El Niño sangat kuat sedang mengeringkan sebagian wilayah Indonesia. Pemerintah merespons dengan hampir satu juta ton bantuan beras dan tambahan satu juta ton SPHP. Stok hari ini mungkin aman. Pertanyaan yang lebih besar, seberapa tahan sistem pangan jika kekeringan berlangsung hingga awal 2027?
HAMPIR satu juta ton beras akan kembali bergerak dari gudang pemerintah menuju rumah-rumah masyarakat hingga akhir tahun.
Presiden Prabowo Subianto memerintahkan bantuan pangan beras dilanjutkan pada Oktober, November, dan Desember 2026. Program itu menjangkau sekitar 33,24 juta penerima. Dengan alokasi 10 kilogram per bulan, kebutuhan beras untuk tiga bulan mendekati 997.200 ton.
Keputusan tersebut bukan sekadar program perlindungan sosial rutin.
Pemerintah menempatkannya sebagai salah satu langkah menghadapi El Niño yang berpotensi mengganggu produksi dan pasokan pangan.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan pemerintah membahas kesiapan menghadapi El Niño dalam rapat terbatas yang dipimpin Presiden pada Senin, 7 September 2026. Bantuan beras yang telah berjalan sampai September diperintahkan berlanjut sampai Desember.
Beras di meja makan untuk beberapa bulan ke depan dengan demikian relatif terlindungi.
Namun persoalan sesungguhnya berada lebih jauh ke hulu. Apa yang terjadi pada sawah ketika hujan semakin jarang turun?
El Niño Sudah Sangat Kuat
Ancaman itu bukan lagi prediksi jauh.
Analisis BMKG pada akhir Agustus menunjukkan anomali suhu muka laut di wilayah Niño 3.4 telah mencapai +2,74 derajat Celsius secara dasarian. Indeks ENSO rata-rata tiga bulanan Juni-Agustus berada di level +2,2.
BMKG mengategorikannya sebagai El Niño dengan intensitas sangat kuat.
Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani sebelumnya memperingatkan bahwa El Niño diperkirakan bertahan setidaknya hingga awal kuartal pertama 2027. Tekanan kekeringan juga dapat diperberat Indian Ocean Dipole positif pada September–Desember 2026.
September sendiri belum memberikan banyak ruang bernapas.
BMKG memperkirakan sekitar 25,41 persen luas daratan Indonesia mencapai puncak musim kemarau pada bulan ini. Hingga awal September, sebagian besar wilayah masih berada dalam musim kemarau, sementara hujan yang turun bersifat lokal dan belum cukup memperbaiki kekeringan secara merata.
Baca juga: El Niño Membuat Air, Pangan, dan Listrik Berebut Waduk
Peringatan kekeringan meteorologis bahkan telah berada pada status awas di sejumlah kabupaten dan kota di Jawa, Bali, Nusa Tenggara dan wilayah lainnya.
Inilah titik pertemuan antara iklim dan pangan.
Sawah membutuhkan air bukan hanya ketika tanaman sudah terlihat di permukaan. Ketersediaan air menentukan kalender tanam, luas tanam, produktivitas hingga peluang panen pada musim berikutnya.
Produksi Masih Aman
Pemerintah belum melihat situasi itu sebagai krisis pangan.
Menteri Pertanian sekaligus Kepala Badan Pangan Nasional Andi Amran Sulaiman mengatakan produksi dan kebutuhan pangan nasional masih aman.
“Kesimpulan semuanya, aman, aman. Produksi dan kebutuhan pangan kita aman,” kata Amran seusai rapat koordinasi pangan, Senin.
Ada dasar angka untuk optimisme tersebut.
BPS memperkirakan produksi beras Januari-Oktober 2026 mencapai sekitar 31,41 juta ton, hanya turun sekitar 0,08 persen dibanding periode sama tahun lalu. Produksi padi diperkirakan sekitar 54,52 juta ton gabah kering giling.
Baca juga: El Niño 2026 Tidak Ekstrem, tapi Kemarau Bisa Lebih Panjang
Indonesia juga memasuki 2026 setelah produksi yang kuat. Sepanjang 2025, produksi beras mencapai sekitar 34,69 juta ton, naik 13,29 persen dibanding 2024.
