Pendinginan tidak lagi sekadar soal kenyamanan. Di tengah suhu yang meningkat, AC, lemari pendingin, dan rantai dingin semakin menentukan kesehatan dan produktivitas. Namun, tanpa mesin yang efisien dan listrik bersih, kebutuhan untuk menyejukkan ruangan justru dapat membuat bumi semakin panas.
UDARA panas membuat tangan refleks mencari remote AC. Tombol ditekan. Suhu ruangan turun.
Namun, kesejukan itu tidak berhenti pada unit pendingin di dinding. Di belakangnya ada pembangkit listrik, jaringan transmisi, tagihan energi, dan refrigeran yang dapat memperkuat pemanasan global ketika bocor ke atmosfer.
Indonesia menghadapi persoalan yang semakin rumit. Suhu meningkat, kota-kota bertambah padat, dan kemampuan masyarakat membeli perangkat pendingin terus tumbuh. Pada saat bersamaan, listrik nasional masih sangat bergantung pada energi fosil.
AC pun menghadirkan paradoks. AC dibutuhkan untuk menghadapi dunia yang semakin panas. Namun, jika pendinginan dipenuhi dengan mesin boros energi dan listrik beremisi tinggi, penggunaannya dapat memperbesar penyebab panas itu sendiri.
Lingkarannya sederhana, bumi memanas, kebutuhan AC meningkat, konsumsi listrik bertambah, emisi naik, lalu bumi menjadi semakin panas.
Kebutuhan listrik bisa melonjak
Indonesia sebenarnya telah memetakan risiko tersebut melalui Indonesia National Cooling Action Plan atau I-NCAP, yang diluncurkan pada 2024.
Rencana itu tidak hanya berbicara tentang AC rumah dan gedung. Cakupannya meliputi pendinginan bangunan, rantai dingin pangan, penyimpanan obat dan vaksin, pendingin kendaraan, serta kebutuhan industri.
Dokumen I-NCAP memperkirakan konsumsi listrik untuk AC ruangan dapat meningkat tajam menuju 2040. Tanpa langkah pengendalian, kebutuhannya diproyeksikan mencapai sekitar 206 terawatt-jam. Pelaksanaan strategi pendinginan nasional ditujukan untuk menahan kebutuhan tersebut menjadi sekitar 104 terawatt-jam.
Baca juga: AC Mulai Menjadi Ancaman Energi ASEAN
Selisihnya sekitar 102 terawatt-jam. Jumlah itu menunjukkan bahwa efisiensi bukan persoalan kecil di sudut rumah. Itu dapat menentukan seberapa banyak pembangkit dan jaringan baru yang harus dibangun Indonesia.
I-NCAP juga mengutip analisis bahwa peningkatan efisiensi energi AC ruangan sebesar 30 persen dapat mengurangi kebutuhan daya puncak hingga hampir 1.600 megawatt.
Kapasitas sebesar itu sebanding dengan beberapa unit pembangkit listrik berskala besar. Artinya, membeli AC yang lebih efisien bukan hanya mengurangi tagihan rumah tangga. Jika dilakukan secara luas, langkah tersebut dapat menghindarkan sistem kelistrikan dari kebutuhan membangun kapasitas pembangkit tambahan.
Pemerintah sudah mengakui risikonya
Ketika I-NCAP diluncurkan, Rachmat Kaimuddin, yang saat itu menjabat Deputi Bidang Koordinasi Infrastruktur dan Transportasi Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, menyebut rencana tersebut sebagai langkah penting untuk melindungi masyarakat dari panas ekstrem melalui solusi pendinginan berkelanjutan.
Pesannya penting. Pendinginan bukan lagi barang mewah yang hanya berkaitan dengan kenyamanan kelas menengah perkotaan.
Rumah sakit membutuhkan pendinginan untuk menjaga obat dan vaksin. Petani dan nelayan memerlukan rantai dingin agar hasil produksi tidak cepat rusak. Sekolah dan tempat kerja membutuhkan suhu yang aman agar kegiatan belajar dan produktivitas tidak jatuh ketika panas ekstrem terjadi.
Baca juga: Batas Pemanasan Global 1,5°C Segera Terlewati, Era Overshoot Dimulai
Pendinginan, dengan demikian, telah menjadi bagian dari infrastruktur pembangunan.
Namun, aksesnya belum merata. Sebagian masyarakat dapat menghadapi panas dengan menyalakan AC sepanjang hari. Sebagian lainnya tinggal di rumah yang menyerap panas, minim ventilasi, jauh dari ruang hijau, dan tidak memiliki kemampuan membayar perangkat maupun listrik.
Masalah pendinginan juga merupakan persoalan keadilan.

Dunia tidak bisa hanya menambah AC
Tantangan serupa terjadi secara global. UN Environment Programme atau UNEP memperkirakan kebutuhan pendinginan dunia dapat meningkat lebih dari tiga kali lipat pada 2050 jika kebijakan berjalan seperti sekarang.
