi, pemilik manfaat, hingga pembeli akhirnya. Kemampuan ini semakin penting ketika pasar global menuntut mineral yang bukan hanya tersedia, tetapi juga dapat ditelusuri.
Nikel, tembaga, timah, dan kobalt menjadi bahan penting bagi baterai, jaringan listrik, kendaraan listrik, dan berbagai teknologi energi bersih. Namun, peningkatan produksinya juga membawa risiko deforestasi, pencemaran, emisi dari kawasan industri berbasis batu bara, konflik lahan, dan persoalan keselamatan kerja.
Simak juga hubungan antara insentif kendaraan listrik, hilirisasi, dan rantai nilai nikel Indonesia dalam Sustain Bites, X-plainer visual SustainReview.ID, berikut ini.
Karena itu, BMKS seharusnya tidak hanya mencatat berapa harga mineral. Bursa perlu mengetahui dari mana mineral berasal dan apakah komoditas tersebut memenuhi ketentuan lingkungan serta standar produksi yang berlaku.
Ketertelusuran dapat menjadi nilai tambah baru. Mineral dengan asal-usul jelas, mutu konsisten, dan data lingkungan yang dapat diverifikasi akan lebih siap menghadapi persyaratan rantai pasok global. Dalam jangka panjang, BMKS bahkan berpotensi mengembangkan produk atau kontrak yang membedakan komoditas berdasarkan kualitas dan tingkat kepatuhannya.
Indonesia tidak harus memasukkan seluruh komoditas sekaligus. Bursa dapat dimulai dari mineral yang posisi pasarnya paling kuat, produknya relatif mudah distandardisasi, dan pelaku transaksinya telah siap. Keberhasilan satu atau dua komoditas akan lebih bernilai daripada banyak komoditas yang terdaftar tetapi minim transaksi.
Baca juga: Kontrol Produksi Nikel dan Batu Bara 2026, Disiplin Pasar atau Risiko Skala Ekonomi?
Pengesahan Sarjito menyelesaikan satu bagian penting. Siapa yang memimpin pengawasan. Pekerjaan yang jauh lebih berat baru dimulai, membangun pasar yang digunakan pelaku industri tanpa kehilangan independensi, dipercaya pembeli global, dan menghasilkan harga yang benar-benar dapat menjadi rujukan.
Indonesia memiliki barangnya. Indonesia juga memiliki skala produksinya. Bursa memberi peluang membawa pembentukan harga lebih dekat ke sumber komoditas.
Namun, dunia tidak akan menggunakan harga Indonesia hanya karena Indonesia meminta. Dunia akan menggunakannya ketika transaksi cukup dalam, data dapat diuji, mutu terjamin, dan pasarnya dipercaya.
Bursa dapat dibentuk melalui undang-undang. Harga dapat muncul dari transaksi. Tetapi, kepercayaan harus dibuktikan sejak perdagangan pertama. ***
- Foto: Tom Fisk/ Pexels – Aktivitas bongkar muat komoditas curah di salah satu terminal pelabuhan di Banten. Indonesia menyiapkan Bursa Mineral dan Komoditas Strategis untuk memperkuat transparansi transaksi dan pembentukan harga di dalam negeri.


