Api Tak Terlihat, Gambut Kalimantan Masih Berasap

BMKG mendeteksi 383 titik panas di seluruh Kalimantan yang berpeluang kuat mengindikasikan kebakaran. Di Kalimantan Selatan, SIPONGI mencatat 44 hotspot pada Minggu pagi. Perbedaan cakupan dan waktu pemantauan itu menunjukkan bahwa hilangnya kobaran belum berarti ancaman karhutla berakhir.

API tidak lagi terlihat di permukaan lahan Penggalaman, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan. Namun, asap masih keluar dari tanah gambut.

Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni menyaksikan kondisi tersebut ketika meninjau penanganan kebakaran hutan dan lahan pada Minggu, 23 Agustus 2026. Lokasi yang ditinjau merupakan area non-kawasan hutan yang berbatasan dengan hutan lindung. Luas area terbakar diperkirakan sekitar 36 hektare.

“Karena ini daerah gambut, memang tidak ada api di atas, tapi dari bawah masih ada asap. Oleh karena itu, pekerjaan ini harus dilakukan secara detail agar tidak ada muncul api lagi,” kata Raja Antoni dalam siaran pers Kementerian Kehutanan.

Kondisi itu menunjukkan mengapa kebakaran gambut tidak dapat dinilai hanya dari kobaran yang terlihat. Api dapat merambat melalui lapisan bahan organik di bawah permukaan. Bara yang tertinggal berpotensi bertahan dan kembali memunculkan api apabila tanah tetap kering.

Karena itu, tidak terlihatnya api belum tentu berarti kebakaran telah benar-benar padam.

Ratusan Titik Panas di Kalimantan

Dokumen Monitoring dan Potensi Kebakaran Hutan dan Lahan BMKG yang dirilis Minggu, 23 Agustus, mencatat 383 titik panas di seluruh Kalimantan dengan tingkat kepercayaan tinggi. Sebanyak 281 titik berada di Kalimantan Barat, jumlah terbanyak di antara provinsi-provinsi di pulau tersebut.

Kategori tingkat kepercayaan tinggi berarti titik panas itu memiliki probabilitas 80–100 persen mengindikasikan kebakaran di lapangan. Namun, hotspot tidak sama dengan jumlah kejadian kebakaran.

Satu kebakaran dapat terdeteksi sebagai beberapa hotspot. Sebaliknya, setiap anomali panas tetap perlu diperiksa di lapangan untuk memastikan keberadaan api, luas area terdampak, dan penyebab kebakaran.

Pada pemantauan yang lebih spesifik di Kalimantan Selatan, Sistem Pemantauan Karhutla atau SIPONGI Kementerian Kehutanan mencatat 44 hotspot pada 23 Agustus pukul 06.00 WIB. Titik-titik tersebut tersebar di Kabupaten Banjar, Kota Banjarbaru, Hulu Sungai Selatan, dan Tapin.

Baca juga: Karhutla Bukan Bencana Alam, tapi Ulah Manusia

Angka 383 yang dirilis BMKG dan 44 yang disampaikan Kementerian Kehutanan tidak dapat dibandingkan secara langsung. Angka pertama mencakup seluruh Kalimantan, sedangkan angka kedua hanya menggambarkan Kalimantan Selatan pada waktu pemantauan tertentu.

Waktu pemutakhiran, cakupan wilayah, sumber pengamatan, dan metode pengolahan data juga dapat menghasilkan angka berbeda. Karena itu, setiap angka hotspot perlu disertai informasi mengenai wilayah, waktu pemantauan, kategori tingkat kepercayaan, dan lembaga yang menerbitkannya.

Tanpa penjelasan tersebut, data yang sebenarnya berbeda cakupan dapat terlihat saling bertentangan atau menimbulkan gambaran keliru mengenai skala kebakaran.

Turun, Lalu Naik Kembali

Data SIPONGI menunjukkan pergerakan jumlah hotspot yang cepat di Kalimantan Selatan.

Pada 21 Agustus, provinsi tersebut mencatat 157 hotspot. Jumlahnya turun menjadi 11 titik pada 22 Agustus pukul 21.00 WIB. Namun, sembilan jam kemudian, pada 23 Agustus pukul 06.00 WIB, jumlahnya kembali meningkat menjadi 44 titik.

Penurunan jumlah hotspot dalam satu kali pemantauan tidak dapat langsung diartikan sebagai berakhirnya kebakaran. Hasil deteksi dapat berubah mengikuti waktu pengamatan, kondisi cuaca, serta muncul atau hilangnya anomali panas yang tertangkap satelit.

Di lahan gambut, perubahan tersebut juga perlu disandingkan dengan hasil pemeriksaan petugas. Di lokasi yang ditinjau Raja Antoni, misalnya, api di permukaan sudah tidak terlihat, tetapi asap masih keluar dari gambut. Petugas tetap harus melakukan pembasahan dan pendinginan untuk mencegah munculnya api kembali.

