Indonesia mulai membangun koridor hidrogen sepanjang 194 kilometer. Namun, sebagian pasokan yang telah diproduksi bahkan belum menemukan pengguna.
INDONESIA sudah dapat memproduksi hidrogen. Persoalannya, belum seluruh hidrogen itu mempunyai pembeli.
Direktur Utama PT PLN Darmawan Prasodjo mengungkapkan perusahaannya memproduksi sekitar 200 ton hidrogen per tahun. Dari jumlah tersebut, baru sekitar 75 ton yang digunakan untuk kebutuhan internal pembangkit.
Sisanya belum terserap.
“Kami produksi 200 ton, yang dipakai 75 ton. Sisanya 125 ton itu nganggur,” kata Darmawan dalam pernyataan yang disampaikan pada Juli 2026.
Angka 125 ton itu memperlihatkan salah satu tantangan mendasar dalam pengembangan energi baru.
Kemampuan memproduksi tidak otomatis menciptakan pasar.
Pasokan dapat tersedia. Infrastruktur dapat mulai dibangun. Namun, tanpa pengguna yang jelas, hidrogen hanya akan berpindah dari fasilitas produksi menuju tempat penyimpanan.
Persoalan inilah yang membayangi langkah terbaru Indonesia membangun Green Hydrogen Corridor Jakarta–Karawang–Patimban.
Baca juga: Hydrogen Hub dan Masa Depan Hidrogen Hijau Indonesia
Koridor sepanjang 194 kilometer tersebut diperkenalkan pemerintah pada 21 Juli 2026. Jalurnya menghubungkan Jakarta sebagai pusat ekonomi dan transportasi, Karawang sebagai kawasan industri, serta Patimban sebagai simpul pelabuhan dan logistik.
Di atas peta, ketiga wilayah itu membentuk rantai yang menjanjikan.
Namun, koridor hidrogen bukan hanya perkara menghubungkan tiga titik. Koridor harus mempertemukan produksi, distribusi, dan permintaan dalam satu ekosistem yang bekerja.
Pertanyaan terbesarnya bukan lagi sekadar apakah Indonesia mampu membuat hidrogen.
Pertanyaannya, siapa yang akan memakainya?
Pasar Hidrogen Sudah Besar
Indonesia sebenarnya bukan pemain baru dalam penggunaan hidrogen.
Konsumsi hidrogen nasional saat ini mencapai sekitar 1,75 juta ton per tahun. Sebanyak 88 persen digunakan untuk memproduksi urea, 4 persen untuk amonia, dan 2 persen untuk kebutuhan kilang minyak.
Angka tersebut menunjukkan bahwa pasar hidrogen di Indonesia telah terbentuk dalam skala besar.
Namun, besarnya konsumsi itu tidak dapat langsung dibaca sebagai besarnya pasar hidrogen hijau.
Sebagian besar hidrogen yang digunakan industri masih dihasilkan dengan energi berbasis fosil.
Hidrogen jenis ini kerap disebut grey hydrogen. Proses produksinya menghasilkan karbon dioksida yang dilepaskan ke atmosfer.
Ada pula blue hydrogen. Bahan bakunya masih berasal dari energi fosil, tetapi karbon yang terbentuk dalam proses produksi berusaha ditangkap dan disimpan.
Baca juga: Ekonomi Hidrogen, Mengapa Energi Ini Menjadi Kunci Transisi Energi Global
Sementara green hydrogen dibuat melalui elektrolisis air menggunakan listrik dari sumber energi terbarukan.
Dengan demikian, hidrogen tidak menjadi hijau hanya karena digunakan oleh kendaraan atau fasilitas yang tidak mengeluarkan emisi dari knalpot.
Jejak emisinya ditentukan sejak tahap produksi.
Pertanyaan paling awal justru muncul sebelum hidrogen masuk ke tangki: listrik yang digunakan untuk membuatnya berasal dari mana?
Produksi Hijau Masih Membangun Skala
Pasar hidrogen Indonesia telah mencapai 1,75 juta ton per tahun. Namun, kapasitas hidrogen hijaunya masih berada pada tahap awal.
Pada 2026, pemerintah menetapkan target penambahan green hydrogen lebih dari 199 ton per tahun.
Kedua angka itu tidak dapat dibandingkan secara langsung seolah seluruh kebutuhan hidrogen nasional harus segera digantikan oleh hidrogen hijau.
Setiap industri memiliki kebutuhan, teknologi, kualitas hidrogen, dan perhitungan ekonomi yang berbeda.
Namun, angka tersebut memberikan gambaran mengenai posisi Indonesia saat ini.
Pasar hidrogennya sudah besar.
Produksi hijaunya masih membangun skala.
Karena itu, pengembangan koridor menjadi penting. Koridor dapat mempertemukan sumber produksi dengan pengguna yang berada dalam jarak ekonomi yang masuk akal.
Pemerintah menyebut saat ini terdapat 93 inisiatif pengembangan ekosistem hidrogen di berbagai wilayah Indonesia. Nilai investasinya mencapai sekitar Rp32 triliun.