Bulog pada saat yang sama memegang stok beras pemerintah lebih dari 4 juta ton.
Jadi, persoalannya bukan apakah Indonesia kehabisan beras hari ini.
Persoalannya adalah bagaimana menjaga bantalan tersebut jika El Niño yang sangat kuat terus menekan musim tanam berikutnya.

Harga Mulai Bergerak
Ada sinyal lain yang perlu diperhatikan.
BPS mencatat rata-rata harga beras medium di tingkat penggilingan pada Agustus mencapai Rp13.897 per kilogram, naik 1,48 persen dari Juli. Beras premium naik 1,22 persen menjadi Rp15.062 per kilogram.
Pemerintah karena itu tidak hanya memperpanjang bantuan.
Alokasi beras program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan atau SPHP medium juga ditambah 1 juta ton, untuk disalurkan mulai Oktober-Desember dan berlanjut hingga memasuki masa panen berikutnya.
Dua intervensi besar akhirnya berjalan bersamaan.
Hampir satu juta ton beras diberikan langsung sebagai jaring pengaman sosial. Satu juta ton lainnya disiapkan untuk menjaga pasokan dan harga di pasar.
Itu penting.
Tetapi, dua kebijakan tersebut terutama bekerja setelah risiko iklim mulai berubah menjadi tekanan ekonomi.
Jangan Hanya Menjaga Gudang
Ketahanan pangan terhadap iklim membutuhkan lapisan perlindungan yang lebih panjang.
Air untuk pertanian harus tersedia. Kalender tanam perlu mengikuti informasi iklim. Varietas tahan kekeringan harus menjangkau petani. Infrastruktur irigasi perlu bekerja ketika hujan berhenti. Produksi juga tidak semestinya bergantung terlalu besar pada satu jenis pangan.
Badan Pangan Nasional mulai mendorong arah terakhir itu.
Direktur Penganekaragaman Konsumsi Pangan Bapanas Hamid Sangadji mengatakan perubahan iklim seharusnya mendorong petani menyesuaikan komoditas dengan kondisi lingkungannya. Sumber karbohidrat, menurut dia, tidak hanya beras, tetapi juga jagung dan umbi-umbian.
Perspektif tersebut menjadi penting karena perubahan iklim membuat gangguan produksi semakin sulit diperlakukan sebagai kejadian sesaat.
Baca juga: Super El Niño Berpotensi Ubah Krisis Iklim Jadi Krisis Ekonomi Global Baru
Tekanan juga tidak datang dari Indonesia saja.
FAO mencatat indeks harga pangan dunia pada Agustus 2026 mencapai level tertinggi sejak akhir 2022. Harga pangan global naik di tengah gangguan cuaca ekstrem, konflik geopolitik dan persoalan perdagangan.
Artinya, ketika produksi domestik terganggu, pilihan mendapatkan pasokan dari luar negeri pun belum tentu selalu murah dan mudah.
Ujian Ada pada Panen Berikutnya
Bantuan beras tetap diperlukan.
Bagi puluhan juta keluarga, sepuluh kilogram beras per bulan dapat menjadi bantalan ketika harga pangan naik atau pendapatan tertekan.
Cadangan pemerintah yang besar juga merupakan kekuatan.
Tetapi, keberhasilan menghadapi El Niño tidak cukup diukur dari berapa ton beras yang berhasil dikeluarkan dari gudang.
Baca juga: Mengatur Hujan untuk Menghadapi El Niño
Ukuran sesungguhnya adalah apakah sawah tetap dapat ditanami, petani tidak kehilangan produksi, harga tetap terjangkau, dan masyarakat tidak semakin bergantung pada intervensi darurat setiap kali pola hujan berubah.
Hampir satu juta ton beras dapat menjaga meja makan sampai Desember.
El Niño mungkin bertahan sampai 2027.
Di situlah ketahanan pangan Indonesia benar-benar diuji. ***
- Foto: Faizal Ortho/ Pexels – Musim kering yang memanjang meningkatkan risiko terhadap produksi pangan, terutama di wilayah yang bergantung pada ketersediaan air. BMKG memperkirakan El Niño sangat kuat masih dapat bertahan hingga awal 2027.


