Semarang diperkirakan memiliki potensi pemanenan air hujan 89,01 miliar liter setahun. Namun setelah kondisi sosial dan karakter wilayah diperhitungkan, yang realistis dimanfaatkan hanya sekitar 24 miliar liter. Ketahanan air ternyata bukan sekadar persoalan berapa banyak hujan yang turun.
HUJAN bisa menjadi masalah dan sumber daya pada saat yang sama.
Di kota seperti Semarang, air yang turun dari langit dapat memenuhi saluran, menggenangi jalan, bahkan memperbesar risiko banjir. Tetapi keberlimpahan air ketika hujan tidak otomatis membuat sebuah kota memiliki ketahanan air yang kuat.
Penelitian Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memperlihatkan paradoks itu melalui angka yang mencolok.
Secara fisik, potensi air hujan yang dapat dipanen dari atap permukiman Kota Semarang diperkirakan mencapai 89,01 miliar liter per tahun pada 2020. Potensinya meningkat menjadi 96,78 miliar liter pada 2025 dan diproyeksikan mencapai 105,62 miliar liter pada 2030.
Namun ketika kondisi sosial masyarakat dan karakter spasial wilayah ikut dimasukkan ke dalam perhitungan, potensi realistis pemanfaatannya hanya sekitar 24 miliar liter, atau sekitar 27 persen dari potensi fisik pada basis perhitungan 2020.
Artinya, persoalan air kota tidak berhenti pada pertanyaan: berapa banyak air tersedia?
Pertanyaan berikutnya justru lebih sulit, berapa banyak yang benar-benar bisa dimanfaatkan?
Ada Air, Belum Tentu Bisa Dipakai
Periset Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN Yosef Prihanto mengatakan hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa potensi sumber daya air tidak dapat begitu saja diterjemahkan menjadi potensi pemanfaatan.
Ada faktor sosial dan spasial yang menentukan apakah suatu intervensi akan bekerja.
Model yang dikembangkan Yosef karena itu tidak hanya memasukkan curah hujan dan luas atap rumah. Pengetahuan masyarakat, persepsi, sikap, karakter permukiman, dan kondisi ruang juga diperhitungkan.
Pendekatan semacam ini penting karena kesiapan masyarakat ternyata berbeda bahkan di dalam satu kota.
Baca juga: Air Tawar Laut Jawa Mengalir hingga Banda
Penelitian Yosef menemukan penerimaan terhadap pemanenan air hujan relatif lebih tinggi di wilayah Semarang tengah, sementara Semarang bawah justru lebih rendah. Riset akademiknya sebelumnya juga menghasilkan model sosio-spasial dengan tujuh parameter yang mampu menggambarkan distribusi kemauan masyarakat menerapkan pemanenan air hujan dengan tingkat akurasi 89,69 persen.
Temuan seperti dilansir laman resmi BRIN tersebut memunculkan persoalan kebijakan yang menarik. Wilayah yang paling membutuhkan intervensi belum tentu menjadi wilayah yang paling siap menerimanya.
Karena itu, membangun tangki, talang, atau sistem penampungan saja tidak cukup.
Teknologinya mungkin tersedia. Airnya juga tersedia. Tetapi manfaatnya baru muncul ketika sistem itu sesuai dengan kondisi masyarakat yang akan menggunakannya.
Semarang dan Tekanan dari Bawah Tanah
Persoalan itu menjadi lebih penting bagi Semarang karena ketahanan air kota ini beririsan dengan persoalan lain yang sudah berlangsung lama, penurunan muka tanah.
Pada Juni 2026, Pemerintah Kota Semarang menyebut penurunan muka tanah di kawasan Pantura masih mencapai sekitar 10–12 sentimeter per tahun.
Penelitian ilmiah memberikan gambaran serupa. Studi berbasis data satelit Sentinel-1 periode 2015–2025 menemukan laju subsidensi di wilayah pesisir utara Semarang dan sekitarnya dapat mencapai 15 sentimeter per tahun pada sejumlah lokasi.
Studi lain menggunakan data 2015–2022 menemukan laju maksimum sekitar 100–120 milimeter per tahun di bagian utara dan timur Semarang serta Demak. Sekitar 20 persen wilayah Semarang dalam kajian tersebut terdampak subsidensi.
Penyebabnya tidak tunggal. Kondisi geologi, kompaksi tanah, beban pembangunan, dan karakter akuifer ikut berperan. Namun sejumlah penelitian menunjukkan pengambilan air tanah merupakan salah satu faktor penting yang memperbesar penurunan tanah.
Kajian tentang Semarang-Demak yang dipublikasikan pada 2025, misalnya, mengidentifikasi ekstraksi air tanah intensif sebagai pendorong utama kompaksi akuifer pada wilayah yang ditelitinya, dengan deformasi vertikal di sejumlah area melampaui 120 milimeter per tahun.
Kajian pemodelan air tanah sebelumnya juga menunjukkan pemompaan berlebih memperbesar ancaman subsidensi di Semarang bagian utara. Simulasi penelitian tersebut menunjukkan pengelolaan air tanah yang lebih baik berpotensi menekan laju dan luas wilayah subsidensi secara signifikan.
Di sinilah pemanenan air hujan memperoleh arti yang lebih besar.
