Lebah terbukti membantu pembentukan buah kopi. Sejumlah penelitian juga menemukan gelombang radio dapat memengaruhi perilaku lebah. Namun, sains belum menemukan bukti langsung bahwa sinyal telekomunikasi telah menurunkan produksi kopi.
BUNGA kopi hanya membuka pintunya dalam waktu singkat.
Ketika bunga-bunga putih itu bermekaran, lebah datang membawa serbuk sari dari satu bunga ke bunga lain. Pertemuan singkat tersebut ikut menentukan berapa banyak buah yang terbentuk, seberapa seragam bijinya, dan pada akhirnya berapa banyak kopi yang dapat dipanen.
Karena itu, ketika lebah terlihat semakin jarang di sekitar kebun, kegelisahan mudah muncul.
Salah satu dugaan yang beredar di kalangan pelaku usaha kopi adalah meningkatnya paparan frekuensi telepon seluler dan infrastruktur telekomunikasi. Gelombang radio itu dianggap mengganggu lebah, menekan perkembangbiakannya, lalu mengurangi penyerbukan bunga kopi.
Dugaan tersebut terdengar masuk akal. Lebah diketahui memiliki kemampuan navigasi yang peka terhadap lingkungan. Namun, apakah rantai sebab-akibat itu sudah dibuktikan?
Jawabannya belum.
Sampai sekarang, belum ditemukan penelitian lapangan yang membuktikan secara utuh bahwa paparan sinyal telekomunikasi di perkebunan menyebabkan populasi lebah menurun, kemudian menekan penyerbukan dan akhirnya mengurangi hasil kopi.
Namun, itu tidak berarti pertanyaannya boleh diabaikan.
Lebah Bukan Sekadar Pengunjung Bunga
Peran lebah dalam produksi kopi telah dibuktikan dalam sejumlah penelitian.
Alexandra-Maria Klein, Ingolf Steffan-Dewenter, dan Teja Tscharntke meneliti penyerbukan kopi di Sulawesi. Hasilnya diterbitkan dalam American Journal of Botany pada 2003 dengan judul Bee Pollination and Fruit Set of Coffea arabica and C. canephora.
Penelitian tersebut membandingkan bunga yang dapat dikunjungi lebah dengan bunga yang tidak memperoleh penyerbukan silang.
Pada kopi Arabika yang mampu menyerbuki dirinya sendiri, tidak adanya penyerbukan silang oleh lebah membuat pembentukan buah sekitar 12,3 persen lebih rendah. Pada jenis kopi yang membutuhkan penyerbukan silang, pengaruh kehadiran lebah bahkan lebih menentukan.
Pada tahun yang sama, ketiga peneliti itu menerbitkan penelitian lain dalam Proceedings of the Royal Society B. Studi tersebut menemukan bahwa pembentukan buah kopi dataran tinggi meningkat ketika jumlah dan keragaman lebah penyerbuk bertambah.
Penilaian global yang diterbitkan dalam jurnal Agriculture, Ecosystems & Environment pada 2022 memperkuat gambaran itu. Setelah menggabungkan hasil penelitian dari berbagai kawasan produksi, para peneliti memperkirakan penyerbukan oleh hewan meningkatkan pembentukan buah Arabika rata-rata sekitar 18 persen. Keberadaan hutan dan habitat alami di sekitar perkebunan juga berhubungan dengan tersedianya komunitas penyerbuk.
Temuan tersebut memperlihatkan bahwa lebah merupakan bagian dari infrastruktur produksi kopi.
Petani dapat menyediakan tanaman, pupuk, air, dan tenaga kerja. Namun, sebagian proses pembentukan buah tetap bergantung pada jasa ekosistem yang bekerja tanpa tercatat dalam neraca usaha.
Ketika jasa itu terganggu, produktivitas kebun dapat ikut terpengaruh.
Gelombang Radio Memengaruhi Lebah?
Pertanyaan berikutnya adalah apakah gelombang radio dari teknologi komunikasi dapat mengganggu lebah.