Kementerian Kehutanan melaporkan sebanyak 176 kali pengeboman air dilakukan dalam satu hari di Kalimantan Selatan. Pemerintah juga menambah satu helikopter dari Riau untuk memperkuat operasi di wilayah tersebut.

Penanganan melibatkan Manggala Agni, TNI, Polri, BPBD, BNPB, serta unsur lain di lapangan.

Kemarau Memperbesar Risiko

Deputi Bidang Klimatologi BMKG Ardhasena Sopaheluwakan menjelaskan bahwa kondisi iklim kering akibat El Niño membuat lahan semakin mudah terbakar dan menghasilkan banyak asap.

“Kondisi iklim kering menjadi kondisi, membuat lahan dibakar dan banyak asap,” kata Ardhasena, Jumat, 21 Agustus.

Analisis BMKG pada dasarian pertama Agustus menunjukkan 535 Zona Musim atau 76,5 persen wilayah Indonesia telah memasuki musim kemarau. Curah hujan kategori rendah mendominasi 90,79 persen wilayah, sedangkan 87,28 persen wilayah mengalami sifat hujan bawah normal.

BMKG meminta perhatian khusus diberikan kepada sejumlah wilayah rawan, termasuk seluruh provinsi di Kalimantan. Operasi modifikasi cuaca juga direncanakan di Ibu Kota Nusantara, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Timur hingga akhir Agustus.

Namun, operasi modifikasi cuaca bergantung pada ketersediaan awan yang memenuhi persyaratan teknis. Instrumen tersebut tidak dapat dijalankan setiap saat dan tidak menggantikan kebutuhan pemadaman darat, pembasahan, pendinginan, serta patroli.

Kementerian Kehutanan menyatakan kondisi di Kalimantan Tengah hingga akhir Agustus diperkirakan masih didominasi cuaca kering dengan pertumbuhan awan hujan terbatas. Situasi tersebut membuat peluang pelaksanaan operasi modifikasi cuaca menjadi lebih kecil.

Api Permukaan Bukan Satu-satunya Ukuran

Penanganan karhutla di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan melibatkan sedikitnya 12.880 personel gabungan. Sebanyak 1.410 personel bertugas di Kalimantan Barat, 10.700 di Kalimantan Tengah, dan 770 di Kalimantan Selatan.

Operasi tersebut didukung pompa, sumur bor, helikopter patroli, pesawat pemantau, dan helikopter water bombing. Sumur bor diperlukan karena sumber air permukaan semakin terbatas selama kondisi kering berlangsung.

Kepala BNPB Suharyanto mengatakan pemerintah terus memperkuat armada darat, menambah helikopter, dan kembali menjalankan operasi modifikasi cuaca di Kalimantan.

“Dengan seluruh upaya tersebut, kami optimistis karhutla di Kalimantan dapat segera kita kendalikan bersama,” kata Suharyanto, Minggu.

Baca juga: OMC Rutin Digelar, Solusi Karhutla atau Tanda Ketergantungan?

Optimisme itu perlu disertai kehati-hatian dalam membaca kondisi lapangan. Turunnya jumlah hotspot, membaiknya jarak pandang, atau hilangnya kobaran merupakan perkembangan positif. Namun, ketiganya belum cukup untuk menyatakan seluruh ancaman berakhir.

Di lahan gambut, pemadaman baru efektif apabila air mencapai lapisan yang masih menyimpan panas. Lokasi terdampak juga harus terus dipantau setelah api permukaan menghilang.

Dalam jangka lebih panjang, penanganan karhutla tidak dapat hanya mengandalkan helikopter, pasukan pemadam, dan modifikasi cuaca ketika asap sudah muncul. Kondisi hidrologi gambut perlu dijaga, sumber air dipertahankan, dan aktivitas yang dapat memicu kebakaran dicegah serta diawasi.

Catatan BMKG mengenai 383 titik panas menunjukkan luasnya ancaman di Kalimantan. Sementara itu, perubahan dari 157 menjadi 11, kemudian kembali menjadi 44 hotspot di Kalimantan Selatan memperlihatkan betapa cepat situasi dapat berubah.

Di atas permukaan, api mungkin tidak lagi terlihat. Di bawahnya, gambut masih dapat menyimpan panas dan ancaman berikutnya. ***

  • Foto: sekretariat.kabinet Presiden Prabowo Subianto menyusuri lokasi terdampak kebakaran hutan dan lahan di Desa Limbung, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat, Sabtu (22/8/2026). BMKG mencatat 281 dari 383 titik panas yang terdeteksi di Kalimantan berada di Kalimantan Barat.
Bagikan