Jumlah proyek itu menunjukkan minat yang besar.
Tetapi banyaknya inisiatif belum dengan sendirinya menjawab kebutuhan paling mendasar: seberapa besar permintaan nyata yang dapat terbentuk?
Pengalaman PLN memperlihatkan bahwa produksi bisa tumbuh lebih cepat daripada penggunanya.
Sebanyak 125 ton hidrogen yang belum termanfaatkan mungkin terlihat kecil dibandingkan konsumsi nasional sebesar 1,75 juta ton.
Namun, angka tersebut penting karena berasal dari salah satu ekosistem hidrogen awal yang sudah beroperasi.
Ia menjadi sinyal bahwa persoalan pasar tidak dapat diselesaikan hanya dengan membangun fasilitas produksi.
Bus Hidrogen Masih Menggunakan Solar
Salah satu pengguna awal yang sedang diuji pemerintah adalah sektor transportasi.
Bersamaan dengan pengenalan koridor Jakarta–Karawang–Patimban, pemerintah meluncurkan bus Hydrogen Diesel Dual Fuel atau H2 DDF.
Bus tersebut bukan kendaraan fuel-cell hidrogen murni.
Mesin diesel yang sudah ada dimodifikasi agar dapat menggunakan kombinasi solar dan hidrogen.
Berdasarkan pengujian Sucofindo, teknologi H2 DDF dilaporkan menurunkan emisi karbon dioksida sebesar 39,37 persen. Emisi karbon monoksida turun 45,45 persen, nitrogen oksida 21,16 persen, dan opasitas 57,66 persen.
Angka tersebut menunjukkan adanya penurunan emisi.
Namun, bus H2 DDF belum menjadi kendaraan nol emisi. Solar tetap digunakan dalam proses pembakaran.
Teknologi ini lebih tepat dibaca sebagai jembatan untuk mengurangi penggunaan bahan bakar fosil pada armada yang sudah ada.
Baca juga: Jun Arima: Gas, Hidrogen, dan CCS Adalah Jalan Rasional Dekarbonisasi Asia Tenggara
Pendekatan tersebut memiliki keuntungan praktis. Operator tidak harus langsung mengganti seluruh armadanya dengan kendaraan baru.
Namun, satu bus percontohan belum membentuk pasar.
Ekosistem membutuhkan jumlah armada yang memadai, jadwal pengisian yang konsisten, standar keselamatan, fasilitas penyimpanan, pasokan berkelanjutan, serta harga yang dapat diterima operator.
Teknologi dapat membuktikan bahwa bus mampu berjalan.
Pasar harus memastikan bus itu terus berjalan.

Tantangannya Bukan Hanya Electrolyzer
Pengembangan hidrogen juga tidak berhenti pada kemampuan memecah air menjadi hidrogen dan oksigen.
Kajian mengenai green hydrogen untuk pembangkitan listrik di Indonesia yang ikut ditulis peneliti Pusat Studi Energi Universitas Gadjah Mada, Adhika Widyaparaga, melihat teknologi hidrogen sebagai satu rantai yang utuh.
Rantai itu mencakup teknologi produksi, penyimpanan, jalur distribusi, hingga pemanfaatan hidrogen.
Pandangan tersebut penting bagi Indonesia.
Memproduksi hidrogen di satu tempat merupakan satu persoalan. Menyimpan, mengangkut, dan membawanya dengan aman serta ekonomis ke lokasi pengguna merupakan persoalan lain.
Tantangannya menjadi lebih kompleks karena Indonesia berbentuk kepulauan.
Lokasi dengan potensi energi terbarukan yang besar tidak selalu berdekatan dengan kawasan industri atau pusat permintaan.
Karena itu, pengembangan hidrogen tidak cukup hanya mengandalkan pembelian electrolyzer.
Indonesia juga memerlukan kemampuan dalam teknologi penyimpanan, kompresi, distribusi, fasilitas pengisian, integrasi sistem, keselamatan, serta riset yang mampu menyesuaikan teknologi dengan kondisi lokal.
Tanpa penguasaan rantai tersebut, investasi dapat membangun banyak proyek, tetapi sebagian besar nilai teknologinya tetap berasal dari luar negeri.
Angka Rp32 triliun akan menjadi lebih bermakna apabila investasi itu ikut membentuk kemampuan industri dan pengetahuan domestik.
Harga Menentukan Siapa yang Membeli
Pada akhirnya, hampir seluruh pembicaraan mengenai hidrogen bertemu pada satu persoalan: harga.
Green hydrogen membutuhkan listrik terbarukan. Setelah itu masih ada biaya electrolyzer, kompresi, penyimpanan, transportasi, dan fasilitas pemanfaatan di tingkat pengguna.
Setiap tahapan membawa biaya tambahan.
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengakui energi berbasis hidrogen saat ini masih mahal.
