PANDEMI berikutnya mungkin tidak pertama kali terlihat di ruang gawat darurat. Sinyalnya dapat muncul lebih awal dari saluran pembuangan kota.
Air limbah membawa fragmen materi genetik virus dan bakteri yang dikeluarkan manusia. Sampel yang diambil secara berkala dapat menunjukkan perubahan penyebaran penyakit pada tingkat populasi, termasuk ketika banyak orang belum diperiksa atau belum mengalami gejala berat.
Teknologi itu dikenal sebagai surveilans air limbah atau wastewater surveillance. Indonesia bukan benar-benar pemain baru. Pemantauan air limbah telah digunakan untuk mendeteksi virus polio sejak 2004. Penggunaannya kemudian berkembang dalam riset selama pandemi COVID-19.
Kini, ketika Asia Tenggara menghadapi risiko munculnya patogen epidemik dan pandemik, pertanyaannya bukan lagi apakah teknologi tersebut tersedia. Pertanyaan yang lebih penting, apakah Indonesia sudah menjadikannya sistem peringatan dini yang rutin, terhubung, dan mampu memicu tindakan?
Membaca Wabah sebelum Pasien Bertambah
Tim Pusat Kajian Kesehatan Anak-Pediatric Research Office Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada pernah memantau SARS-CoV-2 dalam air limbah di Yogyakarta pada Mei 2021 hingga Juni 2022.
Hasilnya penting. Sinyal SARS-CoV-2 pada air limbah terdeteksi lebih awal dibandingkan peningkatan kasus klinis. Temuan ini memperlihatkan bahwa saluran pembuangan dapat berfungsi seperti radar kesehatan masyarakat.
Surveilans air limbah bekerja dengan mencari fragmen RNA atau DNA virus dan bakteri yang masuk ke sistem pembuangan. Satu sampel dapat menggambarkan dinamika penyakit dalam suatu populasi tanpa harus memeriksa setiap warga satu per satu.
Peneliti utama surveilans air limbah FK-KMK UGM, Prof. Indah Kartika Murni, memimpin pengembangan kapasitas tersebut bersama laboratorium kesehatan dan perusahaan pengelola air minum daerah. Pada 2026, tim UGM menggelar pelatihan lapangan di Medan dan Bandung.
Baca juga: Polyester dalam Darah, Sinyal Baru Krisis Limbah Tekstil
Di Medan, pelatihan melibatkan Balai Laboratorium Kesehatan Masyarakat Medan dan Perumda Tirtanadi. Tim meninjau titik pengambilan sampel di Pumping Station Jalan HM Yamin dan inlet Instalasi Pengolahan Air Limbah Cemara.
Di Bandung, penguatan kapasitas melibatkan Laboratorium Kesehatan Provinsi Jawa Barat dan Perumda Tirtawening. Materinya mencakup pengambilan dan pengiriman sampel, pencatatan laboratorium, keamanan hayati, serta manajemen data.
Perkembangan itu menunjukkan kapasitas teknis sedang dibangun. Namun, pelatihan dan proyek penelitian belum otomatis menjadi sistem nasional yang bekerja rutin.
Bukan Hanya COVID-19
Kegunaan surveilans air limbah tidak berhenti pada virus corona. Metode tersebut dapat diarahkan untuk memantau poliovirus, campak, rotavirus, Salmonella Typhi, avian influenza, hingga mikroorganisme yang resistan terhadap antimikroba.
Dalam kolaborasi UGM dan Duke-NUS Medical School pada 2024, para pemangku kepentingan menempatkan polio, campak, dan rotavirus sebagai patogen prioritas. Avian influenza serta patogen resistan antimikroba masuk dalam prioritas pendekatan One Health.
Peneliti FK-KMK UGM, dr. Santi Paramita, menilai surveilans air limbah berpotensi menjadi cara yang lebih ekonomis dan efisien untuk membaca persebaran penyakit. Teknologi serupa telah dimanfaatkan di sejumlah negara, sementara penggunaannya di Indonesia masih perlu diperluas dan dilembagakan.
Perwakilan Direktorat Tata Kelola Kesehatan Masyarakat Kementerian Kesehatan, dr. Krisna Nur Andriana Pangesti, juga menyoroti manfaat surveilans lingkungan untuk membaca tingkat resistansi mikroba.
Resistansi antimikroba sering berkembang tanpa perhatian publik sebesar wabah virus. Bakteri yang tidak lagi mempan terhadap obat dapat berpindah melalui manusia, hewan, makanan, air, dan lingkungan.
Kajian yang dipimpin Kepala Organisasi Riset Kesehatan BRIN Ni Luh Putu Indi Dharmayanti pada 2025 menyebut penggunaan antibiotik yang berlebihan dan tidak tepat pada manusia, peternakan, akuakultur, dan pertanian sebagai bagian dari persoalan resistansi antimikroba di Indonesia.
Artinya, air limbah bukan hanya tempat mencari virus. Ia juga dapat memperlihatkan jejak krisis antibiotik yang tumbuh diam-diam.

