Pemadaman bergilir di Jawa menunjukkan ketahanan listrik tidak cukup dibaca dari jumlah pembangkit, tetapi dari kekuatan jaringan, cadangan, dan kesiapan sistem.
PEMADAMAN listrik bergilir di Pulau Jawa bukan hanya cerita tentang lampu yang mati. Di balik gangguan itu, ada pertanyaan yang lebih besar. Seberapa tangguh sistem kelistrikan Indonesia menghadapi tekanan baru?
Pertanyaan ini menguat setelah Direktur Utama PT PLN Darmawan Prasodjo menyampaikan bahwa kondisi sistem kelistrikan Jawa mulai membaik setelah pemadaman bergilir pada pekan sebelumnya. Pernyataan itu disampaikan Darmawan di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Senin, 22 Juni 2026. Ia menyebut pemadaman bergilir mulai dapat diminimalisasi sejak Minggu, 21 Juni 2026.
Darmawan juga meminta maaf kepada masyarakat atas ketidaknyamanan yang terjadi. Menurut PLN, pemulihan didukung oleh mulai mengalirnya pasokan energi primer yang sesuai dengan kebutuhan pembangkit, baik milik PLN maupun Independent Power Producer. Satu pembangkit besar yang sebelumnya keluar dari sistem juga disebut telah pulih dan kembali sinkron dengan sistem kelistrikan Jawa.
Bukan Sekadar Gangguan
Keterangan PLN memberi gambaran bahwa pemadaman bukan hanya soal satu faktor. Ada pasokan energi primer. Ada keandalan pembangkit. Ada jaringan. Ada cadangan daya. Ada pula koordinasi dengan mitra pembangkit.
Di titik ini, listrik perlu dibaca sebagai sistem. Bukan sekadar jumlah pembangkit.
Baca juga: Data Center Makin Haus Listrik, Emisi Big Tech Makin Hijau di Atas Kertas
Sistem listrik harus seimbang setiap saat. Produksi harus cukup. Transmisi harus mampu mengalirkan daya. Distribusi harus stabil. Permintaan harus diprediksi. Gangguan teknis dan cuaca harus diantisipasi.
Ketika satu bagian terganggu, bagian lain ikut tertekan.
Ekspansi Besar
Indonesia sedang masuk fase ekspansi listrik besar. Dalam RUPTL PLN 2025–2034, rencana penambahan kapasitas pembangkit mencapai sekitar 69,5 gigawatt. Dari total itu, 76 persen kapasitas tambahan berasal dari pembangkit hijau dan penyimpanan energi.
Angka ini penting. Kebutuhan listrik Indonesia akan terus membesar. Dorongannya datang dari industri, rumah tangga, kendaraan listrik, pendingin ruangan, data center, dan ekonomi digital.
Namun, tambahan pembangkit tidak otomatis membuat sistem lebih aman. Kapasitas baru harus bertemu dengan jaringan yang kuat, cadangan daya yang cukup, dan sistem operasi yang sanggup menghadapi gangguan.

Energi Bersih Butuh Grid
RUPTL 2025–2034 juga menempatkan energi terbarukan sebagai bagian penting dari kapasitas baru. Dokumen PLN mencatat pembangkit EBT sekitar 42,1 gigawatt, storage 10,3 gigawatt, serta tenaga surya 17,1 gigawatt dalam komposisi tambahan kapasitas hingga 2034.
Ini kabar penting untuk transisi energi. Namun, energi bersih juga membawa kebutuhan baru.
Baca juga: Pasar Listrik di Era AI, Siapkah Indonesia?
Surya bergantung pada matahari. Angin bergantung pada pola angin. Hidro bergantung pada air. Karena itu, sistem listrik yang makin banyak memasukkan energi terbarukan perlu grid yang lebih fleksibel, penyimpanan energi, prediksi cuaca, dan manajemen beban yang lebih cerdas.
Transisi energi bukan hanya soal membangun pembangkit hijau. Transisi energi juga soal memperkuat cara sistem bekerja.
Risiko Iklim
Tekanan lain datang dari cuaca ekstrem. Banjir dapat mengganggu gardu dan jaringan distribusi. Longsor dapat menekan jalur transmisi. Panas ekstrem dapat meningkatkan kebutuhan pendinginan dan memengaruhi efisiensi pembangkit.
Kajian terbaru tentang kerentanan sistem listrik Indonesia terhadap tekanan iklim memperkirakan reserve margin dapat tergerus hingga 36 poin persentase dalam rencana 10 tahun. Untuk sistem Jawa–Madura–Bali, kajian itu memperkirakan penurunan reserve margin sebesar 20,8 poin persentase, dengan margin tersisa 26,5 persen.
Baca juga: Potensi Energi Surya Melimpah, Timur Indonesia Bisa Mandiri Listrik
Temuan ini perlu dibaca hati-hati karena berasal dari kajian akademik pra-cetak. Namun, pesannya relevan, Risiko iklim dapat menyerap sebagian ruang aman sistem listrik.
Dengan kata lain, sebagian investasi kapasitas baru bisa saja bukan hanya untuk memenuhi permintaan tambahan, tetapi juga untuk menjaga ketahanan sistem dari tekanan iklim.
Ketahanan Sistem
Maka, perdebatan listrik tidak cukup berhenti pada batu bara atau energi terbarukan. Pasokan energi primer tetap penting. Pembangkit harus andal. Energi bersih perlu diperbesar. Tetapi semua itu harus disatukan oleh sistem yang tangguh.
Jaringan perlu diperkuat. Interkoneksi antardaerah perlu dibuat lebih siap. Penyimpanan energi harus diperluas. Prediksi cuaca perlu masuk dalam operasi harian. Manajemen beban harus makin adaptif.
Listrik masa depan bukan hanya soal sumber energi. Listrik masa depan adalah soal orkestrasi sistem.
Episode terbaru Sustain Bites by SustainReview.ID juga membahas isu ini lewat format video ringkas: Kenapa Listrik Indonesia Makin Rentan Padam? Video ini membaca pemadaman, cuaca ekstrem, ekspansi pembangkit, dan ketahanan jaringan sebagai satu kesatuan isu.
Pemadaman memberi satu pelajaran penting. Listrik yang menyala setiap hari bergantung pada sistem besar yang bekerja dalam diam.
Dan di era cuaca ekstrem, transisi energi, serta ekonomi digital, sistem itu harus dibuat lebih tangguh. ***
- Foto: Guilherme Christmann/ Pexels – Jaringan transmisi menjadi bagian penting dalam ketahanan listrik. Pemadaman bergilir menunjukkan keandalan energi tidak hanya ditentukan oleh pembangkit, tetapi juga oleh pasokan, jaringan, cadangan daya, dan kesiapan sistem menghadapi gangguan.


