Bukan Sekadar Harga Karbon, Dunia Kini Berebut Standar Pasar Karbon

PASAR karbon global memasuki arah baru. Fokus dunia kini tidak lagi hanya pada harga emisi, tetapi pada siapa yang mengendalikan standar, integritas data, dan aturan teknis perdagangan karbon lintas negara.

Peluncuran Open Coalition on Compliance Carbon Markets (OCCCM) di Florence, Italia, menjadi sinyal penting perubahan tersebut. Uni Eropa, China, dan Brasil resmi membentuk koalisi baru untuk memperkuat kerja sama pasar karbon dan carbon pricing global.

Carbon pricing adalah mekanisme kebijakan yang memberikan biaya ekonomi pada emisi karbon melalui perdagangan emisi atau pajak karbon untuk mendorong dekarbonisasi.

Baca juga: Kredit Karbon Berkualitas Kian Terbatas, Akses Mulai Menjadi Penentu

Koalisi ini tidak membentuk pasar karbon global tunggal. Namun forum tersebut berpotensi menjadi arena baru pembentukan standar internasional terkait monitoring, reporting, and verification (MRV), akuntansi emisi, hingga kualitas offset karbon.

Negara dengan sistem MRV kuat dan standar karbon kredibel akan memiliki posisi lebih kompetitif dalam ekonomi rendah karbon global.

Perebutan Standar

Fokus utama OCCCM adalah memperkuat integritas teknis pasar karbon.

Prioritas kerja mereka mencakup pengembangan sistem MRV, harmonisasi metode akuntansi karbon, serta peningkatan kualitas kredit karbon berintegritas tinggi.

MRV adalah sistem pemantauan, pelaporan, dan verifikasi emisi yang digunakan untuk memastikan data karbon dapat diukur, diverifikasi, dan dipercaya secara internasional.

Uni Eropa mencatat saat ini terdapat sekitar 80 skema carbon pricing yang berjalan di lebih dari 50 negara. Namun kualitas metodologi dan integritas data antar sistem masih sangat berbeda.

Baca juga: ASEAN Mulai Bangun Jalur Resmi Pasar Karbon Regional

Perbedaan tersebut mulai menjadi isu strategis karena pasar karbon kini tidak hanya terkait agenda iklim, tetapi juga perdagangan dan investasi.

Kesalahan akuntansi emisi dapat memunculkan risiko greenwashing, distorsi harga karbon, hingga ketidakpastian biaya kepatuhan industri.

“Pasar karbon kini tidak lagi sekadar instrumen iklim, tetapi mulai menjadi bagian dari strategi perdagangan dan daya saing ekonomi.” Kalimat itu menjadi salah satu pesan paling penting dari perkembangan di Florence pekan ini.

Kalimat itu mencerminkan perubahan besar dalam tata kelola ekonomi hijau global.

Grafis: Daffa Attarikh/ SustainReview.

China Mulai Masuk

China memanfaatkan forum Florence untuk mempertegas ambisinya dalam tata kelola karbon internasional.

Wakil Menteri Ekologi dan Lingkungan China, Li Gao, mengatakan China ingin membangun pasar karbon yang “lebih efektif, dinamis, dan memiliki pengaruh internasional.”

China juga mengundang anggota koalisi menghadiri China Carbon Market Conference di Wuhan pada September 2026.

Perkembangan ini penting karena selama dua dekade terakhir Uni Eropa menjadi aktor dominan dalam pembentukan standar pasar karbon global melalui EU Emissions Trading System (EU ETS).

Baca juga: Uni Eropa Mengamankan Pasar Karbon Lewat Pendanaan Dini

Kini, China mulai aktif masuk ke arena standard-setting.

Brasil sendiri akan menjadi ketua OCCCM selama dua tahun pertama, sementara Uni Eropa dan China bertindak sebagai co-chair.

New Zealand dan Jerman menjadi anggota awal koalisi tersebut.

Tantangan Indonesia

Bagi Indonesia, perkembangan ini membawa implikasi strategis yang besar.

Indonesia memang telah memiliki bursa karbon melalui IDXCarbon serta sistem registri nasional SRN-PPI. Namun tantangan utama Indonesia bukan sekadar meningkatkan volume transaksi karbon.

Tantangan terbesar justru berada pada kualitas data emisi, integritas kredit karbon, dan kesiapan sistem MRV nasional.

Jika standar global bergerak lebih cepat dibanding kesiapan domestik, Indonesia berisiko hanya menjadi pemasok kredit karbon tanpa posisi kuat dalam pembentukan aturan pasar.

Baca juga: Retailisasi Pasar Karbon, Solusi Transisi atau Sekadar Simbol?

Sebaliknya, jika mampu memperkuat integritas sistem, Indonesia memiliki peluang menjadi salah satu pemain penting dalam ekonomi karbon global, terutama karena besarnya potensi nature-based solutions dan aset hutan tropis nasional.

Implikasi kebijakannya mulai terlihat jelas. Indonesia perlu mempercepat penguatan MRV, interoperabilitas data karbon, dan tata kelola pasar karbon domestik agar kompatibel dengan standar global yang mulai terbentuk.

Dalam konteks baru ini, integritas data karbon perlahan berubah menjadi instrumen daya saing ekonomi. ***

  • Foto: Ilustrasi/ AI-generated/ SustainReview.ID – Forum peluncuran Open Coalition on Compliance Carbon Markets (OCCCM) di Florence, Italia, yang mempertemukan sejumlah negara dalam pembentukan standar pasar karbon global.
Bagikan