Pantura Terjepit dari Darat, Laut, dan Langit

Tanah terus turun, muka laut naik, dan hujan ekstrem dapat datang hanya dalam hitungan jam. Pantura membutuhkan lebih dari sekadar tanggul.

PANTAI Utara Jawa tidak hanya menghadapi ancaman yang bergerak perlahan.

Tanah turun sedikit demi sedikit. Muka laut terus naik. Namun, hujan ekstrem dapat datang dan melumpuhkan kawasan hanya dalam beberapa jam.

Tiga tekanan itu kini bertemu di wilayah yang menjadi rumah bagi jutaan penduduk, kawasan industri, pelabuhan, tambak, jalan nasional, dan simpul penting logistik Pulau Jawa.

Pemerintah menyebut penurunan muka tanah di Pantura berlangsung dengan laju sekitar 1 hingga 20 sentimeter per tahun.

Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono mengatakan kondisi terburuk antara lain terjadi di Jakarta dan Semarang.

Baca juga: Tanah Turun, Laut Naik: Pantura Jawa Butuh Kebijakan Pesisir Berbasis Data

Pada saat bersamaan, muka air laut disebut naik sekitar 0,8 hingga 1,2 sentimeter per tahun akibat pemanasan global.

AHY menyebut pertemuan dua fenomena tersebut sebagai twin pressure atau tekanan ganda.

Namun, riset terbaru Badan Riset dan Inovasi Nasional menunjukkan Pantura sesungguhnya menghadapi tekanan ketiga.

Tekanan itu datang dari langit.

Hujan Datang Lebih Cepat

Peneliti Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN, Sopia Lestari, mengingatkan bahwa ancaman paling nyata bagi Pantura adalah curah hujan ekstrem yang berlangsung dalam waktu sangat singkat.

Bukan dalam hitungan tahun atau bulan.

Hujan dapat berkembang dalam skala jam, lalu membebani sungai, saluran drainase, pompa, waduk retensi, dan kawasan permukiman secara bersamaan.

Posisi Pantura membuat wilayah ini dipengaruhi banyak sistem cuaca. Mulai dari monsun, Indian Ocean Dipole, El Niño–Southern Oscillation, Madden–Julian Oscillation, hingga berbagai pengaruh lokal.

Frekuensi hujan ekstrem dengan intensitas lebih dari 50 milimeter per hari juga disebut memperlihatkan tren meningkat.

Baca juga: Pantura Jawa Kehilangan Daya Dukung, Koridor Ekonomi Nasional di Ujung Risiko

Pengalaman Jakarta menunjukkan betapa besar dampaknya.

Pada 1 Januari 2020, curah hujan di Bandara Halim Perdanakusuma tercatat mencapai 337 milimeter per hari. Hujan tersebut menjadi salah satu pemicu banjir besar yang melumpuhkan Jakarta dan sekitarnya.

Peristiwa itu juga memperlihatkan bahwa banjir tidak selalu menunggu air laut naik atau tanah turun lebih jauh.

Dalam satu malam, hujan ekstrem dapat mengubah kerentanan yang telah menumpuk selama bertahun-tahun menjadi bencana.

Ketika Tiga Tekanan Bertemu

Penurunan muka tanah membuat permukiman, jalan, kawasan industri, dan infrastruktur Pantura semakin rendah dibandingkan muka laut.

Kenaikan muka laut memperbesar jangkauan dan frekuensi banjir rob.

Hujan ekstrem kemudian menambah volume air dari belakang garis pantai.

Situasinya menjadi lebih berbahaya ketika hujan lebat terjadi bersamaan dengan pasang tinggi. Air dari sungai dan drainase semakin sulit dibuang menuju laut.

Tanggul memang dapat menahan air dari arah laut. Namun, tanggul tidak otomatis menyelesaikan air yang jatuh dari langit.

Terlebih jika tanah di belakang tanggul terus turun.

Karena itu, ancaman Pantura tidak cukup dibaca sebagai persoalan garis pantai. Ini adalah persoalan menyeluruh yang melibatkan cuaca, air tanah, tata ruang, sungai, drainase, pesisir, dan sistem peringatan dini.

Bisa juga memakai versi lebih pendek:

Mengapa Pantura terus kehilangan ruang aman? Simak penjelasan lengkapnya dalam Sustain Bites berikut.

Data Ada, Sistem Belum Menyatu

Indonesia sebenarnya telah memiliki infrastruktur observasi cuaca yang cukup besar.

Menurut Sopia, tersedia sekitar 40 radar cuaca, selain jaringan penakar hujan dan pengamatan satelit.

Masalahnya bukan semata kekurangan data.

