Bantargebang Masuk Radar Metana Global, Tata Kelola Sampah Jadi Risiko Iklim

KRISIS sampah di Indonesia tidak lagi bisa dibaca sebagai persoalan lokal. Data satelit terbaru menunjukkan, Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang kini masuk dalam daftar sumber emisi metana terbesar di dunia. Ini menandai pergeseran penting, dari isu pengelolaan limbah menjadi risiko iklim yang terukur.

Laporan Spotlight on the Top 25 Methane Plumes in 2025: Landfills yang dirilis UCLA School of Law mencatat Bantargebang menghasilkan sekitar 6,3 ton metana per jam, menjadikannya salah satu titik emisi terbesar secara global dan tertinggi di kawasan Asia.

Metana adalah gas rumah kaca yang memiliki daya pemanasan jauh lebih kuat dibanding karbon dioksida dalam jangka pendek. Dalam konteks perubahan iklim, emisi metana sering disebut sebagai “low-hanging fruit” mitigasi karena dampaknya yang cepat dan signifikan.

Terbaca dari Orbit

Temuan ini tidak berasal dari estimasi konvensional. Data diperoleh melalui pemantauan satelit yang dikembangkan oleh Carbon Mapper, memanfaatkan sensor dari satelit Tanager-1 milik Planet Labs dan instrumen EMIT milik NASA yang terpasang di Stasiun Luar Angkasa Internasional.

Baca juga: Tragedi Bantar Gebang dan Keterlambatan Transisi Pengelolaan Sampah Jakarta

Pendekatan ini memungkinkan deteksi langsung “plume” atau gumpalan metana di atmosfer. Dalam laporan tersebut, Bantargebang menunjukkan tingkat persistensi 100 persen, artinya emisi selalu terdeteksi setiap kali satelit melintas.

Dengan kata lain, ini bukan kebocoran sesaat. Ini adalah emisi sistemik.

Dari Sampah ke Emisi

Jawaban langsungnya sederhana. Bantargebang menunjukkan bahwa sistem pengelolaan sampah berbasis penumpukan (landfill) telah menjadi sumber emisi metana besar yang tidak lagi bisa diabaikan dalam kebijakan iklim.

Metana dihasilkan dari proses dekomposisi bahan organik dalam kondisi minim oksigen. Dalam sistem landfill terbuka seperti Bantargebang, volume sampah organik yang tinggi mempercepat pembentukan gas ini.

Baca juga: Bantar Gebang dan Krisis Open Dumping Indonesia

Indonesia masih menghadapi tantangan struktural dalam pengelolaan sampah. Pemilahan di sumber belum optimal. Infrastruktur pengolahan terbatas. Akibatnya, sebagian besar sampah berakhir di TPA, menciptakan akumulasi emisi yang terus meningkat.

Grafis: Daffa Attarikh/ SustainReview.

Risiko yang Terakumulasi

Implikasi dari emisi metana tidak berhenti pada kontribusi terhadap perubahan iklim. Dalam konsentrasi tinggi, gas ini juga meningkatkan risiko kebakaran dan ledakan di area TPA.

Baca juga: Baca juga: Tender PSEL, Taruhan Tata Kelola Energi Sampah

Data Aliansi Zero Waste Indonesia menunjukkan puluhan kasus kebakaran TPA di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir dipicu oleh akumulasi gas metana, terutama saat suhu ekstrem meningkat.

Ini memperlihatkan bahwa krisis sampah memiliki dimensi risiko berlapis. Lingkungan, keselamatan, hingga kesehatan publik.

Kapasitas dan Kebijakan

Bantargebang menerima sekitar 7.700 ton sampah per hari dari Jakarta dan sekitarnya. Dengan luas sekitar 117 hektare, lokasi ini telah mengalami kelebihan kapasitas, dengan ketinggian timbunan mencapai puluhan meter.

Pernyataan Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, yang menyebut tumpukan sampah setara gedung 16–20 lantai mencerminkan tekanan yang terus meningkat pada sistem ini.

Baca juga: Hujan Mikroplastik di Jakarta, Bukti Gagalnya Transisi Sampah Kota

Namun, persoalannya bukan hanya kapasitas. Ini soal desain kebijakan.

Selama pengelolaan sampah masih bertumpu pada model “kumpul–angkut–buang”, maka emisi metana akan terus terbentuk. Tanpa intervensi di hulu, terutama pengurangan sampah organik dan peningkatan daur ulang, TPA akan tetap menjadi sumber emisi laten.

Dari Lokal ke Sistemik

Masuknya Bantargebang dalam radar metana global menunjukkan satu hal penting. Data kini mampu mengungkap titik-titik lemah sistem pengelolaan lingkungan secara objektif dan real-time.

Ini mengubah cara risiko dilihat.

Baca juga: 20 Kota Dipilih PBB, Indonesia Belum Masuk Peta Kota Nol Sampah

Bukan lagi sekadar isu kota atau provinsi, tetapi bagian dari kontribusi nasional terhadap emisi global. Artinya, kebijakan pengelolaan sampah tidak bisa lagi berdiri sendiri. Tapi. harus terintegrasi dengan strategi mitigasi perubahan iklim.

Dalam konteks ini, pengurangan metana dari sektor limbah menjadi peluang sekaligus keharusan. Intervensi seperti pemilahan sampah organik, pengolahan berbasis kompos atau biodigester, hingga penangkapan gas landfill untuk energi menjadi semakin relevan. ***

  • Foto: Tom Fisk/ PexelsAktivitas alat berat di TPST Bantargebang mencerminkan skala pengelolaan sampah yang terus berlangsung setiap hari. Dalam kondisi minim pengolahan, akumulasi ini menjadi sumber emisi metana yang kini terdeteksi hingga level global.
Bagikan