Delapan ratus dua kilometer koridor jalan tol diproyeksikan dapat menampung PLTS hingga sekitar 0,5 GWp dan baterai 1,5 GWh. Gagasan itu menawarkan cara baru mencari ruang bagi energi surya. Namun lahan yang tersedia belum otomatis menghasilkan listrik yang murah.
SELAMA ini jalan tol dibangun untuk satu pekerjaan utama, memindahkan kendaraan.
PT PLN (Persero) melihat kemungkinan fungsi kedua. Ruang di sepanjang jalan tol dapat digunakan untuk menghasilkan listrik.
Angkanya tidak kecil.
PLN menghitung sekitar 802 kilometer koridor jalan tol milik Jasa Marga, dengan ruang selebar sekitar 3–5 meter di kedua sisinya, berpotensi menyediakan sekitar 400–500 hektare lahan. Di atas ruang itu dapat dibangun pembangkit listrik tenaga surya dengan kapasitas sekitar 0,5 gigawatt peak (GWp).
Tidak berhenti di panel. PLN juga menghitung kebutuhan Battery Energy Storage System (BESS) sekitar 1,5 gigawatt hour (GWh) untuk menyimpan sebagian listrik yang dihasilkan.
Itulah yang membuat rencana ini lebih menarik daripada sekadar cerita tentang panel surya di pinggir jalan.
Itu menyentuh salah satu pertanyaan terbesar dalam ekspansi energi surya Indonesia, di mana seluruh panel itu akan ditempatkan?
802 Kilometer Menjadi Aset Energi
Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo, ketika memaparkan konsep tersebut dalam rapat bersama Komisi XII DPR pada awal Juli 2026, menjadikan koridor tol Jasa Marga sebagai contoh bagaimana lahan yang sudah memiliki fungsi dapat memperoleh fungsi tambahan.
Dengan panjang 802 kilometer dan ruang 3–5 meter di kedua sisi, menurut perhitungan PLN, tersedia sekitar 400–500 hektare yang dapat dimanfaatkan. Dari situlah muncul estimasi kapasitas sekitar setengah GWp.
Baca juga: 100 GW PLTS, Seberapa Siap Sistem Listrik Indonesia?
Angka 0,5 GWp tentu masih kecil dibanding ambisi pembangunan PLTS nasional.
Tetapi, justru di situlah nilai strategis gagasan tersebut.
Indonesia tidak hanya membutuhkan pembangkit surya yang besar. Negara ini membutuhkan banyak model penyediaan ruang untuk menempatkannya.
Atap, kawasan industri, waduk, lahan tidak produktif hingga koridor infrastruktur dapat menjadi bagian dari portofolio itu.
Ketika Satu Hektare Punya Harga
Ketersediaan lahan bukan persoalan kecil dalam keekonomian PLTS.
Darmawan memperlihatkan betapa harga tanah dapat merembet sampai ke harga listrik.
Menurut perhitungan PLN, apabila harga lahan berada di kisaran Rp200.000 per meter persegi, komponen tersebut dapat menambah biaya pembangkitan sekitar US$0,01 per kWh. Jika harga lahan mencapai sekitar Rp600.000 per meter persegi, tambahan biayanya dapat naik menjadi sekitar US$0,03 per kWh.
Inilah daya tarik koridor tol.
Ruangnya sudah menjadi bagian dari infrastruktur yang tersedia. Secara konsep, pemanfaatan ruang seperti ini dapat mengurangi tekanan untuk mencari lahan baru.
Namun kata kuncinya adalah dapat.
Koridor tol bukan berarti tanpa biaya. Pembangunan tetap membutuhkan struktur panel, sistem kabel, pengamanan, akses pemeliharaan, koneksi ke jaringan dan desain yang tidak mengganggu keselamatan maupun operasi jalan.
Karena itu pertanyaan terpentingnya bukan hanya berapa hektare yang tersedia?
Melainkan berapa harga listrik yang akhirnya dapat dihasilkan?
Panel Tidak Bekerja Sendirian
Ada persoalan kedua.
