BRIN mulai mengukur apakah aforestasi benar-benar memperbaiki fungsi hidrologis DAS Citarum. Pendekatan ini menggeser ukuran keberhasilan penghijauan dari jumlah pohon menuju manfaat air yang dapat dibuktikan.
MENANAM ribuan pohon relatif mudah dihitung. Mengetahui apakah pohon-pohon itu benar-benar membantu memulihkan sebuah daerah aliran sungai jauh lebih sulit.
Apakah limpasan berkurang? Apakah air lebih mampu meresap ke tanah? Bagaimana perubahan debitnya? Apakah kualitas air membaik? Dan pada akhirnya, berapa besar manfaat air yang benar-benar dihasilkan?
Pertanyaan itu kini sedang diuji di Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum.
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama Yayasan Bumi Hijau Lestari mengembangkan sistem monitoring DAS berbasis Internet of Things (IoT) dan menerapkan pendekatan Net Positive Water Impact (NPWI). Tujuannya bukan sekadar mengetahui berapa pohon yang ditanam, tetapi mengukur dampak aforestasi terhadap fungsi hidrologis DAS secara ilmiah.
Citarum menjadi tempat yang relevan untuk pengujian semacam itu.
Sungai ini membentang sekitar 297 kilometer dari kawasan Gunung Wayang hingga Muara Gembong dan melintasi 14 wilayah administratif. Airnya memasok kebutuhan penduduk Bandung, Karawang, Bekasi hingga Jakarta. Jaringan irigasinya mengairi sekitar 522.861 hektare sawah, sementara Waduk Saguling, Cirata, dan Jatiluhur memiliki total kapasitas pembangkit listrik sekitar 2.631 megawatt.
Dengan fungsi sebesar itu, memulihkan Citarum tidak cukup hanya terlihat hijau.
Pemulihannya harus bisa dibuktikan dari air.
Dari Menghitung Pohon ke Mengukur Air
Riset BRIN tersebut merupakan bagian dari program Trees4Trees yang berlangsung pada 2024–2027. Tahun ini, kegiatan difokuskan pada penguatan monitoring hidrologi serta penerapan NPWI untuk menilai manfaat hidrologis kegiatan aforestasi.
Di Purwakarta, tim menyusun neraca air sebagai baseline, menghitung konsumsi dan manfaat air, serta menentukan jenis dan pola tanam berdasarkan kondisi biofisik dan hidrologis.
Di Kabupaten Bandung, pendekatannya bergerak ke lapangan melalui jaringan sensor.
Instrumen WaterQ yang dikembangkan periset BRIN digunakan untuk memonitor tinggi muka air, kekeruhan, pH, dan oksigen terlarut. Data dikirim secara otomatis ke basis data sehingga perubahan kondisi air dapat diamati secara kontinu. Sistem itu dimaksudkan untuk membantu melihat apakah rehabilitasi lahan di kawasan hulu benar-benar menghasilkan perubahan pada kualitas, kuantitas, maupun dinamika air.
Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Ekologi BRIN Agung Budi Supangat menekankan bahwa aforestasi dalam kerangka NPWI tidak dapat hanya berorientasi pada kuantitas pohon.
“Implementasi NPWI melalui kegiatan aforestasi tidak bisa sekadar berorientasi pada kuantitas penanaman pohon, melainkan harus didasarkan pada perencanaan berbasis data hidrologis DAS yang presisi.”
Aforestasi, menurut dia, harus dirancang agar menghasilkan water benefit yang dapat diukur.
Perubahan cara pandang ini penting karena dalam banyak program rehabilitasi lingkungan, indikator yang paling mudah dikomunikasikan biasanya adalah input: jumlah bibit, jumlah pohon, atau luas lahan yang ditanami.
Padahal, angka-angka itu belum menjawab apakah fungsi ekologis yang hendak dipulihkan benar-benar kembali.
Seribu pohon yang ditanam adalah kegiatan. Perubahan fungsi hidrologis adalah dampak.
Dua hal itu tidak selalu identik.
Pohon Juga Memakai Air
Ada kompleksitas lain yang membuat pendekatan berbasis data menjadi penting.
