SAF Mulai Diproduksi Massal, Indonesia Siap Jadi Produsen atau Tetap Pasar?

JAWABAN langsung: Sustainable Aviation Fuel (SAF) mulai masuk fase produksi massal secara global, namun Indonesia masih berada pada tahap potensi, belum pada skala industri seperti yang kini dibangun di Uzbekistan.

Dorongan dekarbonisasi sektor penerbangan kini memasuki fase baru. Bukan lagi sekadar uji coba atau proyek percontohan, melainkan investasi industri skala besar. Uzbekistan menjadi salah satu penanda perubahan itu, dengan kesepakatan senilai US$6,08 miliar untuk membangun kompleks biofuel terintegrasi di Khorezm.

Proyek ini dirancang memproduksi lebih dari 160.000 ton SAF per tahun, sekaligus menghasilkan bahan bakar sintetis dan green diesel. Skala ini menempatkan Uzbekistan dalam kelompok kecil negara yang mulai membangun kapasitas produksi SAF secara langsung, bukan sekadar mengandalkan impor atau skema offset karbon.

Dari Pilot ke Industri

SAF adalah bahan bakar alternatif untuk penerbangan yang diproduksi dari sumber non-fosil, seperti biomassa atau karbon yang ditangkap. Perannya krusial karena sektor aviasi termasuk yang paling sulit didekarbonisasi.

Menurut International Air Transport Association (IATA), SAF dapat mengurangi emisi hingga 65–80 persen sepanjang siklus hidupnya dibandingkan bahan bakar jet konvensional. Namun, hingga kini, pasokannya masih sangat terbatas.

Baca juga: Paul Charles: Industri Perjalanan Harus Berevolusi Menuju Langit yang Lebih Hijau

Masuknya proyek-proyek skala besar seperti di Uzbekistan menunjukkan bahwa SAF mulai bergerak dari fase eksperimental menuju industrialisasi. Artinya, tantangan ke depan bukan lagi soal teknologi semata, tetapi juga kapasitas produksi, efisiensi biaya, dan stabilitas rantai pasok.

Model Produksi Terintegrasi

Kompleks Khorezm dirancang sebagai sistem tertutup. Produksi SAF tidak hanya bergantung pada bahan baku pertanian, tetapi juga mengintegrasikan penangkapan karbon dan energi terbarukan.

Pendekatan ini menjadi standar baru dalam industri SAF. Fokusnya bukan hanya mengganti bahan bakar fosil, tetapi menurunkan emisi secara menyeluruh sepanjang proses produksi.

Baca juga: Limbah Sawit Jadi SAF, Tata Kelola Menentukan Arah Indonesia

International Energy Agency (IEA) menilai bahwa masa depan bahan bakar rendah karbon akan ditentukan oleh kemampuan menggabungkan tiga elemen, yakni feedstock berkelanjutan, energi bersih, dan teknologi carbon capture.

Grafis: Daffa Attarikh/ SustainReview.

Geopolitik Energi Baru

Proyek Uzbekistan juga mencerminkan pergeseran geopolitik energi. Negara berkembang kini tidak lagi hanya menjadi pasar energi, tetapi mulai membangun posisi sebagai produsen dalam ekonomi bahan bakar rendah karbon.

Kesepakatan lintas negara, yang melibatkan investor internasional dan ditandatangani di Perth, menunjukkan bahwa rantai pasok SAF bersifat global. Produksi, teknologi, pembiayaan, dan konsumsi tersebar di berbagai wilayah.

Baca juga: Maskapai Dunia Patungan 150 Juta Dolar untuk Bahan Bakar Penerbangan Hijau

Dalam konteks ini, SAF bukan sekadar isu lingkungan. Tapi, menjadi bagian dari kompetisi ekonomi baru.

Risiko dan Realitas Investasi

Di balik potensinya, SAF tetap merupakan industri dengan risiko tinggi. Investasi besar seperti proyek Uzbekistan menunjukkan tingginya kebutuhan modal di sektor ini.

Tantangan utama mencakup ketersediaan bahan baku, integrasi teknologi, serta kepastian kebijakan. Tanpa dukungan regulasi yang jelas, termasuk insentif dan mandat penggunaan, proyek SAF berisiko tidak mencapai skala ekonomi.

Baca juga: Aviasi di Titik Balik, Taruhan Besar Menuju Penerbangan Rendah Karbon

Namun, bagi investor dan industri penerbangan, peluangnya juga besar. Permintaan SAF diperkirakan akan meningkat seiring tekanan global untuk menurunkan emisi aviasi.

Indonesia, Potensi atau Tertinggal?

Indonesia memiliki salah satu keunggulan terbesar dalam rantai nilai SAF, yaitu ketersediaan bahan baku berbasis biomassa, terutama dari sektor kelapa sawit dan limbah pertanian.

Namun hingga kini, pengembangan SAF di Indonesia masih berada pada tahap awal. Produksi masih terbatas pada uji coba dan belum mencapai skala industri.

Baca juga: Minyak Jelantah Jadi Bahan Bakar Pesawat, Pertamina Luncurkan Program UCollect

Artinya, posisi Indonesia masih berada di persimpangan. Menjadi produsen membutuhkan investasi besar, kepastian kebijakan, serta integrasi antara sektor energi, industri, dan transportasi.

Jika tidak, Indonesia berpotensi hanya menjadi pasar bagi SAF impor ketika permintaan domestik meningkat. ***

  • Foto: Ilustrasi/ Martijn Stoof/ Pexels – Pengisian bahan bakar pesawat menjadi titik krusial dalam transisi energi aviasi. SAF mulai masuk ke operasi nyata, namun pasokannya masih terbatas secara global.
Bagikan