Pada 2023, tim peneliti yang dipimpin Maren Treder memaparkan koloni lebah madu pada medan elektromagnetik radio terkontrol dengan frekuensi 2,4 dan 5,8 gigahertz. Kedua rentang frekuensi itu juga digunakan dalam berbagai teknologi nirkabel.
Penelitian yang dimuat dalam jurnal Science of the Total Environment tersebut menemukan penurunan kemampuan sebagian lebah pencari makan untuk kembali ke sarang setelah paparan jangka panjang.
Namun, penelitian yang sama tidak menemukan pengaruh berarti terhadap perkembangan anakan maupun umur lebah dewasa. Dengan kata lain, eksperimen itu menunjukkan kemungkinan gangguan terhadap kemampuan kembali ke sarang, tetapi tidak membuktikan terjadinya penyusutan koloni.
Hasil yang lebih spesifik muncul dalam penelitian terhadap perkembangan ratu lebah.
Robin Odemer dan koleganya memaparkan larva calon ratu lebah pada radiasi frekuensi radio 900 megahertz selama tahap perkembangan sebelum dewasa. Hasilnya diterbitkan dalam Science of the Total Environment pada 2019.
Paparan kronis menurunkan keberhasilan ratu mencapai tahap menetas. Kematian terutama terjadi pada fase kepompong. Meski demikian, ratu yang berhasil bertahan tetap dapat kawin dan membangun koloni secara normal.
Penelitian itu penting karena memperlihatkan potensi dampak pada perkembangan lebah. Namun, kondisi eksperimen tidak dapat langsung disamakan dengan paparan yang dialami koloni di kebun kopi.
Sumber sinyal, jarak pemancar, kekuatan medan, lama paparan, jenis frekuensi, dan posisi sarang dapat menghasilkan kondisi yang sangat berbeda.
Studi terbaru juga menunjukkan respons yang tidak seragam antarjenis lebah.
Dalam penelitian yang diterbitkan di Environmental Pollution pada 2025, paparan frekuensi 2,4 dan 5,8 gigahertz menurunkan tingkat kunjungan bumblebee ke bunga. Akan tetapi, perlakuan yang sama tidak menghasilkan perubahan berarti pada perilaku mencari makan lebah madu.

Sementara itu, penelitian Pawel Migdał dan koleganya dalam jurnal Agriculture pada 2025 menemukan frekuensi radio 900 megahertz memengaruhi sejumlah perilaku lebah madu dibandingkan kelompok kontrol. Namun, para peneliti juga menegaskan bahwa tidak seluruh perbedaannya signifikan secara statistik.
Kumpulan hasil itu belum membentuk satu kesimpulan sederhana.
Ada penelitian yang menemukan gangguan navigasi, perubahan perilaku, atau hambatan perkembangan. Ada pula hasil yang berbeda antara lebah madu dan bumblebee. Belum ada dasar ilmiah yang cukup untuk mengatakan seluruh paparan frekuensi telekomunikasi otomatis membuat lebah berhenti berkembang biak.
Mata Rantai yang Masih Hilang
Agar dugaan tentang produksi kopi dapat dinyatakan benar, penelitian harus membuktikan sedikitnya empat tahap.
Pertama, tingkat paparan medan elektromagnetik perlu diukur langsung di perkebunan.
Kedua, peneliti harus membandingkan jumlah, keragaman, kesehatan, dan aktivitas lebah pada kebun dengan tingkat paparan berbeda.
Ketiga, kunjungan lebah dan keberhasilan penyerbukan bunga kopi harus dihitung.
Keempat, perubahan tersebut perlu dihubungkan dengan pembentukan buah, mutu biji, dan hasil panen—sambil memisahkannya dari pengaruh hujan, suhu, pestisida, penyakit, ketersediaan pakan, serta perubahan penggunaan lahan.
Penelitian dengan rangkaian lengkap seperti itu belum ditemukan.
Karena itu, berkurangnya lebah dan menurunnya produksi yang terjadi bersamaan belum otomatis menunjukkan hubungan sebab-akibat.
