Minapadi Salin di Batang menunjukkan bahwa lahan pesisir terdampak rob tidak selalu harus ditinggalkan. Dengan riset dan sistem produksi adaptif, lahan salin bisa dibaca ulang sebagai sumber pangan dan ekonomi baru.
LAHAN pesisir yang terdampak rob sering dianggap selesai.
Air laut masuk. Tanah berubah asin. Produktivitas turun. Petani kehilangan ruang tanam. Dalam banyak kasus, sawah yang dulu menjadi sumber penghidupan perlahan berubah menjadi lahan marginal.
Namun, cara pandang itu mulai digeser.
Badan Riset dan Inovasi Nasional atau BRIN menghadirkan program Minapadi Salin di Kabupaten Batang, Jawa Tengah. Program ini diarahkan untuk menghidupkan kembali lahan pesisir yang terdampak rob dan intrusi air laut.
Baca juga: Bumi Tertekan, Studi Ungkap 31 Juta Km² Lahan Telah Dimodifikasi
Minapadi Salin adalah sistem budidaya terpadu di lahan berkadar garam tinggi yang menggabungkan padi toleran salinitas, ikan nila salin, dan rumput laut dalam satu kawasan produksi.
Minapadi Salin penting karena menawarkan cara adaptif mengubah lahan pesisir terdampak rob menjadi sistem pangan produktif berbasis riset.
Di Batang, program ini dijalankan pada lahan pesisir yang selama bertahun-tahun mengalami penurunan produktivitas. Sebagian lahan bahkan tidak lagi dimanfaatkan secara optimal karena rob dan kadar garam yang tinggi.
Pangan dari Lahan Salin
Isu ini penting karena perubahan iklim membuat tekanan terhadap pesisir semakin nyata. Rob, intrusi air laut, abrasi, dan penurunan muka tanah membuat model pertanian lama makin sulit dipertahankan di banyak kawasan.
Dalam situasi seperti itu, pilihan kebijakan tidak bisa hanya dua, membangun tanggul atau meninggalkan lahan.
Ada pilihan ketiga, yaitu menyesuaikan sistem produksi dengan kondisi lingkungan baru.
Minapadi Salin bergerak di ruang itu. Padi yang digunakan harus lebih toleran terhadap salinitas. Ikan yang dibudidayakan harus mampu hidup dalam kondisi air payau. Rumput laut masuk sebagai komoditas tambahan yang sesuai dengan karakter pesisir.
Baca juga: AI Mengubah Tata Kelola Abrasi dan Rob di Pantura
Dengan pendekatan ini, satu kawasan tidak hanya bergantung pada satu hasil produksi. Lahan yang semula dianggap rusak dapat menghasilkan beberapa sumber nilai sekaligus.
Model ini juga memperlihatkan bahwa ketahanan pangan tidak selalu datang dari perluasan sawah baru. Ketahanan pangan juga bisa dibangun dengan membaca ulang lahan yang sudah ada, terutama lahan yang terdampak perubahan lingkungan.
Di sinilah riset menjadi penting. Tanpa riset, lahan salin hanya dilihat sebagai masalah. Dengan riset, lahan salin bisa menjadi basis adaptasi.

Teknologi Pendukung Produksi
BRIN tidak hanya membawa konsep budidaya terpadu. Program ini juga memasukkan teknologi pendukung seperti pupuk lepas lambat atau slow release fertilizer.
Teknologi ini dirancang agar unsur hara tersedia secara bertahap sesuai kebutuhan tanaman. Pada lahan dengan kadar garam tinggi, efisiensi pemupukan menjadi penting karena unsur hara lebih mudah hilang atau tidak terserap optimal.
Selain itu, teknologi desalinasi air juga dikembangkan untuk mendukung kegiatan budidaya di kawasan pesisir. Air dengan kadar garam lebih rendah dapat membantu sistem produksi berjalan lebih stabil.
Baca juga: 12,4 Juta Hektar Lahan Kritis, Bisakah Ekologi dan Ekonomi Berjalan Seiring?
Pendekatan ini menunjukkan arah baru pengelolaan lahan pesisir. Pertanian dan perikanan tidak lagi berdiri sendiri, tetapi dirancang sebagai satu sistem produksi yang mempertimbangkan efisiensi sumber daya, dampak lingkungan, dan nilai ekonomi.
BRIN menyebut pendekatan ini sebagai bagian dari Green Manufacturing. Dalam konteks pangan pesisir, istilah ini berarti sistem produksi dirancang tidak hanya untuk mengejar hasil, tetapi juga mengurangi pemborosan sumber daya dan membaca dampak lingkungan secara lebih terukur.
Model Adaptasi Baru
Pelajaran penting dari Batang adalah kolaborasi.
Program seperti Minapadi Salin tidak bisa berdiri hanya sebagai proyek riset. Agar bertahan, program ini membutuhkan pemerintah daerah, kelompok tani, dunia usaha, akademisi, pasar, serta pendampingan teknis yang konsisten.
Tantangan berikutnya adalah replikasi.
Indonesia memiliki banyak wilayah pesisir yang menghadapi masalah serupa. Namun, setiap kawasan memiliki karakter tanah, air, sosial, dan ekonomi yang berbeda. Karena itu, replikasi Minapadi Salin tidak bisa dilakukan dengan menyalin model secara mentah.
Baca juga: Masa Depan Bertani Ada di Tangan AI dan Robot
Yang perlu direplikasi adalah pendekatannya. Membaca kondisi lokal, memilih komoditas yang sesuai, memastikan teknologi pendukung tersedia, dan membangun pasar bagi hasil produksi.
Jika berhasil, lahan rob tidak lagi hanya menjadi simbol kerentanan pesisir. Lahan tersebut dapat menjadi ruang adaptasi iklim, sumber pangan baru, dan basis ekonomi masyarakat pesisir.
Batang memberi sinyal penting. Masa depan pesisir Indonesia tidak hanya ditentukan oleh seberapa tinggi tanggul dibangun, tetapi juga seberapa serius negara menyiapkan sistem produksi yang mampu hidup bersama perubahan lingkungan. ***
- Foto: Ilustrasi/ Tom Fisk/ Pexels – Lahan pesisir dan area pertanian tergenang. Program Minapadi Salin di Batang mencoba membaca ulang lahan salin sebagai sumber pangan dan ekonomi baru.


