MALAPARI mulai mendapat tempat baru dalam peta transisi energi Indonesia.
Tanaman bernama ilmiah Pongamia pinnata itu tidak hanya menghasilkan minyak nabati yang dapat diolah menjadi biodiesel. Minyak bijinya juga dinilai berpotensi menjadi bahan baku bahan bakar penerbangan berkelanjutan atau sustainable aviation fuel (SAF).
Prospek tersebut diperkenalkan Badan Riset dan Inovasi Nasional dalam Capacity Building dan Expo Organisasi Riset Hayati dan Lingkungan BRIN 2026 di Cibinong, Bogor, pada 8–9 Juli 2026.
Namun, keberhasilan menghasilkan bahan bakar di laboratorium baru merupakan langkah awal.
Tantangan sesungguhnya dimulai ketika Malapari harus ditanam dalam skala luas, dipanen secara konsisten, diangkut menuju fasilitas pengolahan, lalu dibuktikan memiliki manfaat lingkungan yang lebih baik dibandingkan bahan bakar fosil.
Tidak Bersaing dengan Tanaman Pangan
Malapari menawarkan karakter yang menarik.
Tanaman ini dapat tumbuh pada lahan kritis dan lahan marginal yang kurang produktif untuk tanaman pangan. Sistem perakarannya memiliki bintil akar yang mampu mengikat nitrogen sehingga berpotensi membantu memperbaiki kualitas tanah.
Peneliti Pusat Riset Botani Terapan BRIN, Danu, mengatakan Malapari dapat menyediakan minyak untuk biodiesel maupun SAF. Bungkil sisa ekstraksi bijinya juga berpotensi dimanfaatkan sebagai pakan ternak, sedangkan daunnya tengah dikembangkan sebagai bahan produk perawatan kulit.
Baca juga: Eropa Industrialisasi SAF, Indonesia Perlu Membaca Arah
Karakter multiguna tersebut membuat Malapari tidak hanya dipandang sebagai tanaman energi. Tapi, juga berpeluang ditempatkan sebagai bagian dari rehabilitasi lahan dan pengembangan ekonomi masyarakat.
BRIN kini mengembangkan bibit unggul, merintis kawasan inti, serta bekerja sama dengan perusahaan dan Kementerian Kehutanan untuk membangun sumber bahan baku. Fasilitas pengolahan direncanakan berkembang secara paralel dengan perluasan area tanam.
Model itu penting. Pabrik bioenergi tidak dapat menunggu tanaman menghasilkan biji. Sebaliknya, kebun tidak akan ekonomis apabila tidak tersedia pembeli dan fasilitas pengolahan.
Mampu Tumbuh Belum Tentu Produktif
Narasi mengenai lahan marginal tetap perlu dibaca secara hati-hati.
Kemampuan tanaman bertahan pada tanah yang kurang subur tidak otomatis menjamin produktivitas minyak yang tinggi. Produksi tetap dipengaruhi mutu bibit, umur tanaman, kondisi air, pemeliharaan, pola panen, serta jarak antara kebun dan pabrik.
Industri SAF membutuhkan pasokan besar dan berkelanjutan. Biaya bahan baku, hasil konversi, skala fasilitas, dan investasi pabrik turut menentukan harga akhir bahan bakar. ICAO bahkan menempatkan biaya serta ketersediaan bahan baku sebagai komponen penting dalam keekonomian SAF.

Indonesia sebenarnya telah memasuki tahap awal produksi SAF. Pertamina pada 2025 melakukan penerbangan perdana menggunakan SAF berbahan minyak jelantah yang diproduksi di Kilang Cilacap.
Malapari dapat memperluas pilihan bahan baku agar industri tidak hanya bergantung pada minyak jelantah maupun minyak sawit.
Namun, diversifikasi baru bernilai apabila pasokannya dapat ditelusuri dan tidak menciptakan persoalan baru.
Lahan Kritis Bukan Lahan Kosong
Pengembangan Malapari juga membutuhkan kejelasan mengenai lokasi penanaman.
Istilah lahan kritis atau marginal kerap memberi kesan bahwa wilayah tersebut tidak memiliki fungsi. Padahal, suatu area dapat tetap digunakan masyarakat, memiliki tutupan vegetasi, menyimpan keanekaragaman hayati, atau menghadapi persoalan kepemilikan.
Karena itu, perluasan perkebunan tidak cukup hanya mengandalkan target hektare.
Pemerintah dan pelaku usaha perlu memastikan bahwa penanaman tidak mendorong pembukaan ekosistem alami, konflik agraria, maupun perkebunan monokultur yang justru melemahkan tujuan rehabilitasi.
Baca juga: SAF Indonesia: Produksi Dimulai, Pasar Belum Terbentuk
SAF sendiri tidak otomatis berkelanjutan hanya karena berasal dari tanaman. ICAO mendefinisikannya sebagai bahan bakar terbarukan atau berbasis limbah yang memenuhi kriteria keberlanjutan. Penilaiannya mencakup bahan baku, proses produksi, serta emisi sepanjang siklus hidup.
Inilah pekerjaan besar Malapari.
Indonesia telah memiliki tanaman, hasil riset, calon mitra industri, dan peluang pasar. Namun, tahap berikutnya harus membuktikan produktivitas, keekonomian, sertifikasi keberlanjutan, serta pembagian manfaat bagi masyarakat.
Malapari mungkin dapat menjadi bahan bakar pesawat.
Tetapi agar benar-benar lepas landas, Indonesia terlebih dahulu harus memastikan siapa yang menanam, dari lahan mana bahan bakunya berasal, siapa yang membeli, dan siapa yang memperoleh manfaat paling besar. ***
- Ilustrasi: AI/SustainReview.ID – Biji dan polong Malapari menjadi sumber minyak nabati yang berpotensi diolah menjadi biodiesel dan bahan bakar penerbangan berkelanjutan. Namun, pemanfaatannya dalam skala industri masih membutuhkan pasokan bahan baku yang stabil dan berkelanjutan.


