Metana Terlihat dari Antariksa, Siapa Menutup Kebocorannya?

Model AI Google dan NASA menemukan ribuan jejak metana tambahan. Di Indonesia, temuan dari langit bisa membantu menentukan lokasi pemeriksaan. Hasil akhirnya tetap ditentukan oleh pengukuran di lapangan dan tindakan terhadap sumber emisi.

METANA tak terlihat oleh mata. Gas ini bisa keluar dari fasilitas minyak dan gas, tambang batu bara, atau timbunan sampah. Ketika emisinya luput dari pengukuran, sumbernya pun lebih sulit ditangani.

Sebuah model kecerdasan buatan yang dikembangkan Google Research bersama NASA Jet Propulsion Laboratory menawarkan cara baru untuk menelusurinya. Model bernama MAPL-EMIT membaca data dari instrumen EMIT di Stasiun Luar Angkasa Internasional. Ia mengenali jejak metana dalam citra, memperkirakan batasnya, lalu menelusuri lokasi sumber yang paling mungkin. Temuan itu diterbitkan dalam jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences pada 1 September 2026.

Pertanyaan terpenting bagi Indonesia muncul setelah jejak itu ditemukan. Siapa yang memeriksanya di lapangan, dan bagaimana hasil pemeriksaan berubah menjadi penurunan emisi?

Lebih Banyak Jejak, Lebih Banyak Pekerjaan

Tim peneliti melatih MAPL-EMIT menggunakan 3,6 juta simulasi jejak metana yang dipadukan dengan pengamatan EMIT. Pada pengujian terhadap 1.084 rekaman, model ini menemukan 84% jejak yang sebelumnya telah ditandai pakar NASA. Model juga mengidentifikasi sekitar 1,5 kali lebih banyak jejak yang dinilai masuk akal dibandingkan pemeriksaan analis manusia.

Baca juga: Metana Jadi Musuh Baru, Indonesia Masuk Barisan Awal Aksi Cepat Iklim Dunia

peneliti Google Research sekaligus penulis utama studi, Vishal V. Batchu, menjelaskan bahwa model tersebut menggabungkan ciri spektral metana dengan bentuk jejaknya dalam satu bentang citra. Pendekatan itu membantu sistem membedakan gas dari gangguan latar permukaan dan menelusuri jejak yang saling bertumpuk di kawasan industri. Dalam penjelasan risetnya, Google menyebut model bekerja pada resolusi spasial 60 meter sesuai data EMIT.

Ringkasan Google menyatakan penerapan model menghasilkan lebih dari 23.000 jejak tambahan secara global. Angka itu menunjukkan bertambahnya deteksi dalam data yang dianalisis. Angka tersebut bukan jumlah fasilitas yang telah dipastikan melanggar atau bukti bahwa seluruh jejak masih mengeluarkan metana hari ini.

Grafis: Daffa Attarikh/ SustainReview

Indonesia Punya Alasan untuk Memerhatikan

Relevansi teknologi ini terlihat jelas pada sektor sampah. Berdasarkan data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional yang dikutip WRI Indonesia, sekitar 96% dari 511 tempat pemrosesan akhir di Indonesia masih menggunakan sistem open dumping. Survei WRI di lima lokasi juga menemukan 52,02% sampah yang tertimbun berupa bahan organik. Saat terurai dalam kondisi minim oksigen, bahan organik menghasilkan metana.

WRI telah memantau metana di TPA Benowo, Surabaya, dan TPA Galuga, Bogor, menggunakan drone serta sensor. Pekerjaan itu menunjukkan mengapa citra satelit dan pengukuran lapangan perlu dibaca bersama. Pengamatan dari udara membantu mencari lokasi, sedangkan pemeriksaan setempat membantu memahami sumber dan menentukan langkah perbaikan. WRI Indonesia

Baca juga: Bantargebang Masuk Radar Metana Global, Tata Kelola Sampah Jadi Risiko Iklim

Direktur Mitigasi Perubahan Iklim Kementerian Lingkungan Hidup/BPLH Haruki Agustina mengatakan penguatan metode pengukuran dan sistem pemantauan, pelaporan, serta verifikasi metana diperlukan agar data menjadi dasar kebijakan dan tindakan mitigasi yang lebih akurat. Pernyataannya disampaikan saat WRI menyerahkan temuan riset sektor sampah kepada kementerian pada Agustus 2026.

Direktur WRI Indonesia Nirarta Samadhi menekankan bahwa pengurangan metana tidak bisa menunggu sampai sampah tiba di TPA. Dalam pernyataan yang sama, ia mendorong pengurangan dan pemilahan sampah dari sumber, pengolahan bahan organik, perbaikan pengelolaan TPA, serta pemanfaatan gas yang dihasilkan. Dengan kata lain, peta emisi berguna ketika ia membantu memilih tindakan yang tepat, bukan sekadar menambah daftar titik.

Peta Satelit Belum Menetapkan Penanggung Jawab

Ada batas yang harus dijaga. Google mengakui model yang lebih peka tetap dapat menghasilkan salah deteksi, terutama di permukaan yang kompleks. Pengamatan EMIT juga bergantung pada lokasi lintasan dan kondisi saat data direkam. Jejak yang terlihat pada satu waktu belum dengan sendirinya membuktikan emisi berlangsung terus-menerus. Google Research

Baca juga: Indonesia Peringkat 3 Emisi Metana Tambang Batu Bara Global

NASA menjelaskan bahwa peta peningkatan konsentrasi metana dari EMIT tidak otomatis menetapkan entitas penyebab maupun laju emisinya. Karena itu, temuan satelit perlu ditindaklanjuti dengan pemeriksaan lokasi, pengukuran, dan pencocokan dengan kegiatan fasilitas sebelum menjadi dasar atribusi.

Di situlah ukuran keberhasilan teknologi ini berada. Pemerintah dan pengelola fasilitas kini berpeluang memperoleh petunjuk yang lebih banyak tentang tempat yang perlu diperiksa. Namun, kemajuan iklim baru terjadi ketika temuan tersebut diikuti perbaikan yang terukur. Sumbernya ditemukan, emisinya dikurangi, dan penurunannya diverifikasi.

  • Visual: Google Research/NASA JPLContoh jejak metana yang dipetakan melalui data EMIT di California, Turkmenistan, Shanxi, dan Delhi. Warna menunjukkan peningkatan metana yang terdeteksi, bukan gas yang terlihat oleh mata.


Bagikan