Menanam pohon tidak otomatis berarti volume air di sebuah DAS akan bertambah.
Vegetasi membantu menahan tanah, mengurangi erosi dan limpasan permukaan, meningkatkan infiltrasi, serta dapat memperbaiki stabilitas ekosistem. Namun, pohon juga menggunakan air dan melepaskannya kembali ke atmosfer melalui evapotranspirasi.

Literatur hidrologi menunjukkan respons DAS terhadap aforestasi sangat bergantung pada iklim, jenis vegetasi, kondisi tanah, lokasi penanaman dan karakteristik DAS. Sejumlah studi menemukan peningkatan tutupan pohon dapat menurunkan aliran sungai pada kondisi tertentu karena meningkatnya evapotranspirasi. Penelitian lain menunjukkan penempatan aforestasi yang dirancang secara tepat dapat menekan debit puncak sekaligus mengurangi kehilangan air dibanding penanaman yang dilakukan tanpa optimasi lokasi.
Artinya, pertanyaannya bukan sekadar apakah sebuah wilayah perlu ditanami.
Pertanyaannya menjadi lebih presisi. Pohon apa, ditanam di mana, dengan pola seperti apa, dan manfaat hidrologis apa yang hendak dicapai?
Di titik inilah neraca air, sensor lapangan dan pemodelan hidrologi menjadi penting.
Koordinator riset BRIN Hunggul Yudono Setio Hadinugroho mengatakan integrasi teknologi monitoring dan pemodelan memungkinkan peneliti tidak hanya mengetahui jumlah pohon yang ditanam, tetapi juga mengukur bagaimana penanaman itu memengaruhi fungsi hidrologis DAS.
Untuk Citarum, kemampuan membedakan aktivitas dan dampak itu menjadi semakin penting.
Citarum Belum Selesai
Sejak Peraturan Presiden Nomor 15 Tahun 2018 diterbitkan, Citarum menjadi salah satu proyek pemulihan DAS terbesar di Indonesia. Program tersebut dibentuk setelah pencemaran dan kerusakan DAS dinilai menimbulkan kerugian terhadap kesehatan, ekonomi, sosial, ekosistem, dan sumber daya lingkungan.
Ada kemajuan.
Indeks Kualitas Air (IKA) Citarum yang pada 2018 berada di 33,43 poin dan masuk kategori cemar berat meningkat menjadi 51,05 poin pada 2024, atau kategori cemar ringan. Tetapi perjalanan pemulihan belum selesai. Pada 2026, Satgas Citarum Harum masih mengejar IKA 60 poin.
Tekanannya juga belum hilang.
Pada akhir Maret 2026, Satgas masih melakukan inspeksi ke pabrik di Majalaya dan Dayeuhkolot setelah muncul laporan limbah berwarna merah di Sungai Cirasea. Beberapa hari kemudian, Satgas menutup saluran pembuangan limbah sebuah pabrik di Majalaya setelah menemukan limbah cair tidak diolah terlebih dahulu melalui instalasi pengolahan air limbah.
Tekanan berbeda terlihat di Waduk Cirata.
Pada Juli 2026, Satgas menyebut jumlah keramba jaring apung di waduk itu telah mencapai sekitar 100.000 petak. Kapasitas idealnya disebut hanya 7.200 petak. Kelebihan beban tersebut dikaitkan dengan penurunan kualitas air, akumulasi sisa pakan dan limbah, pertumbuhan eceng gondok, hingga potensi gangguan terhadap operasional pembangkit listrik.
Di kawasan hulu, persoalannya kembali berbeda.
Baca juga: Citarum: Sungai Kotor yang Tak Kunjung Bersih, Apa Solusinya?
Pemerintah Jawa Barat menyoroti perubahan penggunaan lahan di kawasan Bandung Selatan yang meningkatkan limpasan dan sedimentasi. Penanganan banjir Bandung Raya pada 2026 bahkan diarahkan pada kombinasi normalisasi sungai, pengerukan sedimentasi, pembenahan tata ruang, pemulihan danau alami, serta penanaman kembali kawasan pegunungan.