Itu bukan sekadar cara mendapatkan air tambahan. Dalam strategi yang lebih luas, sumber air alternatif dapat membantu mengurangi tekanan terhadap sumber air tanah.

Kebijakannya Sebenarnya Sudah Ada
Menariknya, arah tersebut bukan hal asing dalam perencanaan Kota Semarang.
Perubahan Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Semarang sudah menempatkan air permukaan, air tanah, dan pemanenan air hujan sebagai bagian dari rencana sumber air.
Kebijakan itu juga mengatur pembatasan pengambilan air tanah di sejumlah kecamatan, antara lain Tugu, Semarang Barat, Semarang Utara, Semarang Tengah, Semarang Selatan, Semarang Timur, Genuk, Pedurungan, dan Gayamsari.
Baca juga: Kota-kota Asia Mulai Kehilangan Badan Airnya
Pada saat yang sama, pemanfaatan air hujan diarahkan untuk dikembangkan di seluruh kecamatan, terutama pada kawasan rawan air baku dan kegiatan dengan kebutuhan air besar.
Dengan kata lain, persoalannya bukan semata menemukan teknologi baru.
Tantangannya adalah membuat teknologi dan kebijakan yang sudah tersedia benar-benar bekerja pada tempat yang tepat.
Model sosio-spasial BRIN menjadi penting karena menyediakan lapisan yang sering hilang dalam perencanaan: masyarakat.
Perubahan Iklim Membuat Persoalan Makin Rumit
Ketahanan air perkotaan akan semakin sulit jika sistem masih dirancang hanya berdasarkan pola masa lalu.
IPCC menyebut pertumbuhan penduduk, urbanisasi, infrastruktur yang menua, perubahan penggunaan air, serta perubahan iklim telah meningkatkan kerentanan kota terhadap kekeringan maupun hujan ekstrem. Risiko kelangkaan air perkotaan diperkirakan meningkat seiring tekanan terhadap pasokan dan pertumbuhan kebutuhan.
Pemanenan air hujan termasuk salah satu opsi untuk menambah pasokan dan meningkatkan keandalan air. Tetapi IPCC juga menekankan bahwa keberhasilan adaptasi sangat bergantung pada konteks lokal serta partisipasi dan keterlibatan masyarakat.
Itu hampir persis dengan persoalan yang ditemukan BRIN di Semarang.
Hujan mungkin sama-sama jatuh dari langit, tetapi kemampuan setiap wilayah untuk mengubahnya menjadi sumber daya tidak sama.
Baca juga: 98 Mata Air Menurun di Bandung Utara, Sinyal Krisis Air dari Hulu
Ada kawasan yang memiliki atap dan curah hujan memadai tetapi penerimaan masyarakat rendah. Ada kawasan lain yang lebih siap tetapi kebutuhan atau kerentanannya berbeda.
Karena itu kebijakan one-size-fits-all berisiko menghasilkan infrastruktur yang secara teknis benar tetapi tidak digunakan secara optimal.
Sekolah, kantor pemerintah, fasilitas publik, dan komunitas dapat menjadi lokasi demonstrasi. Edukasi dapat dibangun bersamaan dengan pembangunan fasilitas. Intervensi kemudian diarahkan berdasarkan kombinasi kebutuhan air, potensi fisik, karakter ruang, dan kesiapan masyarakat.
Dari Mengalirkan Air menjadi Menyimpan Air
Selama puluhan tahun, logika banyak kota terhadap hujan sederhana: ketika air turun terlalu banyak, secepat mungkin alirkan ke luar kota.
Perubahan iklim membuat logika itu perlu dilengkapi.
Sebagian air memang harus dialirkan agar tidak menimbulkan banjir. Tetapi sebagian lainnya dapat ditahan, disimpan, diinfiltrasikan, atau dimanfaatkan kembali.
Semarang bahkan sudah mempunyai jejak kebijakan ke arah itu. Dokumen perencanaan drainase kota memasukkan pengembangan prasarana pemanenan air hujan bersama pengelolaan polder, kolam tampung, drainase dan pengendalian banjir.
Artinya, satu liter air hujan seharusnya tidak selalu dipandang sebagai beban drainase.
Baca juga: Krisis Air Tidak Netral Gender, Perempuan Menanggung Ongkosnya
Pada tempat dan kondisi yang tepat, ia adalah bagian dari cadangan air kota.
Penelitian BRIN menunjukkan skalanya tidak kecil. Puluhan miliar liter air berpotensi dikumpulkan setiap tahun dari atap-atap Semarang.
Tetapi angka 27 persen juga memberi peringatan.
Ketahanan air tidak dibangun hanya dengan menghitung hujan dan luas atap. Ia dibangun dengan memahami siapa yang membutuhkan air, di mana mereka tinggal, bagaimana ruang kotanya terbentuk, dan apakah masyarakat bersedia menjalankan sistem yang dirancang.
Kota boleh memiliki banyak air.
Yang menentukan ketahanannya adalah berapa banyak air itu yang benar-benar mampu dikelola. ***
Foto: Mike van Schoonderwalt / Pexels – Atap-atap permukiman di Semarang menyimpan potensi besar pemanenan air hujan. Riset BRIN menunjukkan, ketersediaan air secara fisik belum otomatis menjadi air yang realistis dimanfaatkan.