Ancaman Bergerak Melintasi Batas
BRIN memperingatkan bahwa Asia Tenggara menghadapi risiko kemunculan patogen yang berpotensi memicu epidemi dan pandemi. Ancaman yang perlu diperhatikan mencakup avian influenza H5N1, Nipah, Japanese encephalitis, virus yang bersirkulasi pada kelelawar, serta resistansi antimikroba.
Daftar tersebut memperlihatkan bahwa pengawasan di rumah sakit saja tidak cukup. Sebagian ancaman beredar pada unggas, ternak, satwa liar, lingkungan, atau populasi manusia sebelum ditemukan melalui pemeriksaan klinis.
Karena itu, BRIN mendorong tiga lapis deteksi: surveilans genomik, pemantauan patogen pada satwa liar, dan surveilans air limbah.
Baca juga: Ebola Datang Saat Sistem Kesehatan Global Melemah
Pendekatan tersebut sejalan dengan One Health. Organisasi Kesehatan Dunia mendefinisikannya sebagai pendekatan terpadu untuk menyeimbangkan dan mengoptimalkan kesehatan manusia, hewan, tumbuhan, dan ekosistem.
One Health dibutuhkan karena jalur penyebaran penyakit tidak mengikuti pembagian birokrasi. Virus tidak membedakan kewenangan dinas kesehatan, dinas peternakan, pengelola air limbah, laboratorium, atau lembaga riset.
“Ancaman kesehatan dapat muncul dengan cepat dan melampaui batas negara,” kata Wakil Kepala BRIN Amarulla Octavian dalam The 3rd International Conference for Health Research 2026 di Cibinong.
Radar Tidak Berguna jika Alarm Terputus
Masalah terbesar surveilans bukan semata kemampuan menemukan patogen. Nilai sesungguhnya terletak pada apa yang terjadi setelah sinyal ditemukan.
Siapa yang menerima hasil pemeriksaan? Seberapa cepat data berpindah dari laboratorium ke pengambil kebijakan? Ambang seperti apa yang dapat memicu pemeriksaan klinis, investigasi lapangan, komunikasi risiko, atau respons kesehatan masyarakat?
Pertanyaan lain menyangkut cakupan. Sistem pembuangan air limbah Indonesia tidak seragam. Banyak permukiman tidak terhubung dengan jaringan perpipaan terpusat. Karena itu, lokasi pengambilan sampel harus dirancang agar tidak menghasilkan gambaran yang bias terhadap populasi tertentu.
Sistem ini juga memerlukan laboratorium, standar pengambilan sampel, metode analisis yang konsisten, pembiayaan berkelanjutan, serta mekanisme berbagi data. Tanpa itu, surveilans berisiko berhenti sebagai rangkaian proyek penelitian dan pelatihan.
Kegiatan di Yogyakarta, Medan, dan Bandung menunjukkan fondasi mulai tersedia. Namun, informasi publik mengenai cakupan lokasi, frekuensi pengambilan sampel, patogen yang dipantau, hasil pengujian, serta protokol respons nasional masih belum mudah ditemukan.
Ini merupakan celah yang perlu dijawab pemerintah. Indonesia membutuhkan lebih dari kemampuan mendeteksi fragmen virus. Negara memerlukan sistem yang menghubungkan data manusia, hewan, dan lingkungan, lalu mengubahnya menjadi keputusan.
Jangan Menunggu Rumah Sakit Penuh
Kesiapsiagaan pandemi sering diukur dari ketersediaan rumah sakit, obat, vaksin, dan tenaga kesehatan. Semua itu penting, tetapi sebagian besar bekerja setelah ancaman mulai terlihat.
Surveilans air limbah menawarkan kemungkinan berbeda, yakni membaca perubahan pada tingkat populasi sebelum lonjakan pasien membebani fasilitas kesehatan.
Surveilans itu bukan pengganti pemeriksaan klinis. Temuan patogen dalam air limbah juga tidak selalu menunjukkan jumlah pasti orang yang terinfeksi. Namun, ketika dipadukan dengan surveilans genomik, data klinis, serta pemantauan ternak dan satwa liar, air limbah dapat menjadi bagian penting dari radar kesehatan nasional.
Baca juga: Infeksi Jamur Diprediksi Meningkat Akibat Krisis Iklim
Teknologinya sudah dikenal. Bukti awal manfaatnya sudah ada. Sejumlah daerah mulai membangun kapasitas.
Pekerjaan berikutnya jauh lebih menentukan, mengubah titik-titik pemantauan itu menjadi jaringan peringatan dini yang rutin, transparan, dan terhubung dengan respons.
Sebab pandemi berikutnya mungkin mengirimkan peringatan dari bawah tanah. Persoalannya, apakah Indonesia sudah menyiapkan sistem untuk mendengarnya? ***
- Ilustrasi/ AI-generated/ SustainReview.ID – Petugas mengambil sampel air keruh dari saluran instalasi pengolahan air limbah perkotaan.


