Investor memasukkan AI bertanggung jawab dalam strategi keberlanjutan. Namun, prioritas pada tata kelola perlu disertai pengukuran listrik, air, dan dampak pusat data terhadap masyarakat.
KECERDASAN BUATAN semakin mendapat tempat dalam strategi investasi berkelanjutan. Perkembangan ini membawa tuntutan bagi dunia keuangan. Kemampuan AI membantu efisiensi perlu dinilai bersama sumber daya yang dikonsumsi infrastruktur pendukungnya.
Survei Sustainable Signals 2026 dari Morgan Stanley Institute for Sustainable Investing menunjukkan 66% responden memasukkan AI bertanggung jawab dalam strategi investasi berkelanjutan. Temuan ini memperluas cakupan penilaian investor terhadap teknologi, dari peluang pertumbuhan hingga cara penggunaannya dikelola.
Di balik perkembangan tersebut, laporan lengkap memperlihatkan perbedaan prioritas. Pengawasan perusahaan mendapat perhatian terbesar, sementara emisi, penggunaan air, dan dampak terhadap masyarakat menempati porsi lebih kecil.
Tata Kelola Mendominasi
Di antara 590 responden yang memasukkan AI bertanggung jawab dalam strategi keberlanjutan, 61% menyebut tata kelola adopsi AI perusahaan sebagai bidang yang paling banyak menyita perhatian. Cakupannya meliputi pengawasan dewan, kebijakan etika, dan keamanan siber.
Sebanyak 24% berfokus pada persoalan sosial dan lingkungan penyedia model bahasa besar atau LLM. Rinciannya: 12% memprioritaskan emisi karbon dan dampak penggunaan air, 10% dampak proyek pusat data terhadap masyarakat, serta 2% bias sistemik dalam desain model. Angka tersebut menunjukkan prioritas utama, sehingga tidak dapat diartikan bahwa responden lainnya mengabaikan lingkungan.
Baca juga: Server Shanghai Turun ke Laut, Beban Panas Pindah ke Mana?
Jessica Alsford, Chief Sustainability Officer sekaligus Chair Morgan Stanley Institute for Sustainable Investing, menilai komitmen keberlanjutan tetap tinggi, dengan laju yang lebih terukur dan perhatian lebih tajam pada pengelolaan risiko, sebagaimana disampaikan dalam publikasi 22 Oktober 2026.
Dalam kerangka itu, kualitas tata kelola perlu terlihat pada keputusan operasional: pemilihan sumber listrik, pengelolaan air, serta keterbukaan dampak fasilitas.
Listrik Mengikuti Ekspansi
Besarnya kebutuhan energi memberi alasan kuat untuk memperluas pemeriksaan tersebut.
Laporan IEA Key Questions on Energy and AI, terbit April 2026, memperkirakan konsumsi listrik pusat data global meningkat dari 485 terawatt-jam pada 2025 menjadi sekitar 950 terawatt-jam pada 2030. Jumlah terakhir setara sekitar 3% kebutuhan listrik dunia. Angka tersebut mencakup seluruh pusat data; konsumsi fasilitas yang berfokus pada AI diproyeksikan tumbuh tiga kali lipat dalam periode yang sama.
“Tidak ada AI tanpa energi,” kata Direktur Eksekutif IEA Fatih Birol dalam keterangan lembaganya pada 16 April 2026.
Birol juga menekankan bahwa AI semakin mendorong inovasi energi, termasuk pusat data fleksibel dan penyimpanan energi berdurasi panjang. Pandangannya menempatkan teknologi ini sebagai pengguna energi sekaligus pendorong solusi.
Keseimbangan tersebut penting. IEA mencatat efisiensi energi per tugas AI membaik pesat. Namun, pertumbuhan pengguna dan aplikasi yang lebih boros, seperti pembuatan video serta tugas agen AI, dapat memperbesar kebutuhan keseluruhan. Efisiensi per layanan perlu dibaca bersama pertumbuhan total konsumsi.

Air Memerlukan Pemeriksaan
Penilaian lingkungan juga perlu menjangkau seluruh siklus teknologi. UNEP mengidentifikasi konsumsi energi, air, dan mineral, bersama emisi serta limbah elektronik, sebagai dampak langsung yang perlu diperhitungkan dalam pengembangan dan penggunaan AI.
Implikasinya bagi investor adalah perlunya pemeriksaan hingga tingkat lokasi. Data penggunaan air perlu dibaca bersama kondisi pasokan setempat, kebutuhan masyarakat, dan kemampuan fasilitas mengurangi tekanan ketika terjadi kekeringan.
Baca juga: Data Center Purwakarta Dihentikan Sementara, Bagaimana Melindungi Air Warga?
Demikian pula, klaim efisiensi pusat data perlu dilengkapi informasi konsumsi absolut. Fasilitas dapat semakin efisien per unit komputasi, sementara ekspansi kapasitas tetap memperbesar kebutuhan sumber daya.
Kerangka ini membantu membedakan kemajuan teknis dari hasil lingkungan yang benar-benar tercapai.
Ukuran Investasi Indonesia
Bagi Indonesia, temuan tersebut menawarkan kerangka untuk menilai kualitas investasi pusat data. Pemerintah dan pemberi pembiayaan dapat meminta keterbukaan konsumsi listrik, sumber energi, penggunaan air, serta mekanisme penanganan keluhan masyarakat.
Penilaian proyek juga perlu mencakup pembagian biaya infrastruktur. IEA mengingatkan bahwa beban listrik pusat data yang besar dan terkonsentrasi dapat memerlukan tambahan pembangkit serta investasi jaringan. Kebijakan dan integrasi yang tepat dapat membantu mengelola dampaknya terhadap keterjangkauan listrik.
Baca juga: Algoritma Menjual Keinginan, Bumi Membayar Harganya
Survei Morgan Stanley sendiri memiliki batas: respondennya merupakan institusi yang sudah menjalankan atau berencana menjalankan investasi berkelanjutan. Penelitian daring pada 24 Agustus–1 Oktober 2026 itu melibatkan 600 pemilik aset dan 300 pengelola aset; hasilnya tidak otomatis mewakili seluruh investor institusional.
Meski demikian, arah pesannya relevan. Masuknya AI ke agenda keberlanjutan perlu diikuti standar pembuktian yang semakin lengkap. Modal dapat mendorong perusahaan membuka data dan memperbaiki operasi, sehingga manfaat teknologi tumbuh bersama pertanggungjawaban atas listrik, air, dan ruang hidup yang digunakannya. ***
- Foto: Christina Morillo/ Pexels – Pemantauan infrastruktur pusat data. Penilaian keberlanjutan AI perlu menjangkau tata kelola, konsumsi energi, dan dampak lingkungan.


