Indonesia Punya 2.564 Calon Pangan, Mengapa Pilihan Kita Sempit?

Indonesia memiliki ribuan tumbuhan yang berpotensi menjadi pangan. Di tengah perubahan iklim dan tekanan terhadap tanah, air, serta biodiversitas, keragaman itu seharusnya menjadi sistem cadangan ketahanan pangan, bukan sekadar kekayaan yang tersimpan dalam daftar spesies.

INDONESIA tidak kekurangan pilihan untuk makan. Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Ekologi BRIN, Prof. Wawan Sujarwo, mencatat sedikitnya 2.564 spesies tumbuhan bermanfaat berpotensi dikembangkan sebagai sumber pangan. Lebih dari 77 spesies di antaranya merupakan sumber karbohidrat lokal.

Angkanya besar. Masalahnya, kekayaan biologis tidak otomatis membuat sistem pangan menjadi beragam.

Data Badan Pangan Nasional memperlihatkan kontras itu. Berdasarkan Direktori Konsumsi Pangan Nasional 2024, konsumsi beras mencapai sekitar 92 kilogram per kapita per tahun. Jaraknya jauh dibanding singkong 8,5 kilogram, ubi jalar 3,1 kilogram, kentang 2,5 kilogram, dan sagu hanya 0,6 kilogram per kapita per tahun.

Artinya, Indonesia memiliki banyak pilihan secara ekologis, tetapi sebagian kecil yang benar-benar mendapatkan ruang besar dalam pola konsumsi.

Di tengah perubahan iklim, ini bukan hanya urusan selera makan. Diversifikasi adalah strategi membagi risiko.

Ketika Banyak Pilihan Menjadi Asuransi

Sistem pangan yang bertumpu terlalu kuat pada sedikit komoditas membuat gangguan pada satu bagian sistem lebih mudah menjalar ke bagian lain.

Cuaca ekstrem dapat mengganggu panen. Kekeringan menekan air. Degradasi lahan menurunkan produktivitas. Gangguan distribusi dapat menaikkan harga. Dalam sistem yang lebih beragam, tekanan itu tidak seluruhnya harus ditanggung oleh satu sumber pangan.

Dunia menghadapi persoalan serupa. FAO mencatat sekitar 30 tanaman menyediakan 95 persen kebutuhan energi pangan manusia, sementara lima tanaman (beras, gandum, jagung, millet, dan sorgum) menyediakan sekitar 60 persen. Padahal, ribuan spesies tumbuhan pernah dikumpulkan atau dibudidayakan manusia sebagai pangan.

Itulah yang membuat 2.564 spesies Indonesia penting dibaca bukan sebagai angka biodiversitas semata.

Baca juga: Anggaran Pangan Besar, Sudahkah Irigasi Tahan Iklim?

Umbi, kacang-kacangan, buah, sayuran, rempah, serta tanaman pangan tradisional yang telah beradaptasi dengan lingkungan lokal menyimpan pilihan genetik dan ekologis. Sebagian berpotensi dikembangkan sesuai karakter tanah, curah hujan, budaya konsumsi, dan kondisi masing-masing daerah.

Keragaman tersebut dapat menjadi semacam portofolio risiko pangan. Semakin banyak pilihan yang benar-benar dapat diproduksi dan dikonsumsi, semakin banyak pula alternatif ketika satu komoditas menghadapi tekanan.

Namun potensi baru berarti jika tanaman itu tidak berhenti sebagai koleksi plasma nutfah atau pengetahuan lokal.

Sebaliknya harus bisa ditanam, dipanen, diolah, memiliki nilai ekonomi, diterima konsumen, dan memperoleh pasar.

Pangan Dimulai dari Tanah, Bukan Rak Supermarket

Ada persoalan lain yang lebih mendasar.

Ketahanan pangan sering diterjemahkan sebagai pertanyaan: berapa banyak yang dapat diproduksi?

Padahal produksi memiliki fondasi ekologis.