Keduanya mungkin justru dipengaruhi faktor yang sama.
Hujan berlebihan, misalnya, dapat mengganggu bunga dan perkembangan buah sekaligus membatasi waktu lebah mencari makan. Berkurangnya habitat dapat menghilangkan tempat bersarang dan sumber makanan lebah di luar musim bunga kopi. Pestisida juga dapat menekan penyerbuk tanpa langsung membunuhnya.
Hujan Lebat Lebih Terbukti Menekan Produksi
Data produksi kopi Indonesia terbaru masih lebih kuat menunjuk cuaca sebagai penyebab penurunan hasil.
Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa atau FAO, dalam publikasinya pada Maret 2025, menyatakan produksi kopi Indonesia pada musim 2023/2024 turun 16,5 persen dibandingkan musim sebelumnya.
FAO menghubungkan penurunan itu dengan hujan berlebihan pada April dan Mei 2023 yang merusak buah kopi. Ekspor kopi Indonesia pada periode tersebut juga turun sekitar 23 persen.
Tekanan serupa kembali terlihat dalam proyeksi terbaru.
Foreign Agricultural Service Departemen Pertanian Amerika Serikat atau USDA, dalam laporan Indonesia: Coffee Annual yang diterbitkan pada 15 Mei 2026, memperkirakan produksi biji kopi hijau Indonesia turun 8 persen menjadi 11,38 juta kantong berukuran 60 kilogram pada musim 2026/2027.
Laporan tersebut menyebut hujan berlebihan selama masa pembungaan sebagai penyebab utama. Dampaknya terutama terjadi di kawasan produksi Robusta di Sumatra bagian selatan dan Jawa.
Temuan itu tidak menutup kemungkinan hadirnya tekanan lain. Namun, data yang tersedia belum menempatkan gelombang radio sebagai penyebab penurunan produksi kopi Indonesia.
Pertanyaan yang Layak Diuji
Sinyal telekomunikasi belum terbukti menjadi penyebab berkurangnya produksi kopi. Tetapi penelitian yang menemukan perubahan perilaku, kemampuan navigasi, kunjungan bunga, dan perkembangan ratu menunjukkan bahwa isu tersebut tidak sepenuhnya tanpa dasar.
Persoalannya terletak pada jarak antara eksperimen dan kondisi perkebunan.
Industri kopi Indonesia belum memiliki pemantauan penyerbuk yang cukup rinci untuk menjawab apakah lebah memang semakin sedikit, spesies mana yang menghilang, di wilayah mana perubahan terjadi, dan faktor apa yang paling kuat memengaruhinya.
Di titik inilah cerita dari lapangan memperoleh nilai jurnalistiknya.
Kesaksian petani atau pelaku usaha bukan kesimpulan ilmiah. Namun, kesaksian dapat menjadi tanda awal yang mendorong pengukuran lebih serius.
Perkebunan kopi memerlukan pencatatan produksi, cuaca, penggunaan pestisida, perubahan tutupan lahan, jumlah kunjungan lebah, keragaman penyerbuk, serta tingkat medan elektromagnetik dalam lokasi dan periode yang sama.
Tanpa data tersebut, sinyal HP dapat terlalu mudah dijadikan tersangka. Sebaliknya, potensi stresor baru juga dapat terlalu cepat disingkirkan.
Satu hal telah terang, lebah membantu produksi kopi.
Yang belum terang adalah apakah perluasan lingkungan digital ikut mengganggu pekerjaan biologis itu. Jawabannya tidak akan ditemukan melalui dugaan, melainkan pengukuran langsung di antara bunga-bunga kopi. ***
- Foto: Ilustrasi AI/ SustainReview.ID – Lebah membantu memindahkan serbuk sari pada bunga kopi dan ikut menopang pembentukan buah. Sejumlah riset menemukan frekuensi radio dapat memengaruhi perilakunya, tetapi kaitannya dengan penurunan produksi kopi belum terbukti langsung.


