PEMERINTAH menetapkan pembangunan MRT Jakarta sebagai prioritas nasional. Dalam RAPBN 2026, hibah untuk proyek ini melonjak drastis. Angkanya naik dari Rp1,09 triliun pada outlook 2025 menjadi Rp2,61 triliun. Kenaikan 140 persen ini bukan sekadar hitungan fiskal, melainkan sinyal serius bahwa moda transportasi berbasis rel kini dilihat sebagai solusi masa depan.
Menjawab Krisis Mobilitas Metropolitan
Jakarta dan sekitarnya sudah lama menghadapi kemacetan kronis. Data Badan Perencanaan Pembangunan Nasional menunjukkan kerugian ekonomi akibat macet mencapai lebih dari Rp65 triliun per tahun. Polusi udara juga terus menghantui, dengan sektor transportasi menyumbang porsi terbesar.
MRT hadir sebagai jawaban. Moda berbasis listrik ini diharapkan bisa mengurangi jutaan perjalanan kendaraan pribadi setiap harinya. Jika target integrasi dengan TransJakarta, LRT, dan jaringan KRL tercapai, dampaknya akan lebih luas: mengubah pola mobilitas perkotaan.
Jalur Timur-Barat sebagai Game Changer
Lonjakan hibah 2026 diarahkan untuk percepatan jalur Timur-Barat, fase 1 tahap 1, yang membentang dari Tomang hingga Medan Satria, Bekasi. Jika kelak seluruh jalur selesai, MRT Timur-Barat akan menghubungkan Balaraja di barat hingga Cikarang di timur. Total panjangnya mencapai 84 kilometer.
Baca juga:Â Swiss Ubah Rel Kereta Jadi Sumber Energi Hijau
Proyek ini dipandang sebagai game changer. Untuk pertama kalinya, kawasan industri dan permukiman padat di Bekasi, Tangerang, hingga Jakarta terhubung lewat transportasi massal modern. Mobilitas tenaga kerja, distribusi barang, hingga aktivitas ekonomi akan jauh lebih efisien.

Pembiayaan dan Diplomasi Hijau
Hibah MRT bersumber dari pinjaman Japan International Cooperation Agency (JICA). Skema ini berlangsung sejak 2009 hingga 2034. Selain memperkuat kerja sama Indonesia–Jepang, pola pembiayaan ini juga bisa dibaca sebagai bagian dari diplomasi hijau. Jepang mendorong teknologi rendah karbon, sementara Indonesia mendapat akses pendanaan dan transfer teknologi.
Baca juga: Mobilitas Berkelanjutan Berpotensi Tekan Emisi Transportasi hingga 76%
Model pendanaan seperti ini relevan dengan diskusi global tentang sustainable finance. Infrastruktur yang ramah lingkungan membutuhkan pola pembiayaan jangka panjang dengan risiko terkendali. MRT menjadi contoh konkret bagaimana pinjaman luar negeri bisa diarahkan ke proyek dengan nilai tambah sosial dan lingkungan.
Lebih dari Sekadar Infrastruktur
MRT bukan hanya soal jalur rel dan kereta modern. MRT merepresentasikan perubahan paradigma. Dari kota yang bergantung pada mobil pribadi, menuju kota yang memberi ruang bagi transportasi publik, pejalan kaki, dan pesepeda.
Bagi pemerintah daerah, tantangannya adalah memastikan pembangunan jalur ini terintegrasi dengan tata ruang kota. Transit Oriented Development (TOD) harus benar-benar berjalan, bukan hanya jargon. Jika kawasan sekitar stasiun MRT berkembang dengan konsep ramah lingkungan, maka manfaatnya berlipat ganda. Ekonomi tumbuh, emisi berkurang, kualitas hidup warga meningkat.
Baca juga: Whoosh, Ketika Kecepatan Bertemu Kesadaran Iklim
Hibah Rp2,61 triliun untuk MRT 2026 hanyalah satu langkah. Jalan panjang menuju sistem transportasi berkelanjutan membutuhkan konsistensi kebijakan, kepemimpinan politik, serta komitmen lintas sektor.
Namun, arah sudah jelas. Masa depan Jakarta dan Jabodetabek tidak bisa lagi ditopang kendaraan pribadi. Transportasi publik modern, efisien, dan rendah emisi seperti MRT adalah jawabannya. ***
- Foto: Instagram/ @mrtjkt – Kereta MRT tiba di stasiun Jakarta saat senja. Pemerintah mengalokasikan hibah Rp2,61 triliun pada 2026 untuk percepatan jalur Timur–Barat.