El Niño 2026 Tidak Ekstrem, tapi Kemarau Bisa Lebih Panjang

El Niño 2026 diperkirakan tidak akan mencapai level ekstrem. Namun, risiko yang lebih dekat bagi Indonesia bukan kepanikan terhadap “Godzilla El Niño”, melainkan kemarau yang bisa berlangsung lebih panjang dan menekan air, pangan, serta risiko kebakaran lahan.

ISU kemunculan El Niño ekstrem pada 2026 tidak perlu dibaca dengan kepanikan.

Badan Riset dan Inovasi Nasional atau BRIN menyatakan peluang terjadinya Godzilla El Niño pada tahun ini sangat kecil. Istilah itu merujuk pada El Niño dengan intensitas sangat kuat yang dapat memicu kekeringan ekstrem dan gangguan iklim luas.

Namun, kecilnya peluang El Niño ekstrem bukan berarti risiko iklim menghilang.

BRIN memperkirakan kondisi iklim global saat ini lebih mengarah pada El Niño kategori moderat dengan peluang sekitar 27 persen. Pada saat yang sama, peluang terjadinya kemarau yang lebih panjang diperkirakan mencapai sekitar 81 persen. Puncak musim kemarau 2026 diperkirakan terjadi pada Agustus.

Indonesia kemungkinan tidak menghadapi El Niño super ekstrem pada 2026, tetapi tetap perlu bersiap menghadapi musim kering yang lebih panjang dari kondisi normal.

Bukan Sekadar Cuaca

El Niño adalah fenomena pemanasan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur. Pemanasan ini mengubah pola sirkulasi atmosfer dan menggeser pusat pembentukan awan hujan.

Bagi Indonesia, dampaknya bisa terasa langsung.

Dalam kondisi normal, perairan Indonesia yang hangat menjadi salah satu pusat pembentukan awan dan hujan. Saat El Niño terjadi, pusat pembentukan awan dapat bergeser ke arah Pasifik Tengah. Akibatnya, curah hujan di banyak wilayah Indonesia berkurang.

Baca juga: Mengatur Hujan untuk Menghadapi El Niño

Karena itu, El Niño tidak bisa hanya dipahami sebagai istilah cuaca.

Fenomena ini berhubungan dengan ketersediaan air, jadwal tanam, risiko gagal panen, kebakaran hutan dan lahan, serta tekanan pada wilayah yang sudah rentan kekeringan. Dalam konteks perubahan iklim, El Niño menjadi ujian terhadap daya tahan sistem pangan, tata kelola air, dan kesiapsiagaan daerah.

Risiko Kemarau Panjang

Kepala Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN, Albertus Sulaiman, menyatakan El Niño 2026 diperkirakan tidak mencapai tingkat ekstrem seperti El Niño kuat pada 1997 dan 2015. Namun, musim kemarau tetap diprediksi berlangsung lebih lama dengan curah hujan di bawah rata-rata klimatologis.

Mengutip laman resmi BRIN, Albertus menekankan bahwa isu Godzilla El Niño pada 2026 sebaiknya tidak dibaca dengan kepanikan. Risiko yang lebih dekat justru terletak pada kemarau yang lebih panjang, curah hujan yang lebih rendah, serta tekanan lanjutan terhadap ketersediaan air, produksi pangan, dan potensi kebakaran lahan.

Dalam konteks itu, sejumlah wilayah di Pulau Jawa, khususnya Jawa Barat, perlu memberi perhatian lebih.

Baca juga: Super El Niño Berpotensi Ubah Krisis Iklim Jadi Krisis Ekonomi Global Baru

BRIN menyebut Bekasi, Cirebon, Kuningan, dan Kota Bandung sebagai wilayah yang berpotensi mengalami kondisi sangat kering. Dalam situasi seperti ini, isu utama bukan hanya kurangnya hujan, tetapi juga kesiapan sistem air baku, irigasi, cadangan pangan, serta perlindungan kelompok rentan.

Kemarau panjang dapat menekan rumah tangga, petani, usaha kecil, dan pemerintah daerah pada saat yang sama.

Ketika pasokan air berkurang, biaya adaptasi meningkat. Petani perlu menyesuaikan pola tanam. Pemerintah daerah perlu memastikan distribusi air. Sektor pangan perlu membaca ulang risiko produksi. Di wilayah gambut dan hutan, risiko kebakaran juga perlu diantisipasi lebih awal.

Sinyal 2027–2028

Ada satu hal penting yang membuat laporan BRIN ini tidak berhenti pada 2026.

