COP17: Kerusakan Alam Merambat ke Risiko Pangan

Perdebatan di Yerevan memperlihatkan sulitnya menyatukan agenda alam dan iklim. Bagi Indonesia, taruhannya menjangkau ketahanan produksi dan pasokan pangan lintas negara. KERUSAKAN alam tidak berhenti di perbatasan negara. Ketika tanah kehilangan kesuburan, ketersediaan air terganggu, atau ekosistem pertanian melemah, risikonya dapat mengikuti perjalanan komoditas hingga ke negara pembeli. Hubungan tersebut memberi konteks penting bagi COP17…

Baca Selengkapnya...

Ketahanan Pangan Membutuhkan Informasi Iklim yang Sampai ke Petani

KEPUTUSAN menanam dimulai jauh sebelum benih menyentuh tanah. Petani harus memperkirakan datangnya hujan, kecukupan air, dan risiko musim yang berubah. Keputusan itu menentukan penggunaan modal, tenaga, serta peluang panen beberapa bulan kemudian. Di tengah perubahan iklim, informasi musim menjadi bagian penting dari perlindungan pangan. Namun, kemampuan menghasilkan model yang semakin detail baru merupakan satu tahap….

Baca Selengkapnya...

Hujan Mundur, Siapa Menanggung Kemarau Lebih Panjang?

HUJAN yang dinanti belum tentu segera datang. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi awal musim hujan 2026/2027 mundur dari rerata klimatologis di 529 zona musim, yang mencakup 61,08% luas daratan Indonesia. Di wilayah yang mencakup 51,90% luas daratan, durasi musim hujan juga diprakirakan lebih pendek dari normal. Angka itu bukan sekadar perubahan kalender. Setiap…

Baca Selengkapnya...

El Niño Datang, Mengapa Jawabannya Masih Beras?

El Niño sangat kuat sedang mengeringkan sebagian wilayah Indonesia. Pemerintah merespons dengan hampir satu juta ton bantuan beras dan tambahan satu juta ton SPHP. Stok hari ini mungkin aman. Pertanyaan yang lebih besar, seberapa tahan sistem pangan jika kekeringan berlangsung hingga awal 2027? HAMPIR satu juta ton beras akan kembali bergerak dari gudang pemerintah menuju…

Baca Selengkapnya...

Dari Peringatan Kemarau ke Krisis Pangan Nduga Papua

BMKG telah memperingatkan kemarau dan curah hujan rendah. Namun, 2.325 hektare lahan pertanian di Nduga akhirnya gagal panen, 1.156 keluarga terancam rawan pangan, dan sebagian warga mengungsi. KEKERINGAN di Kabupaten Nduga, Papua Pegunungan, telah melewati batas persoalan cuaca. Air berkurang, kebun gagal menghasilkan makanan, dan sebagian warga bergerak meninggalkan kampung untuk mencari kebutuhan dasar. Badan…

Baca Selengkapnya...

Indonesia Punya 2.564 Calon Pangan, Mengapa Pilihan Kita Sempit?

Indonesia memiliki ribuan tumbuhan yang berpotensi menjadi pangan. Di tengah perubahan iklim dan tekanan terhadap tanah, air, serta biodiversitas, keragaman itu seharusnya menjadi sistem cadangan ketahanan pangan, bukan sekadar kekayaan yang tersimpan dalam daftar spesies. INDONESIA tidak kekurangan pilihan untuk makan. Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Ekologi BRIN, Prof. Wawan Sujarwo, mencatat sedikitnya 2.564 spesies…

Baca Selengkapnya...

Anggaran Pangan Besar, Sudahkah Irigasi Tahan Iklim?

China mengucurkan US$319 juta untuk mencegah bencana pertanian dan memperbaiki infrastruktur air. Indonesia menghadapi pertanyaan serupa ketika El Niño mengancam musim tanam. CHINA tidak menunggu seluruh sawah rusak sebelum mengeluarkan anggaran. Pemerintah negara itu mengalokasikan 2,154 miliar yuan atau sekitar US$319 juta untuk dana konservasi air dan penanganan bencana. Anggaran tersebut akan digunakan untuk mencegah…

Baca Selengkapnya...

Super El Niño Berpotensi Ubah Krisis Iklim Jadi Krisis Ekonomi Global Baru

DUNIA mulai menghadapi ancaman baru yang tidak lagi sekadar berkaitan dengan cuaca panas atau musim kering lebih panjang. Fenomena “Super El Niño” kini diperkirakan berpotensi menjadi salah satu risiko global terbesar menjelang 2027, karena dampaknya dapat menjalar ke pangan, energi, inflasi, hingga stabilitas ekonomi banyak negara. Super El Niño adalah fase pemanasan ekstrem suhu permukaan…

Baca Selengkapnya...