Indonesia Merintis Implan Tulang yang Bisa Diserap Tubuh

Riset magnesium membuka peluang mengurangi kebutuhan operasi pelepasan implan. Namun, pengujian keselamatan dan kesinambungan pendanaan menentukan apakah inovasi lokal bisa sampai ke pasien.

TULANG yang pulih belum selalu menjadi akhir perawatan. Pada kasus tertentu, pasien masih perlu menjalani operasi untuk melepas implan logam yang sebelumnya membantu menstabilkan tulang. Ada tambahan biaya, masa pemulihan, dan risiko tindakan medis berikutnya.

Dari kebutuhan itu, periset Indonesia mengembangkan material implan yang dapat terdegradasi dan diserap tubuh. Tujuannya, tetap kuat selama proses penyembuhan, kemudian luruh secara terkendali setelah menjalankan fungsinya.

Profesor Riset Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Iwan Setyadi memaparkan pengembangan tersebut dalam pengukuhannya di Jakarta, Kamis (8/10/2026). Ia mengembangkan komposit magnesium dengan carbonate apatite, material biokeramik yang menyerupai mineral tulang.

Baca juga: Medtech Presisi, Australia Uji Model Perawatan Tumor Minim Invasif

Inovasi ini juga berhadapan dengan persoalan industri kesehatan Indonesia, kebutuhan implan masih sangat bergantung pada pasokan luar negeri.

Presiden Indonesian Orthopaedic & Traumatology Research Society (IOTRS) Norman Zainal menyebut sekitar 92–94 persen kebutuhan implan medis nasional dipenuhi produk impor. Pernyataan tersebut disampaikan dalam Pertemuan Ilmiah Tahunan Indonesian Hip and Knee Society di Yogyakarta, 22 Agustus 2026. Angka itu menggambarkan ketergantungan implan medis secara luas, bukan khusus kandidat magnesium yang dikembangkan BRIN.

Artinya, Indonesia menghadapi dua pekerjaan sekaligus, mengembangkan teknologi yang sesuai kebutuhan pasien dan membangun kemampuan untuk memproduksinya sendiri.

Kuat Selama Dibutuhkan, Luruh Setelahnya

Implan untuk cedera tulang umumnya menggunakan baja tahan karat, titanium beserta paduannya, atau kobalt-kromium. Material tersebut memberikan kekuatan dan ketahanan korosi, tetapi bersifat permanen.

Tidak semua implan permanen harus dilepas. Namun, ketika pelepasan diperlukan, pasien harus kembali menghadapi tindakan operasi. Peluang mengurangi kebutuhan tindakan tambahan inilah yang mendorong pengembangan implan biodegradable.

“Implan biodegradable harus kuat saat dibutuhkan, terdegradasi secara terkendali, aman, dan mendukung regenerasi tulang,” kata Iwan dalam materi yang disampaikan BRIN.

Magnesium menarik karena ringan dan memiliki sifat mekanik yang mendekati tulang. Tantangannya, material ini dapat terdegradasi terlalu cepat. Jika kekuatannya berkurang sebelum proses penyembuhan memadai, fungsi penopangnya bisa terganggu.

Baca juga: AI Masuk IGD, Siapa Menjaga Keputusan yang Menyangkut Nyawa?

Proses degradasi juga menghasilkan gas hidrogen. Karena itu, pengembangan implan harus memperhitungkan kecepatan peluruhan sekaligus respons jaringan di sekitarnya.

Iwan mengombinasikan magnesium dengan carbonate apatite berbasis lokal untuk memperbaiki kekuatan dan mengendalikan degradasi. Komponen tersebut juga berpotensi mendukung pertumbuhan tulang.

Pengembangannya telah menghasilkan prototipe interference screw untuk rekonstruksi ligamen anterior lutut atau ACL. Sekrup ini berfungsi membantu fiksasi jaringan pengganti ligamen pada tulang.

Namun, statusnya masih kandidat. Ringkasan resmi orasi Iwan menempatkan riset tersebut pada tahap menuju kesiapan praklinis, dengan pekerjaan lanjutan berupa validasi mekanik eksperimental dan pengujian pada model hewan yang lebih besar.