Matahari tidak bersinar dengan intensitas yang sama sepanjang hari.
Karena itu PLN memasukkan BESS sekitar 1,5 GWh ke dalam konsep PLTS koridor tol. Baterai memungkinkan sebagian energi yang diproduksi ketika matahari tersedia disimpan dan digunakan ketika dibutuhkan.
Angka tersebut memperlihatkan sesuatu yang sering hilang ketika energi surya dibicarakan hanya dari jumlah panel.
Ekspansi PLTS dalam skala besar bukan persoalan panel semata.
Itu merupakan persoalan panel + penyimpanan + jaringan + fleksibilitas sistem listrik.
Baca juga: Ketika Listrik Bersih Tak Bisa Masuk Jaringan
Kementerian ESDM bahkan sedang menghadapi persoalan yang sama dalam skala jauh lebih besar.
Pemerintah mendorong pembangunan PLTS 100 GW. Dalam tahap awal, Kementerian ESDM menyebut pembangunan 17 GW PLTS akan disertai fasilitas penyimpanan energi berbasis baterai sekitar 33 GW. Pemerintah juga telah mengidentifikasi sekitar 24.000 hektare lahan di Pulau Jawa yang berpotensi digunakan untuk mendukung program tersebut.
Wakil Menteri ESDM Yuliot mengatakan percepatan program itu harus berjalan bersamaan dengan penyediaan regulasi dasar dan kesiapan lahan.
Artinya, bahkan pada level kebijakan nasional, ruang dan penyimpanan telah menjadi bagian dari persamaan energi surya.

Dari 0,5 GWp Menuju 100 GW
Skalanya memperlihatkan tantangan sebenarnya.
Pada akhir 2024, kapasitas surya Indonesia baru sekitar 912 MW, sementara potensi teknis energi surya diperkirakan mencapai sekitar 3.294 GWp.
Bandingkan angka itu dengan ambisi 100 GW.
Indonesia tidak sedang merencanakan pertumbuhan PLTS secara gradual. Negara ini sedang mempertimbangkan sebuah lompatan.
Baca juga: Subsidi Mobil Listrik Datang Lagi, Apa yang Dikejar?
CEO Institute for Essential Services Reform (IESR) Fabby Tumiwa menilai energi surya memiliki keunggulan karena teknologinya modular dan dapat dipasang di berbagai lokasi secara paralel. Ia juga menyebut PLTS saat ini termasuk sumber listrik yang murah dan relatif mudah diaplikasikan.
Karakter modular itulah yang membuat koridor tol menarik.
PLTS tidak harus selalu berupa hamparan panel raksasa di satu lokasi.
PLTS dapat hadir di atap, waduk, kawasan industri, lahan yang telah digunakan untuk fungsi lain, dan mungkin juga di sepanjang jalan tol.
Ruangnya Ada, Kelayakannya Harus Dibuktikan
Namun 802 kilometer tidak otomatis sama dengan 0,5 GWp listrik murah.
Angka PLN masih merupakan potensi berdasarkan ketersediaan ruang. Tahap berikutnya jauh lebih menentukan: studi teknis dan keekonomian pada setiap koridor.
Radiasi matahari berbeda. Bentuk lahan berbeda. Jarak ke jaringan berbeda. Biaya struktur, koneksi, baterai, operasi dan pemeliharaan juga berbeda.
Pada akhirnya, proyek seperti ini harus melewati ukuran yang sama dengan pembangkit lainnya. Berapa biaya listrik sepanjang umur proyek dan seberapa andal listrik itu dapat masuk ke sistem?
Itu pula yang membedakan gagasan menarik dengan proyek energi yang benar-benar layak.
Tol memang dapat memperoleh fungsi kedua.
Tetapi inovasi terbesar bukan ketika panel akhirnya berdiri di pinggir jalan. ***
- Foto: Tom Fisk/ Pexels – Bentang jalan tol di Jakarta. Ruang di sepanjang koridor tol mulai dilihat sebagai lokasi potensial pembangunan PLTS, ketika kebutuhan energi bersih harus bersaing dengan keterbatasan lahan perkotaan.


