1 dari 7 Anak Terpapar Timbal, Sumbernya Dekat dari Rumah

Surveilans 2025 menemukan kadar timbal darah yang memerlukan perhatian pada sekitar satu dari tujuh anak yang diperiksa. Jejak paparannya ada dekat dengan kehidupan sehari-hari.

PIRING, wajan, mainan, kosmetik, hingga cat yang mengelupas di rumah terlihat seperti benda biasa.

Namun, sebagian benda dan kondisi di sekitar rumah kini masuk dalam peta risiko paparan timbal pada anak di Indonesia.

Surveilans Kadar Timbal Darah atau SKTD tahap pertama menemukan sekitar 15% atau 1 dari 7 anak yang diperiksa memiliki kadar timbal darah sedikitnya 5 mikrogram per desiliter (µg/dL).

Sebanyak 1.609 anak usia 12–59 bulan menjalani pemeriksaan di enam provinsi. Sumatera Selatan, Lampung, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, dan Nusa Tenggara Barat.

Angka itu tidak bisa langsung dibaca sebagai prevalensi seluruh anak Indonesia. Namun, temuan tersebut memberi sinyal penting bahwa paparan timbal masih menjadi persoalan kesehatan lingkungan yang perlu ditangani lebih serius.

Tidak Ada Paparan yang Benar-benar Aman

Timbal berbahaya karena dampaknya tidak selalu langsung terlihat.

WHO menegaskan tidak ada tingkat paparan timbal yang diketahui sepenuhnya aman. Pada anak, paparan dapat mengganggu perkembangan otak dan sistem saraf, menurunkan kemampuan belajar, serta memengaruhi perilaku.

Baca juga: Polusi Jabodetabek Tidak Mengenal Batas Kota

Karena itu, angka 5 µg/dL bukan batas antara aman dan berbahaya. Dalam surveilans, angka tersebut digunakan sebagai nilai yang memerlukan perhatian dan tindak lanjut.

Anak menjadi kelompok yang sangat rentan karena tubuh dan otaknya masih berkembang.

Masalahnya, sumber paparan tidak selalu berada jauh dari mereka.

Jejak Timbal Ada di Rumah

Tim SKTD tidak hanya memeriksa darah anak. Asesmen lanjutan dilakukan terhadap 328 rumah untuk menelusuri kemungkinan sumber paparan.

Berbagai benda dan unsur lingkungan diperiksa, mulai dari tanah, debu, cat, pakaian, alat masak, alat makan, hingga mainan.

Hasilnya cukup mencolok.

Dari sampel yang diperiksa, timbal di atas nilai ambang ditemukan pada 71% alat masak logam, 52% alat makan keramik, serta 24% mainan anak.

Baca juga: Studi Menemukan, Pengonsumsi Air Kemasan Lebih Rentan Terpapar Mikroplastik

Persentase itu tentu tidak berarti tujuh dari sepuluh alat masak logam yang beredar di Indonesia pasti mengandung timbal tinggi. Angka tersebut hanya menggambarkan sampel produk yang diuji dalam asesmen rumah.

Namun, temuan itu membuka pertanyaan yang lebih besar.

Jika potensi sumber paparan berada pada benda yang digunakan setiap hari, bagaimana memastikan produk yang masuk ke rumah benar-benar aman?

Bukan Hanya Soal Produk

Paparan timbal juga berkaitan dengan kondisi lingkungan.

Anak yang tinggal di rumah dengan cat mengelupas memiliki peluang 61% lebih tinggi mengalami kadar timbal darah sedikitnya 5 µg/dL.

Pekerjaan orang tua yang berkaitan dengan timbal dan penggunaan alat masak logam juga ditemukan berasosiasi dengan kadar timbal darah yang lebih tinggi.

Grafis: Daffa Attarikh/ SustainReview

Begitu pula dengan tanah. Semakin tinggi konsentrasi timbal di tanah, semakin besar pula risiko paparan pada anak.

Temuan tersebut tidak otomatis membuktikan hubungan sebab-akibat tunggal. Surveilans menggunakan desain potong lintang, sehingga hubungan yang ditemukan masih perlu ditelusuri lebih lanjut.

Tetapi pesannya cukup jelas. Paparan timbal tidak bisa dilihat hanya sebagai persoalan medis.

Timbal juga menyangkut kualitas lingkungan, keamanan produk, standar industri, keselamatan kerja, dan pengawasan pasar.

Standar Ada, Pengawasan Menjadi Kunci

Indonesia sebenarnya sudah memiliki sejumlah standar perlindungan.

Salah satunya adalah Peraturan Menteri Perindustrian Nomor 14 Tahun 2025 yang mewajibkan penerapan SNI untuk keramik berglasir alat makan dan minum.

Regulasi penting. Tetapi standar di atas kertas belum otomatis menjamin seluruh produk yang beredar aman.

Baca juga: Polyester dalam Darah, Sinyal Baru Krisis Limbah Tekstil

Pengujian produk, kepatuhan produsen, pengawasan pasar, dan pengendalian sumber pencemaran menjadi bagian berikutnya yang menentukan.

Di titik inilah hasil surveilans menjadi relevan bagi kebijakan.

Data kesehatan seharusnya tidak berhenti pada temuan laboratorium. Ia perlu diterjemahkan menjadi petunjuk tentang produk apa yang harus diawasi, lingkungan mana yang perlu diperiksa, dan kelompok mana yang paling membutuhkan perlindungan.

Bukan Riset Satu Lembaga

SKTD tahap pertama merupakan kerja kolaboratif yang melibatkan Kementerian Kesehatan, Pusat Riset Kesehatan Masyarakat dan Gizi BRIN, Vital Strategies, serta Yayasan Pure Earth Indonesia.

Tities Puspita, peneliti Pusat Riset Kesehatan Masyarakat dan Gizi BRIN sekaligus salah satu kontributor policy brief SKTD, menekankan pentingnya memahami sumber paparan di lingkungan rumah agar langkah pencegahan bisa dilakukan lebih efektif.

Arah itu penting.

Sebab, pemeriksaan darah hanya menunjukkan bahwa paparan sudah terjadi.

Tantangan berikutnya adalah mencegah timbal masuk ke tubuh anak sejak awal.

Baca juga: Batik Hijau Tak Cukup Cantik

Indonesia juga belum memiliki sistem surveilans kadar timbal darah anak yang berjalan rutin dan luas. Akses pemeriksaan masih terbatas, baik melalui perangkat portabel maupun laboratorium.

Padahal paparan timbal sering tidak menunjukkan gejala yang mudah dikenali.

Puskesmas dapat membantu menemukan anak yang telah terpapar.

Tetapi jika sumbernya berasal dari produk konsumen, tempat kerja orang tua, cat rumah, tanah, atau lingkungan sekitar, penyelesaiannya membutuhkan kerja lintas sektor.

Kesehatan menemukan dampaknya. Industri dan pengawasan produk membantu mencegah sumbernya. Kebijakan lingkungan mengendalikan pencemarannya.

Karena itu, temuan satu dari tujuh anak seharusnya tidak berhenti menjadi angka.

Itu merupakan peringatan bahwa perlindungan anak dari timbal perlu dimulai jauh sebelum hasil pemeriksaan darah menunjukkan masalah.

Sebab, ketika timbal sudah ditemukan dalam darah anak, pencegahan sebenarnya datang terlambat. ***

  • Foto: Ilustrasi/ Polesie Toys/ Pexels Lingkungan rumah menjadi salah satu area penting dalam penelusuran sumber paparan timbal pada anak.
Bagikan