Emisi yang berkaitan dengan pendinginan dapat mendekati 7,2 miliar ton setara karbon dioksida pada tahun yang sama. Angka itu hampir dua kali tingkat emisi sektor pendinginan pada 2022.
Pemicunya datang dari dua arah.
Pertama, listrik yang mengoperasikan AC dan mesin pendingin masih banyak berasal dari bahan bakar fosil. Kedua, sebagian perangkat memakai hidrofluorokarbon atau HFC, kelompok gas refrigeran yang tidak merusak ozon seperti CFC, tetapi memiliki daya pemanasan global sangat tinggi.
Baca juga: Pemanasan Global 2°C Tak Terbendung, Apa Dampaknya bagi Indonesia?
Direktur Eksekutif UNEP Inger Andersen mengingatkan bahwa akses terhadap pendinginan harus diperlakukan sebagai infrastruktur esensial, bersama air, energi, dan sanitasi.
Namun, ia sekaligus memberi batas tegas. Dunia tidak dapat keluar dari krisis panas hanya dengan memasang semakin banyak AC. Cara tersebut justru dapat menaikkan emisi gas rumah kaca dan biaya energi.
Pernyataan itu menjadi inti persoalannya. Menolak AC bukan jawaban karena panas ekstrem dapat mengancam kesehatan dan kehidupan. Tetapi, memperluas AC boros energi juga bukan jalan keluar yang berkelanjutan.
Tidak Semua Kesejukan Harus dari Mesin
Laporan Global Cooling Watch 2025 dari UNEP menunjukkan adanya jalan lain. Jalur pendinginan berkelanjutan dapat memangkas proyeksi emisi sektor ini hingga 64 persen pada 2050.
Menariknya, hampir dua pertiga potensi penurunan emisi tersebut bukan berasal dari penambahan mesin baru. Solusinya justru datang dari pendinginan pasif dan teknologi rendah energi.
Bangunan dapat dirancang agar tidak menyimpan terlalu banyak panas. Atap reflektif dapat mengurangi penyerapan radiasi matahari. Pepohonan dan ruang hijau dapat menurunkan suhu kawasan. Ventilasi silang membantu udara bergerak. Kipas yang dipadukan dengan AC memungkinkan pengaturan suhu lebih tinggi tanpa mengurangi kenyamanan.
UNEP memperkirakan strategi pendinginan pasif dapat menurunkan suhu dalam ruangan antara 0,5 hingga 8 derajat Celsius, tergantung kondisi bangunan dan iklim setempat. Sistem hibrida yang menggabungkan kipas dan AC juga dapat memangkas penggunaan energi sekitar 30 persen.
Ini berarti strategi pendinginan tidak boleh diserahkan hanya kepada konsumen saat memilih perangkat elektronik.
Standar bangunan, tata ruang kota, jumlah pepohonan, kualitas perumahan, standar efisiensi minimum AC, jenis refrigeran, kemampuan teknisi, serta kebersihan pasokan listrik menentukan besar-kecilnya emisi yang dihasilkan.
Momentum 10 Tahun Amandemen Kigali
Persoalan tersebut semakin relevan menjelang Hari Ozon Sedunia, 16 September 2026.
Tahun ini menandai satu dekade Amandemen Kigali atas Protokol Montreal. Kesepakatan global itu mengatur pengurangan bertahap HFC dan mendorong peralihan menuju teknologi pendinginan yang lebih efisien serta ramah iklim.
Protokol Montreal sebelumnya berhasil menghapus lebih dari 99 persen bahan perusak ozon yang dikendalikan. Keberhasilan itu menunjukkan bahwa regulasi, inovasi industri, pendanaan, dan kepatuhan internasional dapat memperbaiki kerusakan lingkungan yang pernah dianggap sulit dipulihkan.
Baca juga: Panas Ekstrem Bukan Lagi Cuaca Biasa
Indonesia kini menghadapi ujian berikutnya. Menerjemahkan rencana pendinginan nasional menjadi standar dan tindakan nyata.
AC akan semakin banyak. Lemari pendingin, gudang dingin, pusat data, rumah sakit, hotel, kendaraan, dan kawasan industri juga terus berkembang.
Pertanyaannya bukan lagi apakah Indonesia membutuhkan lebih banyak pendinginan. Sebaliknya apakah kebutuhan itu akan dipenuhi dengan mesin yang efisien, bangunan yang lebih adaptif, refrigeran rendah emisi, dan listrik yang semakin bersih, atau justru dengan pola lama yang menambah pembangkit fosil dan memperpanjang lingkaran pemanasan.
Kesejukan di dalam ruangan tidak seharusnya dibayar dengan atmosfer yang semakin panas. ***
- FOTO: Berna/ Pexels – Deretan unit pendingin udara terpasang pada fasad sebuah gedung. Kebutuhan AC diperkirakan terus meningkat seiring suhu yang memanas, urbanisasi, dan pertumbuhan daya beli. Namun, tanpa perangkat efisien dan listrik bersih, kesejukan di dalam ruangan dapat menambah konsumsi energi dan emisi.


