Kontrak sekitar Rp211,2 miliar mempertemukan pembeli besar dengan teknologi mineralisasi karbon. Nilainya akan ditentukan oleh hasil penyimpanan, kebutuhan air, dan biaya yang bisa dibuktikan.
MENANGKAP karbon belum mengakhiri pekerjaan. Setelah gas dipisahkan, masih ada pertanyaan menentukan, di mana disimpan agar tidak kembali menghangatkan atmosfer?
Sekelompok pembeli melalui Frontier, termasuk Google, Stripe, dan Shopify, mencoba membuka pilihan lain. Mereka menandatangani kontrak pembelian penghilangan karbon dengan 44.01 senilai US$11,7 juta atau sekitar Rp211,2 miliar, mencakup 20.932 ton CO₂ untuk periode 2028-2031. Kesepakatan diumumkan pada 15 Oktober 2026.
Angka tersebut merupakan komitmen pembelian hasil masa depan. Pembaca perlu membedakannya dari jumlah karbon yang sudah dihilangkan dan diverifikasi.
Perbedaan itu penting. Dalam industri iklim yang sarat pengumuman, nilai kontrak, kesiapan fasilitas, dan hasil lingkungan merupakan tiga ukuran yang perlu diperiksa masing-masing.
Pembeli Mendanai Langkah Menuju Skala Komersial
CEO 44.01 Talal Hasan, dalam pernyataan resmi perusahaan, menyebut kesepakatan tersebut sebagai langkah dari demonstrasi menuju penerapan komersial. Ia menempatkan perbaikan kinerja dan penurunan biaya sebagai fokus berikutnya.
Proyek ini akan membawa perusahaan dari injeksi percobaan berdurasi pendek menuju operasi berkelanjutan selama beberapa tahun. Pengujiannya mencakup laju injeksi, kebutuhan air, serta biaya operasi.
Pembeli awal dengan demikian memiliki peran penting: menciptakan permintaan ketika rekam operasi jangka panjang masih dibangun.
Baca juga: Indonesia Punya Biogas, Siap Menangkap Karbonnya?
Namun, dukungan nama besar belum menjawab persoalan keekonomian. Berdasarkan pembagian nilai kontrak dengan volume yang diumumkan, rata-rata nilai pembeliannya sekitar US$559 atau Rp10,1 juta per ton CO₂. Angka ini merupakan perhitungan dari nilai kesepakatan, bukan rincian biaya penyimpanan ataupun bukti margin perusahaan.
Bagi calon pembeli berikutnya, pertanyaannya lebih tajam: bagian biaya mana yang bisa turun setelah operasi diperbesar, dan bagian mana yang tetap melekat pada setiap ton karbon?
Jawabannya menentukan apakah pembelian awal dapat berkembang menjadi pasar yang lebih luas.
Batu Reaktif, Air, dan Bukti Permanensi
Teknologi 44.01 melarutkan CO₂ dalam air, kemudian menyuntikkannya ke batuan reaktif di bawah tanah. Reaksi dengan mineral batuan membentuk karbonat padat yang menyimpan karbon.
Dasar ilmiahnya sudah lama diteliti. Dalam publikasi Columbia University pada 6 November 2008, geolog Peter Kelemen dan rekan penelitinya menjelaskan kemampuan peridotit bereaksi dengan CO₂ membentuk mineral padat.
Penelitian tersebut memberi landasan bagi gagasan mempercepat reaksi alam melalui pengeboran dan injeksi. Namun, landasan ilmiah tidak otomatis menentukan keberhasilan setiap rancangan proyek.

Kelemen juga mengingatkan bahwa pendekatan itu hanya salah satu dari sejumlah cara menangkap karbon. Ia menolak gagasan mencari satu teknologi yang dapat menyelesaikan seluruh persoalan. Pandangan tersebut merupakan pernyataan arsip tentang mineralisasi, bukan penilaian atas kontrak 2026.
Di sinilah kebutuhan air menjadi ukuran penting. Penilaian proyek perlu menjawab berapa air yang digunakan untuk setiap ton hasil penyimpanan, dari mana pasokannya, dan bagaimana kebutuhan tersebut berubah ketika operasi diperbesar.
Baca juga: SeaCURE, Terobosan Menangkap Karbon dari Lautan untuk Masa Depan Bumi
Istilah “permanen” juga perlu disertai bukti yang dapat diperiksa. Apa yang diukur? Siapa yang memverifikasi? Bagaimana hasilnya dilaporkan kepada pembeli dan publik?
Pertanyaan tersebut menghubungkan proses di bawah tanah dengan pertanggungjawaban di atasnya.
Biaya dan Verifikasi Menentukan Pasar
Analisis International Energy Agency (IEA) pada 27 Oktober 2025, yang ditulis Mathilde Fajardy, Carl Greenfield, Simon Bennett, dan Timur Gül, menawarkan penyeimbang terhadap optimisme industri.
Mereka mencatat bahwa biaya penghilangan karbon masih tinggi dan proyek skala besar masih jarang. Inovasi diperlukan untuk memperbaiki kinerja sekaligus memperkuat pemantauan, pelaporan, dan verifikasi.
IEA juga menekankan bahwa klaim biaya murah pada pendekatan tertentu sulit dikonfirmasi ketika fasilitas berskala besar belum beroperasi. Proses membangun, menguji, dan memperbaiki desain menjadi bagian penting dari penurunan biaya.
Kerangka tersebut membantu membaca kontrak 44.01 secara proporsional. Pembelian awal bisa membiayai pembelajaran, tetapi keberhasilan komersial memerlukan hasil yang berulang, terukur, dan dapat dinilai pihak lain.
Ada pula perbedaan yang perlu dijaga dalam pemberitaan. Proyek Frontier ini menggunakan CO₂ biogenik. Sementara itu, 44.01 mengembangkan aplikasi penyimpanan emisi industri melalui proyek percontohan dengan Holcim. Teknologi penyimpanannya sama, tetapi konteks sumber karbonnya berbeda.
Baca juga: Penangkap Karbon Tak Cukup di Laboratorium
Artinya, klaim penghilangan karbon perlu ditelusuri sampai asal karbonnya dan perhitungan hasil bersihnya. Keberhasilan menyimpan gas saja belum menjawab seluruh pertanyaan tentang manfaat iklim sebuah kegiatan.
Pelajaran bagi Indonesia terletak pada disiplin penilaiannya. Pembahasan proyek penyimpanan karbon perlu mempertemukan kecocokan lokasi, kebutuhan sumber daya, biaya, serta pertanggungjawaban hasil. Potensi geologi saja belum cukup untuk menyatakan sebuah proyek layak.
Kesepakatan tersebut memberi teknologi mineralisasi kesempatan membangun rekam operasi. Ukuran keberhasilannya kelak ialah berapa karbon benar-benar tersimpan, dengan penggunaan sumber daya berapa besar, dan bukti sekuat apa. ***
Konversi rupiah menggunakan kurs JISDOR Bank Indonesia 16 Oktober 2026 sebesar Rp18.052 per dolar AS. www.bi.go.id
Foto: HAROUY Jean-Michel/ commons.wikimedia – Ilustrasi batu peridotit. Mineral dalam batuan ini dapat bereaksi dengan CO₂ dan membentuk karbonat padat untuk penyimpanan jangka panjang.


