Perdebatan di Yerevan memperlihatkan sulitnya menyatukan agenda alam dan iklim. Bagi Indonesia, taruhannya menjangkau ketahanan produksi dan pasokan pangan lintas negara.
KERUSAKAN alam tidak berhenti di perbatasan negara. Ketika tanah kehilangan kesuburan, ketersediaan air terganggu, atau ekosistem pertanian melemah, risikonya dapat mengikuti perjalanan komoditas hingga ke negara pembeli.
Hubungan tersebut memberi konteks penting bagi COP17 Konvensi Keanekaragaman Hayati di Yerevan, Armenia. Perlindungan biodiversitas menyangkut kemampuan negara menjaga kebutuhan dasar penduduknya, termasuk pangan.
Namun, menghubungkan agenda yang saling terkait itu ternyata tidak sederhana di meja perundingan.
Dalam sidang 19 Oktober, negara-negara kepulauan Pasifik mendorong penguatan kerja sama biodiversitas dan iklim. Sejumlah delegasi mengingatkan batas mandat masing-masing konvensi. Inggris menekankan agar penguatan kerja sama tidak menciptakan kewajiban pembiayaan baru. Perundingan berlanjut tanpa kesepakatan akhir mengenai persoalan tersebut.
Perbedaan itu memperlihatkan tantangan nyata. Dampak ekologis bergerak melintasi sektor, sementara kewenangan, anggaran, dan tanggung jawab internasional tetap terbagi.
Alam Masuk Perhitungan Keamanan
Sebulan sebelum COP17, pemerintah Inggris secara terbuka menempatkan perubahan iklim dan kehilangan biodiversitas sebagai ancaman keamanan nasional.
Dalam pernyataan resmi pada 24 September 2026, Menteri Luar Negeri Inggris Ed Miliband menyebut keduanya sebagai tantangan yang menentukan kehidupan warga, ekonomi, kebijakan luar negeri, dan keamanan nasional.
Pemerintah Inggris menjelaskan bahwa guncangan lingkungan di satu negara dapat menjalar melalui rantai pasok, pasar keuangan, dan perpindahan penduduk. Dampaknya bisa mencapai konsumen Inggris meskipun sumber gangguannya berada jauh dari wilayah negara itu.
Baca juga: COP17 Dibuka, Luas Kawasan Konservasi Belum Menjamin Perlindungan
Cara pandang tersebut relevan bagi negara yang mengandalkan perdagangan untuk memenuhi sebagian kebutuhan pangannya.
Indonesia, misalnya, mengimpor 10,84 juta ton biji gandum dan meslin pada 2025, menurut data BPS. Australia memasok sekitar 4,6 juta ton atau 42 persen, disusul Kanada 2,35 juta ton dan Argentina 1,43 juta ton. Komoditas itu menjadi bahan baku tepung untuk berbagai makanan, termasuk mi dan roti.
Angka tersebut menunjukkan hubungan Indonesia dengan sistem produksi pangan di luar negeri. Ketahanan pasokan perlu dibaca bersama kondisi wilayah pemasok, termasuk tanah, air, dan kemampuannya menghadapi tekanan iklim.
Data impor itu sendiri tidak membuktikan bahwa kehilangan biodiversitas telah menaikkan harga mi atau roti di Indonesia. Harga juga dipengaruhi kurs, energi, ongkos angkut, kebijakan perdagangan, dan persediaan. Risiko ekologis merupakan salah satu unsur yang perlu masuk dalam penilaian pasokan.

Fondasi Produksi yang Sering Tidak Terlihat
Biodiversitas bekerja dalam produksi pangan melalui banyak jalur. Organisme tanah membantu menjaga fungsi tanah, musuh alami menekan hama, dan penyerbuk membantu pembentukan buah serta biji.
FAO menyebut sekitar 75 persen jenis tanaman pangan dunia bergantung setidaknya sebagian pada penyerbukan hewan. Tanaman yang memperoleh manfaat dari penyerbukan tersebut mencakup sekitar 35 persen volume produksi tanaman dunia. Angka itu tidak berarti seluruh produksi tersebut akan hilang apabila penyerbuk berkurang; tingkat ketergantungan setiap tanaman berbeda.
Baca juga: COP17 Bahas Pembagian Manfaat dari Data Genetik Alam
Kerentanan juga muncul dari sempitnya keragaman produksi. Dalam laporan The State of the World’s Biodiversity for Food and Agriculture pada 2019, FAO mencatat lebih dari 6.000 spesies tumbuhan pernah dibudidayakan untuk pangan. Namun, hanya sembilan yang menyumbang 66 persen total produksi tanaman.
Laporan tersebut menempatkan keragaman spesies, varietas, dan ekosistem sebagai sumber ketahanan menghadapi tekanan serta perubahan kondisi lingkungan. Artinya, menjaga pilihan biologis merupakan bagian dari menjaga kemampuan produksi pada masa depan.
Menambah Pangan Tanpa Memperbesar Kerentanan
Perspektif ilmiah memberi catatan penting terhadap pendekatan keamanan tersebut. Kebijakan yang mengejar satu tujuan dapat memperburuk tujuan lainnya apabila hubungan antarsektor diabaikan.
Profesor Paula Harrison, salah satu ketua Nexus Assessment IPBES dari UK Centre for Ecology & Hydrology, mengingatkan bahwa lembaga yang bekerja sendiri-sendiri dapat menghasilkan tujuan yang bertentangan, inefisiensi, insentif negatif, dan konsekuensi yang tidak direncanakan.
Penjelasan itu disampaikan saat peluncuran kajian pada Desember 2024. Kajian selama tiga tahun tersebut melibatkan 165 ahli internasional dan menelaah keterkaitan biodiversitas, air, pangan, kesehatan, serta perubahan iklim.
Bagi kebijakan pangan, implikasinya jelas. Peningkatan produksi perlu dinilai bersama penggunaan air, kondisi tanah, pencemaran, dan keberlanjutan habitat pendukung pertanian. Tambahan hasil hari ini perlu disertai kemampuan mempertahankan produksi pada musim berikutnya.
Baca juga: Pembiayaan Bank ke Sektor Berisiko Hutan Disorot
Harrison juga menjelaskan bahwa skenario dengan manfaat paling luas menggabungkan produksi dan konsumsi berkelanjutan dengan konservasi, pemulihan ekosistem, pengurangan polusi, serta penanganan perubahan iklim.
Bagi Indonesia, pembacaan ini membuka dua kebutuhan yang berjalan bersamaan. Memperkuat fondasi ekologis produksi domestik dan memahami risiko lingkungan dalam rantai pasok internasional.
Ukuran keberhasilannya perlu menjangkau kestabilan hasil panen, keberlanjutan sumber air, serta kemampuan petani dan pelaku usaha menghadapi gangguan. Dalam pengadaan pangan, keragaman pemasok dan pemantauan kondisi wilayah produksi dapat menjadi bagian dari pengelolaan risiko.
COP17 belum menyelesaikan perbedaan tentang bagaimana kerja sama lintas agenda itu dijalankan. Namun, persoalan yang dihadapi warga sudah saling terhubung. Keamanan pangan membutuhkan alam yang tetap mampu menopang produksi. Baik di dalam negeri maupun di negara asal bahan makanan yang masuk ke Indonesia. ***
- FOTO: COP17 Yerevan – Suasana di arena COP17 di Yerevan, Armenia. Pertemuan ini membahas pelaksanaan komitmen perlindungan biodiversitas, yang turut menopang ketahanan pangan dan ketersediaan air.