BRIN menemukan sinyal peningkatan risiko El Niño ekstrem pada periode akhir 2027 hingga pertengahan 2028. Melalui pendekatan analisis stokastik menggunakan Persamaan Fokker-Planck, peluang kemunculan Godzilla El Niño pada periode itu diperkirakan meningkat hingga mendekati 40 persen.

Artinya, 2026 bisa dibaca sebagai ruang persiapan.

Baca juga: El Nino Bisa Diprediksi 15 Bulan, tapi Sistem Masih Reaktif

Jika tahun ini peluang El Niño ekstrem relatif kecil, maka kebijakan publik tidak boleh berhenti pada pesan “tidak perlu panik”. Justru pada fase risiko yang masih terkendali, pemerintah pusat, daerah, sektor pangan, dan pengelola kawasan rentan punya waktu untuk memperkuat sistem adaptasi.

Grafis: Daffa Attarikh/ SustainReview.

Peringatan dini hanya berguna jika diterjemahkan menjadi keputusan.

Keputusan itu bisa berupa penguatan cadangan air, pemetaan wilayah rawan kering, penyesuaian kalender tanam, perlindungan lahan gambut, serta kesiapan teknologi pemantauan kebakaran hutan dan lahan.

Adaptasi Jadi Kunci

BRIN menyebut sejumlah teknologi mitigasi telah dikembangkan untuk menghadapi dampak kemarau panjang. Salah satunya sistem pemantauan lahan gambut secara real time melalui platform Ina-Carbon.

Sistem ini dirancang untuk memantau tinggi muka air tanah, kelembapan tanah, curah hujan, dan kualitas udara. Dengan pemantauan lebih dini, kondisi kritis lahan gambut dapat terdeteksi satu hingga dua minggu sebelum kebakaran hutan dan lahan terjadi.

Di sisi penanggulangan, BRIN juga mengembangkan drone pemadam kebakaran untuk menjangkau lokasi terpencil yang sulit diakses petugas lapangan.

Baca juga: El Nino 2026: Stress Test Ketahanan Pangan, Energi, dan Air Indonesia

Sementara di sektor pangan, teknologi adaptasi diarahkan pada sistem irigasi hemat air, pengelolaan sumber daya air yang lebih efisien, serta pemanfaatan lahan suboptimal seperti rawa lebak sebagai alternatif produksi pangan saat lahan pertanian konvensional mengalami tekanan air.

Di sinilah isu El Niño menjadi lebih luas daripada prakiraan cuaca.

Kesiapan menghadapi kemarau panjang tidak hanya ditentukan oleh model iklim, tetapi juga oleh kemampuan institusi membaca data, menggerakkan teknologi, dan menyiapkan respons sebelum dampak meluas.

Jangan Panik, tapi Siap

Pesan utama dari El Niño 2026 bukan kepanikan.

Peluang Godzilla El Niño tahun ini sangat kecil. Kondisi Indian Ocean Dipole atau IOD juga berada pada fase netral. Selain itu, kawasan Pasifik baru saja mengalami El Niño kuat pada periode 2023–2024, sehingga secara fisik lautan belum memiliki cukup energi untuk kembali membentuk El Niño super ekstrem dalam waktu yang dekat.

Namun, pesan “tidak perlu panik” tidak boleh berubah menjadi “tidak perlu bersiap”.

Kemarau yang lebih panjang tetap dapat menimbulkan tekanan serius, terutama di wilayah yang bergantung pada curah hujan, memiliki sistem irigasi terbatas, atau rawan kebakaran lahan. Dalam konteks perubahan iklim, risiko tidak selalu hadir sebagai bencana besar yang tiba-tiba. Risiko juga bisa datang perlahan melalui musim kering yang memanjang.

Baca juga: Krisis Iklim Global Menekan Arus Laut Selatan Jawa

Indonesia membutuhkan kesiapan yang lebih rapi.

Pengelolaan air harus diperkuat. Risiko karhutla perlu dipantau lebih dini. Kalender tanam perlu disesuaikan. Sistem pangan harus lebih adaptif. Pemerintah daerah perlu memiliki peta risiko yang operasional, bukan hanya dokumen peringatan.

El Niño 2026 mungkin bukan ekstrem.

Tetapi cara Indonesia membaca dan menyiapkan diri terhadap kemarau panjang akan menentukan seberapa besar dampak yang benar-benar dirasakan masyarakat. ***

  • Foto: Ilustrasi/ Jeffry Surianto/ PexelsKemarau yang lebih panjang dapat menekan ketersediaan air, produksi pangan, dan kesiapan wilayah pertanian menghadapi perubahan pola hujan.
Bagikan