R Bestian

Ketahanan Pangan Membutuhkan Informasi Iklim yang Sampai ke Petani

KEPUTUSAN menanam dimulai jauh sebelum benih menyentuh tanah. Petani harus memperkirakan datangnya hujan, kecukupan air, dan risiko musim yang berubah. Keputusan itu menentukan penggunaan modal, tenaga, serta peluang panen beberapa bulan kemudian. Di tengah perubahan iklim, informasi musim menjadi bagian penting dari perlindungan pangan. Namun, kemampuan menghasilkan model yang semakin detail baru merupakan satu tahap….

Baca Selengkapnya...

B50 Mengalir, Siapa Menjamin Mutunya sampai ke Mesin?

Peningkatan campuran biodiesel membutuhkan pengawasan sepanjang rantai pasok. Hasil pengujian kendaraan perlu diikuti kepastian mutu bahan bakar yang diterima masyarakat. INDONESIA membawa lebih banyak sawit ke tangki kendaraan melalui B50. Namun, keberhasilan kebijakan energi ini juga bergantung pada perjalanan bahan bakar. Dari tempat produksi, tangki penyimpanan, pengangkutan, hingga masuk ke mesin. Guru Besar Universitas Pertamina…

Baca Selengkapnya...

Eropa Danai Bahan Bakar Pesawat Hijau, Siapa Tutup Selisih Harga?

JERMAN, Austria, dan Luksemburg menyiapkan dana hingga €2,12 miliar, atau sekitar Rp43,35 triliun, untuk membantu membangun pasar bahan bakar pesawat sintetis. Uangnya tidak langsung dipakai membeli pesawat baru atau membangun pabrik milik negara. Tiga negara itu ingin menyelesaikan satu masalah yang menahan investasi, harga yang dibutuhkan produsen e-SAF masih lebih tinggi daripada harga yang bersedia…

Baca Selengkapnya...

Hong Kong Digitalkan Obligasi Hijau, Indonesia Perlu Apa?

HONG KONG sedang menyiapkan penerbitan obligasi hijau digital baru. Nilai yang dilaporkan mencapai US$2,6 miliar, atau sekitar Rp46,6 triliun. Jika terlaksana pada batas atas rencana, transaksi itu berpotensi menjadi penerbitan obligasi digital terbesar di dunia. Bagi Indonesia, pertanyaan terpenting bukan kapan surat utang negara masuk blockchain. Pertanyaannya lebih dekat dengan kebutuhan publik. Ketika cara menghimpun…

Baca Selengkapnya...

Tiga Kali Lipat Energi Terbarukan, Siapa Membayar Jaringannya?

PEMBANGKIT tenaga surya bisa berdiri lebih cepat daripada jalur yang mengantar listriknya. Di situlah ambisi energi terbarukan bertemu persoalan yang kurang fotogenik, yakni kabel, gardu, baterai, perizinan, dan uang untuk membangunnya. Tanpa perangkat itu, penambahan kapasitas pembangkit belum tentu berarti lebih banyak listrik bersih sampai ke rumah dan pabrik. Persoalan tersebut kembali mengemuka dalam Global…

Baca Selengkapnya...

Ikan dari Lubang Tambang, Aman Dikonsumsi?

LUBANG bekas tambang yang selama ini identik dengan kerusakan hendak diberi kehidupan baru. Air yang menggenang di dalamnya atau void akan dimanfaatkan untuk membudidayakan ikan nila dan udang galah. Daratan di sekelilingnya disiapkan untuk peternakan, tanaman pangan, hortikultura, bahkan agrowisata. Gagasan itu menjanjikan dua hasil sekaligus. Ekosistem pulih dan ekonomi baru tumbuh. Namun, sebelum ikan…

Baca Selengkapnya...

Metana Terlihat dari Antariksa, Siapa Menutup Kebocorannya?

Model AI Google dan NASA menemukan ribuan jejak metana tambahan. Di Indonesia, temuan dari langit bisa membantu menentukan lokasi pemeriksaan. Hasil akhirnya tetap ditentukan oleh pengukuran di lapangan dan tindakan terhadap sumber emisi. METANA tak terlihat oleh mata. Gas ini bisa keluar dari fasilitas minyak dan gas, tambang batu bara, atau timbunan sampah. Ketika emisinya…

Baca Selengkapnya...

AC Meluas, Beban Listrik Ikut Memanas

Pendinginan tidak lagi sekadar soal kenyamanan. Di tengah suhu yang meningkat, AC, lemari pendingin, dan rantai dingin semakin menentukan kesehatan dan produktivitas. Namun, tanpa mesin yang efisien dan listrik bersih, kebutuhan untuk menyejukkan ruangan justru dapat membuat bumi semakin panas. UDARA panas membuat tangan refleks mencari remote AC. Tombol ditekan. Suhu ruangan turun. Namun, kesejukan…

Baca Selengkapnya...

127 Gunung Api, Mengapa Merapi Paling Siap?

Erupsi Anak Krakatau baru saja melumpuhkan penerbangan dan mengusik kehidupan hingga ratusan kilometer dari kawah. Namun, di negara dengan 127 gunung api aktif, kelengkapan sistem pemantauan masih belum merata. Keselamatan warga pun berisiko ditentukan oleh tempat mereka tinggal. ABU Anak Krakatau tidak berhenti di sekitar Selat Sunda. Material vulkanik itu mencapai jalur penerbangan, menutup bandara,…

Baca Selengkapnya...

Satu Erupsi, Enam Bandara: Transportasi Kita Serapuh Apa?

Erupsi Anak Krakatau menghentikan enam bandara dan mengacaukan ratusan penerbangan. Peristiwa ini menguji daya tahan jaringan transportasi Indonesia ketika simpul utamanya lumpuh. SABTU malam, 5 September 2026, Terminal 3 Bandara Soekarno–Hatta masih dipenuhi penumpang. Pesawat datang dan berangkat. Layar informasi terus berganti. Beberapa jam kemudian, bandara terbesar Indonesia itu berhenti. Abu vulkanik dari Gunung Anak…

Baca Selengkapnya...