AI Indonesia Masuk ke Prosedur Medis Paling Dasar di Rumah Sakit

KECERDASAN buatan atau artificial intelligence (AI) selama ini identik dengan chatbot, mobil tanpa sopir, atau sistem digital berbiaya mahal. Namun di Indonesia, AI kini mulai masuk ke prosedur medis paling dasar di rumah sakit, mencari pembuluh darah vena untuk pemasangan infus dan pengambilan darah.

Peneliti Indonesia sedang mengembangkan AI kesehatan murah dan portabel untuk membantu tenaga medis menemukan vena pasien lebih cepat, lebih akurat, dan mengurangi risiko salah tusuk jarum.

Inovasi itu dikembangkan Badan Riset dan Inovasi Nasional melalui Pusat Riset Elektronika (PRE) bersama tim dari Institut Teknologi Sumatera dan Universitas Negeri Surabaya.

Di balik inovasi bernama Vein Finder itu, tersimpan persoalan layanan kesehatan yang sebenarnya sangat dekat dengan banyak orang.

AI untuk Masalah Sederhana

Tidak semua pasien mudah dipasang infus. Pada sebagian orang, pembuluh darah vena sulit terlihat. Akibatnya, tenaga medis kadang harus melakukan beberapa kali tusukan sebelum menemukan titik yang tepat.

Masalah itu mungkin terdengar sederhana. Namun dalam praktik layanan kesehatan, kondisi tersebut dapat memperlambat tindakan medis, meningkatkan ketidaknyamanan pasien, hingga menambah tekanan kerja tenaga kesehatan.

Baca juga: AI Mengubah Nilai Strategis Mineral Indonesia

Peneliti muda PRE BRIN, Rini Khamimatul Ula, mengatakan ide pengembangan alat ini muncul dari pengalaman pribadinya yang sering mengalami kesulitan saat pemasangan infus maupun pengambilan darah.

Dari pengalaman itu, tim peneliti mencoba membangun sistem berbasis AI yang tidak hanya mampu menampilkan citra pembuluh darah, tetapi juga membantu memastikan apakah titik yang dibidik benar-benar vena yang aman untuk tindakan intravena.

Menggunakan Infrared dan Deep Learning

Perangkat Vein Finder dikembangkan menggunakan kombinasi teknologi optik, image processing, dan deep learning.

Sistem ini memakai LED near infrared dengan panjang gelombang 850 nanometer, kamera NoIR tanpa filter inframerah, Raspberry Pi, dan algoritma Convolutional Neural Network (CNN).

CNN adalah metode AI yang dirancang untuk mengenali pola visual dan membaca objek dari gambar digital secara otomatis.

Baca juga: Lima Teknologi untuk Lindungi Pantura, Cukupkah Menahan Krisis Pesisir?

Cara kerjanya dimulai ketika cahaya inframerah diserap hemoglobin dalam darah. Pantulan cahaya kemudian ditangkap kamera dan diproses sistem AI untuk mendeteksi pola pembuluh darah vena.

Berbeda dengan alat pencari vena biasa, sistem ini mampu memberikan informasi sederhana berupa “yes” atau “no” kepada tenaga medis untuk menentukan apakah area tersebut layak digunakan untuk tindakan intravena.

Prototype tersebut juga dapat membaca kedalaman dan lebar pembuluh darah vena pasien.

Grafis: Daffa Attarikh/ SustainReview.

Adaptif untuk Kulit Indonesia

Salah satu aspek penting dari pengembangan teknologi ini adalah pendekatan lokal yang digunakan tim peneliti.

Banyak perangkat medis global dirancang berdasarkan karakteristik populasi tertentu. Padahal warna dan pigmen kulit memengaruhi kemampuan sensor membaca pantulan cahaya.

Karena itu, tim peneliti mengembangkan sistem yang dapat bekerja pada berbagai karakteristik kulit masyarakat Indonesia.

Baca juga: AI Mengubah Tata Kelola Abrasi dan Rob di Pantura

Dalam penjelasan yang dipublikasikan melalui situs resmi BRIN, perangkat ini juga dirancang lebih portabel dan lebih terjangkau dibanding alat serupa dari negara maju.

Faktor harga menjadi penting karena sebagian besar fasilitas kesehatan di negara berkembang masih menghadapi keterbatasan akses terhadap teknologi medis modern.

Teknologi dan Kemandirian Sistem Kesehatan

Pengembangan AI kesehatan seperti Vein Finder memperlihatkan bahwa transformasi digital layanan medis tidak selalu harus hadir dalam bentuk teknologi mahal dan kompleks.

Kadang inovasi paling penting justru hadir pada prosedur yang selama ini dianggap sederhana, tetapi dilakukan jutaan kali setiap hari di rumah sakit.

Saat ini prototype Vein Finder telah memiliki paten dan hak cipta. Pengujian juga telah dilakukan pada pasien remaja hingga usia 40 tahun.

Namun tim peneliti masih menghadapi tantangan untuk pengujian pada pasien anak-anak dan lansia.

Baca juga: Ebola Datang Saat Sistem Kesehatan Global Melemah

Ke depan, perangkat ini ditargetkan menjadi lebih compact, real-time, dan lebih mudah digunakan di fasilitas layanan kesehatan.

Implikasi kebijakannya cukup jelas. Indonesia tidak hanya membutuhkan digitalisasi rumah sakit, tetapi juga ekosistem riset yang mampu menghasilkan teknologi medis yang relevan dengan kebutuhan lokal, murah, dan bisa diproduksi lebih luas di dalam negeri.

Di tengah meningkatnya biaya kesehatan global, kemampuan membangun teknologi kesehatan sendiri mulai menjadi bagian penting dari ketahanan sistem kesehatan nasional.

  • Foto: BRIN – Tim peneliti menguji prototype Vein Finder berbasis AI yang dikembangkan untuk membantu tenaga kesehatan mengidentifikasi pembuluh darah vena secara lebih akurat.
Bagikan