PENGEMBANGAN energi panas bumi di Indonesia tidak sepenuhnya bebas risiko. Studi terbaru di kawasan Dataran Tinggi Dieng menunjukkan bahwa sistem geotermal juga membawa jalur paparan unsur geogenik yang dapat berinteraksi langsung dengan air, tanah, pangan, dan manusia.
Temuan ini memperluas cara pandang terhadap geotermal. Bukan hanya sebagai sumber energi bersih, tetapi juga sebagai environmental exposure landscape, ruang hidup tempat energi, geokimia, dan aktivitas manusia saling bertemu.
Dari Energi ke Paparan
Selama ini, diskursus geotermal di Indonesia lebih banyak berhenti pada potensi energi dan pengembangan reservoir. Namun, dalam lanskap vulkanik aktif seperti Dieng, sistem panas bumi juga berfungsi sebagai jalur mobilisasi unsur alami dari dalam bumi ke permukaan.
Baca juga: Membangunkan Raksasa Tidur, Terobosan Baru Panas Bumi Indonesia
Dalam webinar DIGDAYA #21, peneliti Pusat Riset Sumber Daya Geologi BRIN, Riostantieka Mayandari Soedarto, menjelaskan bahwa unsur-unsur tersebut dapat berpindah melalui air, tanah, sedimen, debu, hingga tanaman, membentuk rantai paparan yang relevan bagi manusia.
Dengan kata lain, risiko tidak selalu datang dari aktivitas industri. Dalam konteks tertentu, juga merupakan bagian dari dinamika alami bumi yang bertemu dengan ruang hidup masyarakat.
Sinyal dari Kawah Sileri
Sebagai studi kasus, kawasan sekitar Kawah Sileri di Dieng menunjukkan indikasi kuat paparan unsur toksik geogenik. Penelitian yang dilakukan pada Agustus–September 2025, sekitar delapan bulan setelah erupsi 18 Desember 2024, mengidentifikasi lima unsur prioritas. Masing-masing arsenik (As), antimoni (Sb), kadmium (Cd), kromium (Cr), dan timbal (Pb).
Hasil awalnya signifikan.
Baca juga: Hari Bumi 2026: Krisis Lingkungan Adalah Krisis Tata Kelola
Konsentrasi arsenik di wilayah Sileri Barat tercatat hingga 94 kali lipat dari pedoman air minum World Health Organization. Pada media tanah, arsenik bahkan mencapai 562 kali pembanding United States Environmental Protection Agency.
Kromium tercatat hingga 157 kali ambang US EPA, sementara antimoni dan kadmium masing-masing melampaui standar tanah Belanda, dan timbal melebihi batas National Environment Protection Measure Australia.
Angka-angka ini tidak serta-merta berarti krisis. Namun, itu menunjukkan adanya gradien paparan yang perlu dipahami secara serius, terutama dalam konteks jangka panjang.

Dieng sebagai Laboratorium Hidup
Dieng menghadirkan satu karakter unik, kedekatan antara manifestasi geotermal dengan kehidupan sehari-hari. Sumber air, lahan pertanian, permukiman, dan aktivitas ekonomi berada dalam satu lanskap yang sama dengan sistem panas bumi aktif.
Inilah yang menjadikan Dieng bukan sekadar “energy landscape”, tetapi juga living laboratory untuk memahami keterhubungan antara energi, lingkungan, dan kesehatan masyarakat.
Baca juga: Panas Bumi Dunia di Ambang Rekor Baru, Indonesia Jadi Kunci
Pendekatan yang digunakan dalam studi ini bergerak dari evidence ke action. Dimulai dari identifikasi awal unsur dan media kunci, dilanjutkan validasi laboratorium, pemetaan spasial untuk menemukan hotspot, hingga penentuan prioritas pada sumber air, komoditas, dan kelompok rentan.
Tahap akhirnya adalah mitigasi, meliputi sistem monitoring, standar operasional, hingga strategi komunikasi risiko.
Implikasi Kebijakan
Temuan ini membawa satu pesan penting, transisi energi tidak cukup hanya dihitung dari sisi emisi.
Dalam konteks geotermal, ada dimensi lain yang perlu masuk dalam desain kebijakan, yaitu paparan geogenik terhadap lingkungan dan kesehatan. Ini mencakup pengelolaan sumber air, pengawasan lahan pertanian, hingga perlindungan kelompok rentan di sekitar wilayah geotermal.
Baca juga: Raksasa Tertidur Panas Bumi, Bisakah Indonesia Bangun di 2030?
Kepala PRSDG BRIN, Iwan Setiawan, menegaskan bahwa hasil riset ini diharapkan menjadi dasar dalam pengambilan kebijakan pengelolaan geotermal yang lebih berkelanjutan dan berwawasan lingkungan.
Momentum Hari Bumi juga menjadi pengingat bahwa keseimbangan antara pemanfaatan dan perlindungan sumber daya alam tidak bisa ditunda.
Membaca Ulang Energi Bersih
Geotermal tetap menjadi bagian penting dari strategi energi Indonesia. Namun, studi di Dieng menunjukkan bahwa narasi “energi bersih” perlu dibaca lebih utuh.
Baca juga: 2050 Energi Bersih, Saatnya Indonesia Punya Strategi Transisi yang Terpadu
Energi bersih bukan berarti tanpa konsekuensi. Energi bersih tetap berinteraksi dengan sistem alam dan sosial yang kompleks.
Dieng, dengan segala keindahannya, memberi satu pelajaran penting.
Transisi energi adalah tentang mengelola manfaat, sekaligus memahami risiko yang menyertainya. ***
- Foto: Dok. Humas BRIN – Lanskap geotermal di Dieng berdampingan langsung dengan lahan pertanian dan aktivitas masyarakat, mencerminkan pertemuan antara sistem energi dan jalur paparan lingkungan.


