R Bestian

Malapari Menjanjikan SAF, tetapi Siapa Menjamin Bahan Bakunya?

MALAPARI mulai mendapat tempat baru dalam peta transisi energi Indonesia. Tanaman bernama ilmiah Pongamia pinnata itu tidak hanya menghasilkan minyak nabati yang dapat diolah menjadi biodiesel. Minyak bijinya juga dinilai berpotensi menjadi bahan baku bahan bakar penerbangan berkelanjutan atau sustainable aviation fuel (SAF). Prospek tersebut diperkenalkan Badan Riset dan Inovasi Nasional dalam Capacity Building dan…

Baca Selengkapnya...

Mesin Hidrogen Airbus Melaju, Bandara Masih Tertinggal

INDUSTRI penerbangan mulai membawa hidrogen keluar dari laboratorium. Airbus dan MTU Aero Engines berencana membentuk perusahaan patungan untuk mengembangkan sekaligus mengomersialkan mesin pesawat listrik berbasis sel bahan bakar hidrogen. Entitas baru itu ditargetkan mulai beroperasi pada 2027. Tugasnya tidak berhenti pada riset. Perusahaan akan menangani pengembangan teknologi, desain, pengujian, sertifikasi, hingga komersialisasi sistem propulsi. Langkah…

Baca Selengkapnya...

Audit PLTU, Listrik Andal Tak Cukup Batu Bara

PEMADAMAN listrik bergilir yang sempat terjadi di sejumlah wilayah Jawa membuka persoalan yang lebih besar daripada sekadar kekurangan batu bara. Indonesia memiliki pembangkit dalam jumlah besar. Produksi batu bara nasional juga mencapai ratusan juta ton setiap tahun. Namun, ketika sejumlah pembangkit terganggu dan pasokan bahan bakar tidak sesuai kebutuhan mesin, cadangan sistem dapat menyusut dengan…

Baca Selengkapnya...

Panas Ekstrem Bukan Lagi Cuaca Biasa

Gelombang panas Eropa menjadi alarm bagi Indonesia. Risiko panas tidak cukup dibaca sebagai urusan suhu, tetapi sebagai isu kesehatan, kota, dan produktivitas. PANAS ekstrem yang melanda Eropa sejak akhir Juni 2026 menjadi pengingat keras bagi banyak negara, termasuk Indonesia. Gelombang panas itu memecahkan rekor suhu di berbagai wilayah, menekan aktivitas warga, dan menimbulkan dampak serius…

Baca Selengkapnya...

Penangkap Karbon Tak Cukup di Laboratorium

KARBON dioksida bisa ditangkap. Tetapi pertanyaan besarnya belum selesai. Apakah teknologi itu bisa bekerja di industri nyata? Di titik ini, riset material penangkap karbon menjadi penting. Selama ini, pembicaraan tentang Carbon Capture, Utilization, and Storage atau CCUS lebih sering bergerak di level proyek besar. Ada pabrik. Ada pipa. Ada sumur penyimpanan. Ada biaya investasi raksasa….

Baca Selengkapnya...

Perusahaan Global Menagih Negara Mempercepat Elektrifikasi

Dorongan 112 perusahaan global menunjukkan elektrifikasi tidak lagi sekadar agenda iklim. Bagi Indonesia, kesiapan grid, listrik bersih, dan regulasi akan makin menentukan daya saing investasi. ELEKTRIFIKASI tidak lagi cukup dibaca sebagai agenda iklim. Ketika 112 perusahaan global meminta pemerintah mempercepat peralihan dari energi fosil ke listrik bersih, pesan yang muncul lebih luas. Daya saing ekonomi…

Baca Selengkapnya...

El Niño 2026 Tidak Ekstrem, tapi Kemarau Bisa Lebih Panjang

El Niño 2026 diperkirakan tidak akan mencapai level ekstrem. Namun, risiko yang lebih dekat bagi Indonesia bukan kepanikan terhadap “Godzilla El Niño”, melainkan kemarau yang bisa berlangsung lebih panjang dan menekan air, pangan, serta risiko kebakaran lahan. ISU kemunculan El Niño ekstrem pada 2026 tidak perlu dibaca dengan kepanikan. Badan Riset dan Inovasi Nasional atau…

Baca Selengkapnya...

Big Tech Bangun Pasar Baru Penghapus Karbon

PASAR penghapus karbon sedang memasuki fase baru. Frontier, koalisi pembeli yang didukung sejumlah perusahaan teknologi besar, mendapat komitmen baru senilai US$915 juta, atau sekitar Rp16,3 triliun, untuk mempercepat pembelian carbon dioxide removal atau CDR.Dana ini menjadi sinyal bahwa penghapusan karbon mulai bergerak dari eksperimen sukarela menuju bagian penting dari strategi net zero. Carbon dioxide removal…

Baca Selengkapnya...