Informasi dari berbagai alat tersebut belum sepenuhnya disajikan dalam satu platform pemantauan yang interaktif, mudah digunakan, dan bergerak secara real-time dari jam ke jam.

Padahal, untuk kawasan seperti Pantura, kecepatan informasi sangat menentukan.

Baca juga: AI Mengubah Tata Kelola Abrasi dan Rob di Pantura

Peringatan “berpotensi hujan lebat” belum tentu cukup membantu pemerintah daerah dan masyarakat mengambil tindakan.

Informasi perlu diterjemahkan menjadi lebih operasional.

Wilayah mana yang akan terkena? Kapan hujan diperkirakan memuncak? Sungai mana yang berisiko meluap? Kapan pompa harus diaktifkan? Permukiman mana yang perlu bersiap?

Data cuaca baru bernilai bagi mitigasi ketika mampu menggerakkan keputusan sebelum air tiba.

Empat Pilar dari BRIN

BRIN merekomendasikan empat pilar untuk memperkuat mitigasi bencana hidrometeorologi Pantura.

Pertama, membuat peta historis periode ulang hujan ekstrem. Peta ini diperlukan untuk mengenali wilayah yang berulang kali mengalami hujan dengan intensitas tinggi.

Kedua, mengintegrasikan data dari berbagai platform. Radar cuaca, satelit, penakar hujan, kondisi sungai, pasang laut, dan penurunan tanah perlu dibaca dalam satu gambaran risiko.

Baca juga: Lima Teknologi untuk Lindungi Pantura, Cukupkah Menahan Krisis Pesisir?

Ketiga, memperkuat nowcasting. Sistem ini membantu memantau dan memperkirakan perkembangan cuaca dalam menit hingga beberapa jam ke depan.

Keempat, menggunakan model Prediksi Cuaca Berbasis Numerik atau Numerical Weather Prediction untuk memperkirakan arah, intensitas, dan perkembangan sistem cuaca.

Empat pilar tersebut seharusnya tidak berhenti sebagai instrumen penelitian.

Sistem itu perlu terhubung dengan pemerintah daerah, pengelola sungai, operator pompa, pengelola jalan dan pelabuhan, kawasan industri, serta masyarakat di wilayah rawan.

Grafis: Daffa Attarikh/ SustainReview

Tanggul Bukan Jawaban Tunggal

Pemerintah sedang menempatkan Giant Sea Wall sebagai salah satu intervensi untuk melindungi pesisir utara Jawa.

Proyek tersebut dapat menjadi bagian penting dari pertahanan Pantura. Terutama untuk menghadapi rob dan proyeksi penggenangan pesisir hingga 2050.

Namun, tanggul tidak dapat berdiri sebagai jawaban tunggal.

Baca juga: Pantura Perlu Tanggul, tapi Mangrove Tak Boleh Kalah

Perlindungan Pantura juga membutuhkan pengendalian ekstraksi air tanah, perluasan jaringan air perpipaan, pemulihan mangrove, perbaikan sungai dan drainase, pembangunan ruang retensi, serta sistem pompa yang andal.

Tata ruang juga harus berhenti menambah beban di kawasan yang telah diketahui terus turun.

Tanpa mengatasi penyebab penurunan tanah, pembangunan tanggul dapat berubah menjadi perlombaan yang tidak pernah selesai. Tanggul terus ditinggikan, sementara daratan di belakangnya terus merendah.

Bergerak Sebelum Air Datang

Pantura menghadapi ancaman dengan kecepatan berbeda.

Penurunan tanah berlangsung dari tahun ke tahun. Kenaikan muka laut bergerak dalam jangka panjang. Namun, hujan ekstrem dapat datang dalam hitungan jam.

Kebijakan perlindungan Pantura harus mampu bekerja dalam seluruh skala waktu tersebut.

Indonesia tidak hanya membutuhkan tembok yang lebih tinggi.

Pantura membutuhkan tanah yang berhenti turun, pesisir yang kembali memiliki pelindung alami, kota yang mampu menampung hujan, serta sistem peringatan yang dapat mengubah data menjadi tindakan.

Teknologi telah semakin mampu membaca pergerakan awan. Pertanyaannya, apakah tata kelola Pantura mampu bergerak sebelum air tiba?

  • Foto: Dok/ Ist – Bentang pesisir Pantura Jawa memperlihatkan jalan utama, permukiman, tambak, dan lahan produktif yang berada sangat dekat dengan laut. Kawasan ini menghadapi tekanan berlapis akibat penurunan muka tanah, kenaikan muka laut, dan hujan ekstrem.
Bagikan