Serial SustainReview: Longevity Economy — Bagian 2/4
PASAR kerja masih sering membaca usia sebagai batas. Lowongan kerja memasang syarat umur. Kandidat usia matang dianggap terlalu mahal, kurang adaptif, atau tidak lagi cocok dengan ritme organisasi modern.
Padahal, usia hidup manusia makin panjang. Banyak orang berusia 55, 60, bahkan 62 tahun masih sehat, aktif, berpengalaman, dan ingin tetap produktif. Mereka tidak selalu meminta kembali ke posisi lama. Banyak yang bisa masuk ke ruang kerja baru sebagai mentor, trainer, instruktur, konsultan, pendamping usaha, pengajar vokasi, atau pekerja berbasis proyek.
Di sinilah longevity economy perlu dibaca dari pasar kerja.
Longevity economy dalam pasar kerja adalah kerangka ekonomi yang memberi ruang bagi orang usia matang untuk tetap bekerja, belajar ulang, berganti peran, dan berkontribusi sesuai kapasitas, pengalaman, jejaring, serta keterampilan yang relevan.
Baca juga: Setelah Bonus Demografi, Indonesia Perlu Longevity Economy
Pasar kerja Indonesia perlu berhenti menutup peluang hanya karena angka usia. Sebab umur panjang membuat pengalaman, jejaring, dan kemampuan adaptasi pekerja usia matang menjadi aset ekonomi yang masih bisa menghasilkan nilai.
World Economic Forum atau WEF, dalam white paper Future-Proofing the Longevity Economy: Innovations and Key Trends yang terbit pada Maret 2025, menyebut transisi dari pola hidup linear menuju hidup multistage dapat meningkatkan kualitas hidup, keamanan finansial, sekaligus memanfaatkan potensi pekerja usia matang untuk inovasi dan pertumbuhan ekonomi.
Pasar Kerja Terjebak Asumsi Lama
WEF mencatat hingga 25 persen orang berusia 55 tahun ke atas secara global ingin tetap bekerja pada usia tua, tetapi masih menghadapi hambatan untuk mendapatkan peluang. Laporan yang sama menekankan perlunya pekerjaan dan pembangunan keterampilan berevolusi agar orang bisa memperpanjang masa kerja sesuai keinginan dan kapasitasnya.
Angka ini penting karena pasar kerja sering kali masih bergerak dengan asumsi lama. Produktivitas dianggap puncaknya hanya terjadi pada usia muda. Setelah usia tertentu, pekerja diperlakukan seolah mendekati akhir kontribusi.
Cara baca itu makin tidak memadai.
Baca juga:Â Blue Zone 2.0, Bagaimana Singapura Mendesain Kota untuk Umur Panjang
Dalam longevity economy, karier tidak lagi selalu bergerak lurus dari sekolah, bekerja, lalu pensiun. Orang bisa berganti peran, mengambil jeda, belajar ulang, merawat keluarga, membangun usaha, lalu kembali bekerja dalam bentuk yang berbeda. WEF menyebut masa depan kerja dan hidup membutuhkan sistem yang fleksibel dan inklusif, termasuk akses pembelajaran sepanjang hayat, dukungan bagi caregiver, dan tabungan pensiun yang memadai.
Ini berarti pekerja usia matang tidak harus selalu bersaing dalam format kerja lama. Mereka bisa mengisi ruang ekonomi baru.
Seorang profesional berusia 60 tahun, misalnya, mungkin tidak lagi ingin bekerja penuh waktu di struktur korporasi yang kaku. Namun, pengalaman puluhan tahun bisa menjadi modal untuk melatih pekerja muda, mendampingi UMKM, menjadi instruktur vokasi, membangun modul pelatihan, mengajar kepemimpinan, menjadi konsultan proyek, atau menjembatani jejaring bisnis lintas generasi.

Masalahnya, banyak pintu kerja tertutup terlalu cepat.
Batas usia administratif sering lebih dominan daripada penilaian kapasitas. Padahal, yang seharusnya diuji adalah kesehatan, kompetensi, relevansi keterampilan, rekam jejak, kemampuan belajar, dan kecocokan peran.
WEF juga menempatkan peran pemberi kerja sebagai salah satu pilar longevity economy. Dukungan terhadap kesejahteraan finansial pekerja tidak hanya dibaca sebagai manfaat bagi karyawan, tetapi juga sebagai investasi bagi ketahanan dan keberhasilan organisasi.
Baca juga:Â Kematian Iklim Tak Merata, Adaptasi Menentukan Siapa Bertahan
Artinya, perusahaan yang mampu mengelola tenaga kerja lintas usia tidak hanya menjalankan agenda sosial. Perusahaan sedang membangun daya tahan organisasi.
Implikasi Kebijakan
Longevity economy menuntut perubahan cara pandang terhadap usia di pasar kerja.
Pertama, batas usia dalam lowongan kerja perlu dievaluasi. Tidak semua pekerjaan bisa dibuka tanpa syarat fisik tertentu. Namun, tidak semua pekerjaan juga membutuhkan batas umur yang kaku. Untuk banyak posisi berbasis pengetahuan, pengalaman, pelatihan, pendampingan, analisis, relasi, dan manajemen risiko, usia matang justru bisa menjadi keunggulan.
Kedua, perusahaan perlu membangun desain kerja yang lebih lentur. Pekerja usia matang bisa masuk melalui skema paruh waktu, kontrak proyek, advisory, mentoring, pelatihan internal, instruktur, atau konsultan. Dengan begitu, pengalaman tidak hilang begitu seseorang melewati angka usia tertentu.
Ketiga, negara perlu mendorong reskilling dan lifelong learning untuk usia matang. Pelatihan kerja tidak boleh hanya diarahkan kepada pencari kerja muda. Mereka yang berusia 50 tahun ke atas juga membutuhkan akses pembaruan keterampilan, terutama di bidang digital, keuangan, kewirausahaan, vokasi, dan ekonomi hijau.
Keempat, pasar kerja perlu mengurangi ageism. Diskriminasi usia sering muncul secara halus. Dianggap lambat, tidak digital, sulit diarahkan, atau terlalu senior. Padahal, banyak pekerja usia matang justru bisa menjadi jembatan pengetahuan, penjaga etika kerja, dan penghubung jejaring yang tidak dimiliki pekerja muda.
Kelima, Indonesia perlu membaca pekerja usia matang sebagai bagian dari produktivitas nasional. Dalam masyarakat yang hidup lebih panjang, kontribusi ekonomi tidak boleh berhenti hanya karena seseorang melewati usia pensiun formal.
Ini bukan berarti semua orang harus terus bekerja sampai tua. Pilihan untuk pensiun tetap penting. Namun, bagi mereka yang masih sehat, mau bekerja, dan mampu memberi nilai, pasar kerja tidak semestinya menutup pintu hanya karena umur.
Longevity economy pada akhirnya mengajukan pertanyaan sederhana kepada dunia kerja, apakah usia dipakai untuk membaca kapasitas, atau sekadar menjadi pagar administratif?
Indonesia perlu menjawab pertanyaan itu sejak sekarang.
Jika umur hidup makin panjang, maka peluang kerja juga harus dirancang lebih panjang, lebih lentur, dan lebih adil lintas generasi. ***
- Foto: Andrea Piacquadio/ Pexels – Longevity economy menuntut pasar kerja membaca ulang usia, pengalaman, dan keterampilan sebagai bagian dari produktivitas lintas generasi.