Citarum dengan demikian tidak menghadapi satu masalah.
Citarum menghadapi rangkaian tekanan yang saling terhubung dari hulu hingga hilir.
Lahan berubah di hulu. Limbah masuk ke aliran sungai. Aktivitas ekonomi membebani waduk. Pada saat bersamaan, air yang sama harus memasok sawah, kota dan pembangkit listrik.
Sensor Tidak Menyelesaikan Konflik
Di tengah kompleksitas itu, teknologi IoT tentu bukan obat untuk seluruh masalah Citarum.
Sensor tidak bisa menghentikan pabrik membuang limbah. Data tidak otomatis menyelesaikan konflik tata ruang. Pemodelan hidrologi juga tidak akan sendirinya mengurangi keramba yang melampaui daya dukung waduk.
Namun, teknologi dapat melakukan sesuatu yang sangat penting, mempersempit ruang bagi klaim yang tidak dapat dibuktikan.
Jika suatu kawasan direhabilitasi, perubahan tinggi muka air bisa dipantau.
Jika tutupan vegetasi bertambah, pengaruhnya terhadap limpasan dan neraca air dapat dianalisis.
Jika kualitas air berubah, kekeruhan, pH dan oksigen terlarut dapat memberi sinyal yang bisa dibandingkan antarwaktu.
Periset BRIN Ogi Setiawan menyebut monitoring berbasis IoT memungkinkan dinamika air diamati secara empiris dari sisi kualitas, kuantitas serta distribusi spasial dan temporal. Data tersebut kemudian dapat digunakan untuk menilai secara objektif kontribusi rehabilitasi lahan terhadap pemulihan fungsi DAS.
Di situlah nilai strategis eksperimen Citarum berada.
Bukan pada kecanggihan sensornya semata, melainkan pada kemungkinan mengubah cara keberhasilan rehabilitasi lingkungan dinilai.

Dari Target Kegiatan ke Target Dampak
Indonesia memiliki banyak program penghijauan, rehabilitasi lahan dan pemulihan DAS. Angkanya sering disampaikan melalui hektare dan jumlah pohon.
Tetapi fungsi sebuah DAS tidak dihitung dengan pohon.
Fungsi itu terlihat dari bagaimana sebuah bentang alam menerima hujan, menyimpan air, mengurangi erosi, menjaga aliran, menopang kualitas air, dan mempertahankan fungsi ekologisnya ketika menghadapi tekanan manusia dan perubahan iklim.
Karena itu, pendekatan yang sedang diuji BRIN di Citarum membawa pertanyaan yang lebih sulit sekaligus lebih relevan,
Setelah seluruh intervensi dilakukan, apa yang sebenarnya berubah pada air?
Bila jaringan sensor, NPWI dan pemodelan hidrologi mampu menjawab pertanyaan itu secara konsisten, implikasinya dapat melampaui Citarum.
Baca juga: Pemulihan Sungai Indonesia Tersumbat di Meja Regulasi
Lokasi rehabilitasi dapat dipilih berdasarkan dampak yang diharapkan. Jenis vegetasi dapat disesuaikan dengan karakter hidrologis. Program dapat dibandingkan berdasarkan hasil, bukan hanya realisasi kegiatan.
Dan pembiayaan pemulihan lingkungan pada akhirnya memiliki ukuran yang lebih kuat untuk menjawab satu pertanyaan sederhana.
apa yang dibeli masyarakat dari setiap pohon yang ditanam dan setiap hektare lahan yang direhabilitasi?
Citarum sudah menunjukkan bahwa sebuah DAS dapat dibersihkan, ditanami, ditata, diawasi dan direstorasi selama bertahun-tahun.
Tantangan berikutnya lebih tinggi.
Membuktikan bahwa fungsi airnya benar-benar kembali. ***
- Foto: Dok/ BBWS Citarum – DAS Citarum menopang fungsi ekologis sekaligus kebutuhan pertanian, energi, dan air bagi jutaan penduduk. Pendekatan baru BRIN mencoba mengukur apakah rehabilitasi vegetasi benar-benar memperbaiki fungsi hidrologisnya.


