Nyamplung Menunggu Skala Biofuel

INDONESIA sedang mencari bahan bakar rendah emisi yang tidak menambah beban baru bagi pangan dan lahan produktif. Di tengah pencarian itu, nyamplung kembali muncul sebagai salah satu kandidat penting.

Tanaman bernama ilmiah Calophyllum inophyllum ini bukan komoditas baru. Nyamplung tumbuh di banyak wilayah pesisir Indonesia. Sebagian berada di lahan marginal, kawasan terdegradasi, atau area yang kurang cocok untuk tanaman pangan.

Namun, nilainya kini berubah. Di tengah dorongan energi terbarukan, nyamplung tidak lagi hanya dilihat sebagai tanaman pesisir. Nyamplung mulai dibaca sebagai sumber bahan baku biofuel, terutama karena bijinya mengandung minyak cukup tinggi.

Peneliti Pusat Riset Botani Terapan BRIN, Budi Leksono, menyebut minyak nyamplung berpotensi diolah menjadi biokerosin, biodiesel, hingga bioavtur atau Sustainable Aviation Fuel. Biji nyamplung, menurutnya, dapat mengandung minyak hingga 60–70 persen.

Angka itu menjadikan nyamplung menarik dalam percakapan energi bersih. Apalagi, sektor penerbangan kini mulai menghadapi tekanan untuk menurunkan emisi. SAF menjadi salah satu jalur yang banyak dibicarakan, meski pasokan, harga, dan standar keberlanjutannya masih menjadi tantangan global.

Biofuel Non-Pangan

Daya tarik utama nyamplung terletak pada posisinya sebagai bahan baku non-pangan. Ini penting karena banyak skema bioenergi kerap menghadapi kritik ketika bersaing dengan tanaman pangan atau mendorong perubahan penggunaan lahan.

Nyamplung menawarkan narasi berbeda. Tanaman ini dapat tumbuh di lahan marginal dan kawasan pesisir. Dengan pendekatan yang tepat, pengembangannya bisa dikaitkan dengan rehabilitasi lahan kritis, pemulihan ekosistem, dan peluang ekonomi lokal.

Baca juga: Biofuel Brasil Tunjukkan Jalan, Truk Euro 6 Tempuh 4.000 Km Tanpa Solar Fosil

Di sinilah nilai strategisnya muncul. Biofuel tidak cukup hanya dinilai dari kemampuan menggantikan bahan bakar fosil. Ia juga harus dilihat dari jejak lahannya, rantai pasoknya, manfaat sosialnya, dan risiko ekologis yang mungkin muncul.

BRIN sebelumnya menyebut nyamplung sebagai spesies asli Indonesia yang potensial dikembangkan sebagai sumber bioenergi berbasis tanaman hutan. Riset terkait nyamplung juga menyoroti pentingnya sumber bahan baku biofuel non-pangan yang tidak memberi tekanan besar pada lahan pertanian.

Nilai dari Limbah

Potensi nyamplung tidak berhenti pada minyak bijinya. Pendekatan yang sedang dikembangkan mengarah pada pemanfaatan terpadu.

Tempurung dan ampas biji dapat diolah menjadi pellet, biochar, arang aktif, hingga pakan ternak berprotein. Residu cair dari proses biodiesel, seperti resin dan gliserol, juga dapat dikembangkan menjadi produk turunan, antara lain bahan biofarmaka dan sabun.

Grafis: Daffa Attarikh/ SustainReview.

Model seperti ini penting karena masa depan bioenergi tidak hanya ditentukan oleh produk utama. Efisiensi akan sangat bergantung pada kemampuan memanfaatkan residu, menekan limbah, dan menciptakan nilai tambah di sepanjang rantai produksi.

Dengan kata lain, nyamplung lebih menarik bila dibaca sebagai ekosistem biomassa. Bukan sekadar minyak yang diperas dari biji.

Tantangan Skala

Meski potensinya besar, nyamplung belum otomatis menjadi jawaban cepat bagi kebutuhan biofuel Indonesia. Tantangan terbesarnya ada pada skala.

Indonesia perlu menjawab beberapa hal mendasar. Berapa luas lahan yang realistis dikembangkan tanpa mengganggu ekosistem pesisir? Bagaimana memastikan pasokan biji stabil sepanjang tahun? Siapa yang akan mengolahnya? Bagaimana standar kualitas bahan bakarnya? Dan apakah biaya produksinya mampu bersaing dengan bahan bakar nabati lain?

Baca juga: Pasar SAF Tak Lagi Ditentukan Target Emisi, tetapi Jaminan Negara

Pertanyaan lain tidak kalah penting. Jika nyamplung masuk ke rantai pasok SAF, standar keberlanjutan harus kuat sejak awal. Bahan bakar rendah emisi tidak boleh hanya rendah karbon di atas kertas, tetapi juga harus dapat ditelusuri dari lahan, produksi, pengolahan, hingga distribusi.

Di titik ini, riset perlu bertemu kebijakan industri. Indonesia tidak cukup hanya memiliki tanaman potensial. Negara juga perlu membangun peta jalan, standar, insentif, kelembagaan, dan model bisnis yang melibatkan masyarakat secara adil.

Peluang Pesisir

Bagi wilayah pesisir dan kawasan lahan kritis, nyamplung dapat membuka ruang ekonomi baru. Masyarakat dapat terlibat dalam budidaya, pengumpulan buah, pengolahan awal, hingga pengembangan produk turunan.

Namun, keterlibatan itu harus dirancang sejak awal. Tanpa tata kelola yang baik, komoditas energi baru berisiko hanya menciptakan rantai pasok panjang yang nilai tambahnya tidak tinggal di daerah.

Baca juga: Limbah Sawit Jadi SAF, Tata Kelola Menentukan Arah Indonesia

Karena itu, nyamplung sebaiknya tidak diposisikan sebagai “tanaman ajaib”. Ia lebih tepat dilihat sebagai peluang bioekonomi yang perlu diuji secara serius.

Potensinya ada. Basis risetnya mulai terbentuk. Kebutuhan energi rendah emisi juga semakin kuat.

Yang kini menentukan adalah kemampuan Indonesia membawa nyamplung keluar dari ruang riset menuju rantai pasok yang terukur, berkelanjutan, dan memberi manfaat nyata bagi wilayah pesisir. ***

  • Foto: Ist – Tanaman nyamplung berpotensi menjadi bahan baku biofuel non-pangan karena dapat tumbuh di lahan marginal dan kawasan pesisir.
Bagikan