“Masih mahalnya energi berbasis hidrogen menjadi tantangan untuk kita semua dalam rangka bagaimana mendapatkan teknologi yang lebih efisien agar lebih kompetitif,” ujarnya saat pembukaan Global Hydrogen Ecosystem Summit 2026.
Pernyataan itu mengungkap inti persoalan keekonomian hidrogen.
Baca juga: Hidrogen Hijau Indonesia, Peluang Besar Terkunci Harga Tinggi
Produsen membutuhkan permintaan dalam jumlah besar agar biaya dapat ditekan.
Sebaliknya, calon pengguna menunggu harga turun sebelum berani beralih.
Sementara investor infrastruktur membutuhkan kepastian bahwa fasilitas yang dibangun akan digunakan dalam jangka panjang.
Persoalan itu menyerupai lingkaran.
Tidak ada pasar besar tanpa harga yang kompetitif. Namun, harga sulit turun tanpa pasar dalam skala besar.
Koridor dapat membantu memecahkan lingkaran tersebut dengan mengonsentrasikan produksi, distribusi, dan pengguna dalam satu wilayah.
Jarak pengiriman dapat diperpendek. Kebutuhan dapat diperkirakan. Infrastruktur tidak perlu tersebar terlalu luas sejak tahap awal.
Tetapi koridor hanya efektif apabila dibangun mengikuti permintaan yang nyata.
Bukan semata-mata mengikuti jumlah proyek yang dapat diumumkan.
Tidak Harus Melawan Mobil Listrik
Hidrogen juga kerap ditempatkan sebagai pesaing kendaraan listrik berbasis baterai.
Padahal, keduanya tidak selalu harus bertarung untuk pasar yang sama.
Untuk banyak kendaraan ringan, baterai memiliki keuntungan karena listrik dapat digunakan lebih langsung.
Pada hidrogen, listrik harus terlebih dahulu digunakan untuk menghasilkan hidrogen. Setelah itu, hidrogen perlu dikompresi, disimpan, didistribusikan, dan kemudian diubah kembali menjadi energi.
Setiap perubahan bentuk energi membawa kehilangan efisiensi dan menambah biaya.
Hidrogen berpotensi lebih penting untuk sektor yang sulit dielektrifikasi secara langsung.
Transportasi berat, industri baja, amonia, pelayaran, dan kebutuhan industri dengan konsumsi energi besar menjadi pasar yang lebih masuk akal.
Pemerintah sendiri mengarahkan pengembangan hidrogen untuk membantu dekarbonisasi sektor industri, transportasi, dan ketenagalistrikan.
Karena itu, pertanyaannya bukan apakah hidrogen akan mengalahkan kendaraan listrik.
Pertanyaan yang lebih tepat adalah: teknologi mana paling sesuai untuk kebutuhan apa?
Jawaban atas pertanyaan tersebut akan menentukan siapa pengguna koridor hidrogen.
Koridor untuk bus perkotaan membutuhkan pola pasokan berbeda dengan koridor untuk truk logistik, kawasan industri, pelabuhan, pembangkit listrik, atau produksi amonia.
Tanpa kejelasan pengguna, infrastruktur dapat tumbuh lebih cepat daripada pasarnya.
Ujiannya Ada pada Ekosistem
Indonesia telah memiliki sejumlah modal awal.
Konsumsi hidrogen nasional mencapai sekitar 1,75 juta ton per tahun.
Ada 93 inisiatif pengembangan dengan investasi sekitar Rp32 triliun.
Koridor sepanjang 194 kilometer mulai dikembangkan.
Bus H2 DDF mulai diuji.
PLN juga telah memproduksi sekitar 200 ton hidrogen setiap tahun.
Namun, di tengah deretan angka tersebut, ada satu angka yang tidak boleh dilewatkan.
Sebanyak 125 ton hidrogen produksi PLN belum termanfaatkan.
Angka itu memperlihatkan bahwa kemampuan memproduksi belum otomatis menciptakan pengguna.
Masa depan green hydrogen Indonesia karena itu tidak hanya ditentukan oleh banyaknya proyek yang diluncurkan atau nilai investasi yang diumumkan.
Baca juga: Mesin Hidrogen Airbus Melaju, Bandara Masih Tertinggal
Ujiannya berada pada keseluruhan ekosistem.
Apakah listrik terbarukannya tersedia?
Apakah biaya produksinya dapat ditekan?
Apakah teknologi dan kemampuan industrinya ikut dikuasai?
Bisakah hidrogen disimpan dan didistribusikan secara aman?
Sektor mana yang paling membutuhkannya?
Dan yang paling sederhana: siapa yang bersedia membelinya?
Koridor dapat membuka jalan.
Namun, hanya pasar yang nyata dan ekosistem yang bekerja yang dapat membuat hidrogen benar-benar berjalan. ***
- Foto: Dokumentasi PLN – Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo menjelaskan pengembangan ekosistem hidrogen di fasilitas Hydrogen Refueling Station PLN. Indonesia mulai membangun infrastruktur hidrogen, tetapi sebagian pasokan awal belum seluruhnya terserap.