Grafis: Daffa Attarikh/ SustainReview

Bukti Awal dari Pengujian Hewan

Pengembangan material ini telah melibatkan peneliti kedokteran dan teknik. Salah satu bukti ilmiahnya terbit dalam jurnal Scientific Reports pada 22 Maret 2025.

Penelitian dengan penulis pertama Achmad Fauzi Kamal, dari Departemen Ortopedi dan Traumatologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia-RSCM, menguji komposit magnesium-carbonate apatite pada 30 tikus Sprague Dawley. Hewan dibagi ke dalam lima kelompok, termasuk kelompok pembanding yang menggunakan titanium.

Tim memeriksa perubahan berat implan, pembentukan gas, serta respons jaringan lokal dan organ pada hari ke-15 dan ke-30. Pemeriksaan jaringan tidak menemukan perbedaan bermakna respons peradangan lokal maupun sistemik antarkelompok.

Hasil tersebut memberikan dasar untuk melanjutkan pengembangan. Namun, pengamatan singkat pada hewan belum membuktikan keamanan jangka panjang atau keberhasilan penggunaannya pada manusia.

Baca juga: AI Indonesia Masuk ke Prosedur Medis Paling Dasar di Rumah Sakit

Bukti klinis untuk jenis implan magnesium lain sudah berkembang di luar negeri. Penelitian Nikiforos P. Saragas dan koleganya, terbit pada Januari 2026, membandingkan sekrup magnesium pada 24 kaki dengan sekrup titanium pada 25 kaki dalam operasi koreksi hallux valgus, kelainan posisi ibu jari kaki.

Dengan rata-rata pemantauan 44 bulan pada kelompok magnesium dan 35 bulan pada kelompok titanium, penelitian tersebut tidak menemukan perbedaan bermakna hasil klinis dan radiologis antarkelompok. Penulis mengingatkan bahwa jumlah sampelnya kecil.

Temuan itu menunjukkan peluang penggunaan magnesium secara klinis. Namun, hasil pada produk dan operasi tersebut tidak otomatis berlaku untuk komposit BRIN atau rekonstruksi ACL. Setiap desain, komposisi, dan penggunaan memerlukan pembuktiannya sendiri.

Pendanaan Harus Mengikuti Panjangnya Pengujian

Di Indonesia, tantangan pengembangan implan melampaui persoalan material.

Norman menilai kolaborasi antardisiplin dan kesinambungan pendanaan masih menjadi hambatan. Dokter memahami kebutuhan pasien serta tuntutan mekanik di tubuh, sementara insinyur memiliki kemampuan mengolah material dan merancang produk. Keduanya perlu bekerja bersama sejak pengembangan awal.

Ia juga mengingatkan bahwa pengujian dan standardisasi membutuhkan waktu panjang. Riset berpotensi terhenti ketika dukungan pendanaan tidak berlanjut.

Persoalan ini menentukan arah hilirisasi. Prototipe perlu melewati pengujian lanjutan, pengembangan manufaktur, evaluasi klinis, dan persyaratan regulasi sebelum dapat digunakan pasien. Produksinya pun harus memberikan mutu yang konsisten.

Baca juga: Teknologi Cerdas: Alat Pacu Jantung Sekecil Beras, Tanpa Operasi Tambahan

Bagi industri kesehatan, kesinambungan tersebut berarti membiayai perjalanan setelah penemuan awal, saat hasil laboratorium harus diuji berulang dan desain mungkin perlu diperbaiki.

Implan magnesium lokal menawarkan kemungkinan yang menarik bagi pasien dan industri Indonesia. Tetapi, manfaatnya baru akan nyata ketika produk terbukti aman, bekerja sesuai kebutuhan penyembuhan, dan tersedia dalam layanan kesehatan.

Bagi pasien, ukuran keberhasilannya sederhana. Tulang atau ligamen pulih dengan baik, tanpa tindakan tambahan yang sebenarnya bisa dihindari. ***

  • Foto: Gustavo Fring/ Pexels – Tenaga medis menelaah citra rontgen tulang. Riset implan magnesium di Indonesia diarahkan untuk mengembangkan penopang yang dapat terdegradasi setelah menjalankan fungsinya.
Bagikan