FAO menyebut 95 persen pangan dunia diproduksi di daratan. Pada saat bersamaan, lembaga itu memperkirakan degradasi akibat aktivitas manusia telah memengaruhi sekitar 34 persen lahan pertanian dunia.

Tanah bukan satu-satunya sistem pendukung.

Grafis: Daffa Attarikh/ SustainReview

Sekitar 75 persen jenis tanaman pangan dunia bergantung setidaknya sebagian pada penyerbuk. Jasa penyerbukan berkontribusi terhadap sekitar 35 persen produksi tanaman global berdasarkan volume dan membantu hasil 87 dari 115 tanaman pangan utama dunia.

Hubungannya menjadi jelas. Pangan membutuhkan tanah, air, iklim, mikroorganisme, penyerbuk, hingga keanekaragaman genetik.

Baca juga: Panas Ekstrem Dorong Sistem Pangan ke Titik Kritis, Risiko Sistemik Kian Nyata

Karena itu, konservasi dan produksi pangan tidak semestinya selalu ditempatkan pada dua sisi berlawanan.

Tanah yang sehat mampu menyimpan air dan unsur hara. Keanekaragaman hayati membantu menyediakan penyerbuk dan musuh alami hama. Lanskap yang terjaga membantu mempertahankan fungsi hidrologi.

Ketahanan pangan pada akhirnya juga merupakan ketahanan ekologi.

Diversifikasi Sudah Bergerak, tetapi Belum Selesai

Ada perkembangan yang tidak boleh diabaikan.

Skor Pola Pangan Harapan (PPH) nasional 2025 mencapai 95,1, meningkat dari 93,5 pada 2024 dan melampaui target pemerintah sebesar 94. Angka ini menunjukkan kualitas dan keragaman konsumsi pangan masyarakat bergerak ke arah yang lebih baik.

Konsumsi sayur dan buah tercatat 251,34 gram per kapita per hari, melewati target. Konsumsi pangan hewani juga melampaui target. Tetapi konsumsi umbi-umbian baru 50,22 gram per kapita per hari, masih di bawah target 53,40 gram.

Jadi ceritanya bukan bahwa Indonesia tidak mengalami diversifikasi.

Ceritanya adalah bahwa ruang diversifikasi masih jauh lebih besar daripada yang sekarang kita gunakan.

Pemerintah sebenarnya telah memiliki Peraturan Presiden Nomor 81 Tahun 2024 tentang percepatan penganekaragaman pangan berbasis potensi sumber daya lokal. Badan Pangan Nasional juga mendorong pemanfaatan singkong, ubi, sagu, dan berbagai pangan daerah sebagai bagian dari penguatan ketahanan pangan.

Tantangan berikutnya lebih rumit daripada sekadar mengajak masyarakat mengganti nasi.

Baca juga: Lahan Rob Bisa Jadi Sumber Pangan Baru

Pangan lokal membutuhkan riset budidaya, benih dan bibit, pengolahan pascapanen, standar keamanan, pembiayaan, industri pengolahan, distribusi, harga yang kompetitif, hingga pasar yang membuat petani punya alasan ekonomi untuk menanamnya.

Di sinilah angka 2.564 harus diuji.

Bukan dengan pertanyaan berapa banyak spesies yang Indonesia punya, melainkan berapa banyak yang mampu kita ubah menjadi pilihan pangan nyata tanpa merusak ekosistem yang membuatnya bisa tumbuh.

Sebab kekayaan pangan yang hanya tercatat dalam penelitian adalah potensi.

Kekayaan yang hidup di lahan, menghasilkan pendapatan bagi masyarakat, tersedia di pasar, dan dikonsumsi lintas generasi. Itulah yang mulai berubah menjadi ketahanan. ***

  • Foto:  Hera Hendrayana/ Pexels Keragaman pangan lokal menjadi salah satu modal Indonesia untuk membangun sistem pangan yang lebih adaptif dan berkelanjutan.
Bagikan