Shanghai mulai menjalankan pusat data bawah laut yang terhubung dengan turbin angin lepas pantai. Pendinginannya menjanjikan penghematan listrik. Tetapi, klaim hijau itu masih perlu dibaca bersama skala yang benar, data operasi, dan pengukuran dampaknya pada laut.
DI LEPAS pantai Shanghai, pusat data mendapat dua hal yang sukar diperoleh sekaligus di darat. Listrik dari ladang angin di dekatnya dan air laut untuk melepas panas server. Kapsul komputasi ditempatkan di perairan Lingang, sekitar 10 kilometer dari stasiun di darat. Proyek ini mengubah laut menjadi bagian dari infrastruktur kecerdasan buatan.
Namun, ada pertanyaan yang mengikuti setiap kilowatt listrik yang dihemat. Panas dari server itu akhirnya pergi ke mana? Teknologi hijau tidak cukup dinilai dari efisiensi listrik di dalam kapsul. Jejaknya juga menyentuh ekosistem yang menjadi tempat sistem pendingin itu bekerja.
Taruhannya membesar seiring permintaan komputasi. International Energy Agency (IEA) menghitung pusat data memakai sekitar 415 terawatt-jam (TWh) listrik pada 2024, setara 1,5 persen konsumsi listrik dunia. Dalam skenario dasarnya, angka itu diproyeksikan naik menjadi sekitar 945 TWh pada 2030. AI menjadi pendorong utama, bersama pertumbuhan layanan digital lain.
Proyek Berjalan, tetapi Belum 24 Megawatt
Angka proyek Shanghai perlu dibaca dengan teliti. Pemerintah Shanghai menyebut 24 megawatt (MW) sebagai skala dua fase. Fase demonstrasi yang dioperasikan berkapasitas 2,3 MW. Sumber yang sama menyebut lokasi proyek berada di perairan sedalam sekitar 10 meter, dengan pasokan listrik hijau lebih dari 95 persen. Karena itu, 24 MW tidak tepat disajikan sebagai kapasitas yang seluruhnya sudah beroperasi.
Menurut Kementerian Perhubungan China, fasilitas tersebut dirancang mencapai power usage effectiveness (PUE) tidak lebih dari 1,15. PUE membandingkan seluruh listrik yang masuk ke fasilitas dengan listrik yang dipakai perangkat komputasi. Semakin mendekati 1, semakin kecil energi tambahan untuk pendinginan dan sistem pendukung. Angka 1,15 dalam keterangan itu adalah target desain, bukan deret hasil pengukuran operasi yang dipublikasikan.
Baca juga: Menitipkan Karbon 2.600 Meter di Bawah Dasar Laut
Manajer umum Shanghai HiCloud Technology, Su Yang, mengatakan kombinasi sambungan langsung ke angin lepas pantai dan pendinginan air laut diperkirakan menurunkan konsumsi energi keseluruhan 30–40 persen dibanding pusat data darat. Keterangan yang dimuat pemerintah Shanghai juga menyebut potensi penghematan sekitar 61 juta kilowatt-jam per tahun jika seluruh 24 MW beroperasi pada beban penuh. Itu perhitungan untuk skenario kapasitas akhir, bukan listrik yang telah dihemat fase 2,3 MW.
Di sinilah letak ujian pertama klaim hijau. Berapa PUE yang benar-benar tercapai sepanjang tahun, ketika beban server dan suhu laut berubah? Berapa listrik angin yang sungguh memasok fasilitas dari waktu ke waktu, termasuk saat angin melemah? Data operasional semacam itu akan lebih kuat daripada angka desain atau proyeksi.

Eksperimen Microsoft Memberi Pelajaran Lain
Pusat data bawah laut bukan ide baru. Microsoft pernah menempatkan kapsul server Project Natick di lepas pantai Skotlandia pada 2018. Dalam uji sekitar dua tahun, perusahaan mendapati tingkat kegagalan server di bawah laut jauh lebih rendah daripada kelompok pembanding di darat. Pemimpin proyek Ben Cutler menyatakan tingkat kegagalannya sekitar seperdelapan dari pembanding tersebut, menurut laporan Microsoft tentang hasil uji.
Hasil uji yang baik tidak otomatis menjadi keputusan memperluas bisnis. Pada 2024, kepala operasi dan inovasi cloud Microsoft Noelle Walsh mengatakan kepada Data Center Dynamics bahwa perusahaannya tidak sedang membangun pusat data bawah laut di mana pun. Timnya, kata Walsh, memperoleh pelajaran dari pengoperasian di bawah permukaan laut yang bisa diterapkan pada rancangan lain. Microsoft tidak merinci satu alasan tunggal untuk menghentikan pengembangan Natick.
Baca juga: China Luncurkan FPSO Pertama dengan Teknologi Penangkapan Karbon
Perbedaan jalur Microsoft dan Shanghai menunjukkan ukuran keberhasilan yang lebih luas. Server yang jarang rusak dan pendingin yang hemat listrik tetap harus bersaing dengan biaya pemasangan kabel, perawatan kapsul tertutup, penggantian perangkat, serta kebutuhan memperbarui GPU saat teknologi AI berubah cepat. Data biaya dan keandalan jangka panjang proyek Shanghai belum tergantikan oleh keberhasilan fase demonstrasi.
Laut Memerlukan Data, Bukan Sekadar Jaminan
Pendinginan dengan air laut tidak melenyapkan panas. Energi panas dari server akhirnya dilepas ke lingkungan sekitarnya. Besar dan jangkauan pengaruhnya bergantung pada rancangan pembuangan panas, arus, kedalaman, suhu awal air, serta jumlah modul yang dipasang. Karena itu, hasil satu lokasi tidak bisa begitu saja dipindahkan ke pantai lain.
Peneliti A. A. Periola, A. A. Alonge, dan K. A. Ogudo dalam Scientific Reports mengkaji bagaimana gelombang panas laut dapat mengganggu kemampuan pendinginan pusat data bawah laut. Kajian tersebut membahas ketahanan sistem terhadap laut yang menghangat; itu bukan pengukuran dampak ekologis fasilitas Shanghai. Pertanyaan mengenai organisme dan kondisi perairan di Lingang tetap membutuhkan pengamatan setempat.
Baca juga: Laut Utara Jadi Laboratorium Energi Bersih Eropa
Untuk menilai proyek ini, publik memerlukan seri pengukuran suhu air di dekat dan di luar instalasi, kondisi musim panas dan gelombang panas laut, serta pemantauan biota sebelum dan sesudah perluasan kapasitas. Hasilnya perlu dipasangkan dengan data listrik aktual. Tanpa itu, penghematan energi dan keamanan ekologi berada pada tingkat bukti yang berbeda.
Shanghai telah menunjukkan bahwa angin lepas pantai, server, dan pendinginan laut dapat dirangkai menjadi fasilitas yang beroperasi. Pertanyaan berikutnya lebih menentukan. Ketika skala naik dari 2,3 MW menuju 24 MW, apakah penghematan listrik tetap terbukti dan perubahan di laut tetap terukur? Jawaban itulah yang akan menentukan seberapa hijau pusat data bawah laut ini sebenarnya. ***
- Foto: ZhiCheng Zhang/ Pexels –Â Aktivitas di kawasan ladang angin lepas pantai. Proyek pusat data bawah laut Shanghai menggabungkan pasokan listrik angin dengan pendinginan air laut.


