SUSTAINABLE Aviation Fuel (SAF) mulai berubah dari sekadar bahan bakar alternatif menjadi aset strategis baru dalam industri penerbangan global. Di Eropa, maskapai kini tidak lagi hanya berbicara soal target net-zero, tetapi mulai berebut mengamankan pasokan bahan bakar rendah emisi sebelum regulasi baru berlaku pada 2030.
SAF adalah bahan bakar penerbangan rendah emisi yang dirancang untuk mengurangi jejak karbon industri aviasi tanpa harus mengganti armada pesawat atau infrastruktur bandara yang sudah ada.
Langkah terbaru datang dari Swiss International Air Lines bersama Metafuels. Keduanya menjalin kemitraan untuk mempercepat pengembangan synthetic SAF berbasis green methanol. Dalam kerja sama itu, SWISS dan Lufthansa Group juga mulai mempertimbangkan kontrak pembelian SAF jangka panjang.
Baca juga: Pasar SAF Tak Lagi Ditentukan Target Emisi, tetapi Jaminan Negara
Maskapai global kini mulai mengamankan pasokan SAF lebih awal karena mereka khawatir pasokan bahan bakar rendah emisi akan menjadi langka dan mahal setelah kuota wajib berlaku di Eropa mulai 2030.
Langkah ini muncul ketika Swiss dan Uni Eropa diperkirakan mulai menerapkan kewajiban penggunaan bahan bakar sintetis pada dekade mendatang. Tekanan regulasi itu mulai mengubah SAF dari isu keberlanjutan menjadi isu keamanan pasokan energi penerbangan.
Dari Ambisi ke Perebutan Pasokan
Selama beberapa tahun terakhir, banyak maskapai masih memperlakukan SAF sebagai proyek uji coba atau bagian dari strategi komunikasi keberlanjutan. Namun pasar mulai bergerak ke fase baru.
Pasar SAF kini mulai masuk fase perebutan kapasitas produksi dan pengamanan kontrak pasokan jangka panjang.
Metafuels sendiri mengembangkan teknologi aerobrew yang mengubah biomethanol atau e-methanol menjadi bahan bakar penerbangan rendah emisi. Teknologi itu menggunakan kombinasi energi terbarukan, air, dan karbon dioksida untuk menghasilkan methanol berkelanjutan sebelum dikonversi menjadi SAF.
Baca juga: SAF Mulai Diproduksi Massal, Indonesia Siap Jadi Produsen atau Tetap Pasar?
Perusahaan tersebut tengah membangun fasilitas demonstrasi di Villigen, Swiss, serta mengembangkan pabrik komersial pertamanya di Rotterdam, Belanda.
Ada dua angka besar yang menjadi perhatian industri global saat ini. Pertama, regulasi kuota synthetic SAF diperkirakan mulai berlaku pada 2030 di Swiss dan Uni Eropa. Kedua, kapasitas produksi SAF global saat ini masih jauh di bawah kebutuhan dekarbonisasi penerbangan internasional.
Kondisi itu mulai memunculkan kekhawatiran baru di industri aviasi. Maskapai yang terlambat mengamankan pasokan SAF berpotensi menghadapi tekanan biaya lebih tinggi di masa depan.

SAF dan Politik Industri Baru
Kerja sama SWISS dan Metafuels juga menunjukkan bahwa SAF mulai masuk ke arena kebijakan industri nasional.
Bagi Swiss, kemitraan ini bukan hanya tentang emisi penerbangan. Ada agenda lebih besar berupa pembangunan ekosistem teknologi domestik, penguatan inovasi energi bersih, hingga pengamanan rantai pasok bahan bakar masa depan.
Transisi penerbangan rendah emisi kini tidak lagi hanya ditentukan oleh target iklim, tetapi juga oleh siapa yang mampu menguasai teknologi dan pasokan bahan bakarnya.
Baca juga: SAF Indonesia: Produksi Dimulai, Pasar Belum Terbentuk
CEO SWISS Jens Fehlinger mengatakan investasi dan kemitraan perlu dilakukan sekarang jika industri ingin memastikan ketersediaan SAF dalam skala besar pada masa depan. Ia juga menegaskan bahwa produksi industrial menjadi tantangan utama karena pasokan bahan bakar berkelanjutan masih terbatas dan mahal.
Di sisi lain, CEO Metafuels Saurabh Kapoor menyebut synthetic SAF akan semakin penting seiring meningkatnya permintaan dan regulasi yang makin ketat di Eropa.
Indonesia Masih di Tahap Awal
Perkembangan di Eropa memberi sinyal penting bagi Indonesia.
Indonesia sebenarnya memiliki potensi besar masuk ke rantai pasok SAF global melalui biomassa, limbah sawit, green methanol, hingga pasar penerbangan domestik yang besar. Namun hingga kini, ekosistem produksi SAF nasional masih berada pada tahap awal.
SAF berbasis biomassa dan methanol diperkirakan akan menjadi salah satu elemen penting dalam transisi energi sektor penerbangan global dalam dua dekade mendatang.
Baca juga: Limbah Sawit Jadi SAF, Tata Kelola Menentukan Arah Indonesia
Tanpa percepatan investasi, teknologi pengolahan, dan arah kebijakan industri yang jelas, Indonesia berisiko hanya menjadi pemasok bahan mentah di tengah pertumbuhan pasar bahan bakar penerbangan rendah emisi dunia.
Saat Eropa mulai mengunci kontrak pasokan SAF jangka panjang, persaingan industri penerbangan global perlahan mulai bergeser dari perebutan penumpang menjadi perebutan bahan bakar masa depan. ***
- Foto:  Planespotter Geneva / Pexels – Pesawat SWISS berada di apron bandara saat industri penerbangan Eropa mulai mempercepat pengamanan pasokan Sustainable Aviation Fuel (SAF) menjelang regulasi emisi baru pada 2030.


