Keamanan Nuklir Indonesia Mulai Bertumpu pada Data dan Fingerprint Material

KEAMANAN nuklir modern tidak lagi hanya bergantung pada pagar berlapis, pengawasan fisik, atau prosedur laboratorium. Dunia kini bergerak menuju era baru. Keamanan berbasis data, karakteristik material, dan kemampuan melacak asal-usul bahan nuklir secara presisi.

Indonesia mulai masuk ke fase itu.

Badan Riset dan Inovasi Nasional melalui pengembangan platform berbasis web bernama Indonesian Nuclear Forensics Library (INFL) mulai membangun sistem penyimpanan “sidik jari” bahan nuklir nasional. Sistem ini dirancang untuk mendokumentasikan karakteristik khas setiap material nuklir yang dimiliki atau dimanfaatkan di Indonesia.

Forensik nuklir adalah metode ilmiah untuk mengidentifikasi asal-usul, karakteristik, dan jalur distribusi material nuklir atau radioaktif melalui analisis data dan fingerprint material.

INFL dibangun agar Indonesia memiliki kemampuan menelusuri asal material nuklir jika suatu saat ditemukan bahan radioaktif di luar kendali regulasi.

Baca juga: Ambisi PLTN 2032 dan Krisis Talenta Nuklir Indonesia

Kepala Pusat Riset Teknologi Bahan Nuklir dan Limbah Radioaktif BRIN, Maman Kartaman Ajiriyanto, mengatakan setiap material nuklir nantinya memiliki rekam karakteristik yang terdokumentasi secara lengkap di dalam sistem.

“Ketika suatu saat ditemukan bahan nuklir tertentu di luar kendali regulasi, kita dapat membandingkan apakah material tersebut memiliki karakteristik yang sama atau berbeda dengan yang dimiliki Indonesia,” ujar Maman dalam workshop pengembangan INFL di Kawasan Sains dan Teknologi BJ Habibie Serpong, Jawa Barat.

Pendekatan seperti ini mulai menjadi standar global dalam sistem keamanan nuklir modern. Negara tidak hanya menjaga material secara fisik, tetapi juga membangun database karakteristik untuk mempercepat investigasi dan atribusi forensik.

Era Baru Pengawasan Nuklir

INFL dikembangkan dengan melibatkan sejumlah pusat riset di lingkungan BRIN. Pusat Riset Teknologi Bahan Nuklir dan Limbah Radioaktif menangani konten dan data material nuklir. Pusat Riset Teknologi Reaktor Nuklir mendukung aspek teknologi reaktor. Sementara Pusat Riset Sains, Data, dan Informasi berperan pada sistem digital dan integrasi data.

Data yang tersimpan dalam sistem mencakup komposisi isotop, unsur pengotor, morfologi material, hingga parameter karakterisasi lain yang relevan dalam analisis forensik nuklir.

Salah satu kekuatan utama sistem ini adalah kemampuan pencocokan fingerprint material secara otomatis melalui fitur “match characteristic”.

Baca juga: Bank Dunia Buka Lagi Pintu Pendanaan Nuklir untuk Negara Berkembang

Peneliti BRIN, Foni Agus Setiawan, menjelaskan sistem mampu membandingkan sampel tak dikenal dengan data karakteristik material yang sudah tersimpan dalam database nasional.

“Kalau ada unknown sample, sistem akan mencari material yang paling mendekati karakteristiknya,” ujar Foni.

INFL juga mulai mengadopsi fitur pencarian berbasis natural language. Pengguna nantinya tidak harus menggunakan kata kunci teknis, tetapi dapat melakukan pencarian menggunakan bahasa sehari-hari.

Langkah ini memperlihatkan bagaimana teknologi keamanan nuklir mulai bergerak ke arah sistem yang lebih interoperable dan mudah digunakan lintas institusi.

Grafis: Daffa Attarikh/ SustainReview.

Mengacu Standar IAEA

Pengembangan INFL mengacu pada dokumen International Atomic Energy Agency (IAEA) berjudul Development of a National Nuclear Forensics Library. Standar itu menjadi pedoman penting dalam pengelolaan data forensik nuklir nasional.

IAEA sendiri mendorong negara-negara anggotanya membangun pustaka forensik nuklir nasional sebagai bagian dari mitigasi risiko penyalahgunaan material radioaktif.

Indonesia termasuk negara dengan pemanfaatan teknologi nuklir yang terus berkembang, mulai dari riset, kesehatan, industri, hingga pertanian. Karena itu, kebutuhan terhadap sistem identifikasi material menjadi semakin penting.

Baca juga: Bunker Nuklir Inggris Tergerus Erosi, Alarm Dini bagi Kebijakan Pesisir Indonesia

Implikasi kebijakannya cukup besar. Semakin kompleks pemanfaatan bahan radioaktif, semakin penting pula sistem pelacakan berbasis data yang dapat dipakai lintas lembaga seperti kepolisian, intelijen, laboratorium forensik, dan regulator.

Maman menyebut ke depan sistem ini dapat dimanfaatkan oleh berbagai pemangku kepentingan, mulai dari Bareskrim Polri, BIN, hingga satuan forensik dan Gegana Polri.

AI Mulai Masuk Forensik Nuklir

Menariknya, BRIN juga mulai membuka kemungkinan integrasi kecerdasan buatan atau AI dalam pengembangan INFL.

AI adalah teknologi yang memungkinkan sistem komputer mengenali pola dan mengambil keputusan otomatis berdasarkan data yang dipelajari.

Saat ini, foto sampel material masih digunakan sebagai dokumentasi. Namun dalam tahap pengembangan berikutnya, AI berpotensi dipakai untuk mengenali jenis material nuklir hanya dari analisis gambar.

Jika jumlah data sampel sudah memadai, sistem nantinya dapat melakukan identifikasi otomatis melalui foto material.

Baca juga: Dari Nuklir ke Surya, Strategi Google Memimpin Transisi Energi Global

Pendekatan ini menunjukkan bahwa keamanan nuklir global mulai memasuki era baru: kombinasi antara forensik material, database nasional, dan kecerdasan buatan.

Dalam konteks geopolitik dan keamanan modern, kemampuan membaca “sidik jari” material nuklir bisa menjadi aset strategis sebuah negara.

Sumber moderat dalam artikel ini merujuk pada keterangan resmi BRIN dan pedoman International Atomic Energy Agency (IAEA). ***

  • Foto: Ilustrasi/ Mufid Majnun/ PexelsPeneliti melakukan analisis material dalam pengembangan sistem forensik nuklir berbasis data di Indonesia.
Bagikan