PARA pemimpin negara-negara Amazon kembali mengangkat suara bersama. Di ibu kota Kolombia, para presiden, wakil presiden, pejabat tinggi, hingga tokoh masyarakat adat duduk satu meja untuk satu tujuan, menjaga hutan hujan terbesar di dunia tetap hidup.
Presiden Brasil Luiz Inacio Lula da Silva menegaskan, “Tidak ada jalan keluar individu dari krisis iklim. Dunia butuh tata kelola baru agar janji negara benar-benar ditepati.”
Pernyataan itu menjadi penanda lahirnya Deklarasi Bogota, cetak biru politik yang kini menjadi agenda resmi Organisasi Perjanjian Kerja Sama Amazon (Amazon Cooperation Treaty Organization/ACTO).
Dari Niat Baik ke Aksi Nyata
Deklarasi Bogota bukan sekadar simbol. Kesepakatan ini melanjutkan Deklarasi Belem (2023) dengan langkah lebih konkret. Memperkuat koordinasi lintas negara dalam isu deforestasi, perubahan iklim, serta hak masyarakat adat. Delapan anggota ACTO kini berkomitmen menunjuk perwakilan ganda, pemerintah dan masyarakat adat, untuk memastikan keputusan tidak hanya datang dari atas, melainkan juga dari akar rumput.
Baca juga: Menyelamatkan Paru-paru Dunia, Pelajaran dari Johan Eliasch untuk Kebijakan Hutan Indonesia
Wakil Presiden Ekuador, María Jose Pinto, menekankan pentingnya peran komunitas lokal. Menurutnya, solusi sejati tidak lahir dari ibu kota, melainkan dari wilayah yang bersentuhan langsung dengan hutan. “Amazon harus tetap menjadi pusat percakapan global,” ujarnya.
20 Resolusi, Satu Visi Bersama
Pertemuan menteri luar negeri menghasilkan 20 resolusi baru. Isinya meliputi pembentukan Mekanisme Masyarakat Adat Regional, inisiatif ketahanan pangan, penguatan kapasitas institusi, hingga strategi menghadapi risiko iklim. Bagi masyarakat adat, keputusan paling signifikan adalah disepakatinya mekanisme pembiayaan langsung untuk komunitas mereka.
Oswaldo Muca, perwakilan masyarakat adat Kolombia, menyambut baik langkah tersebut. “Kami menolak penambangan dan eksplorasi minyak yang merusak kehidupan. Hanya dengan pembiayaan langsung kami bisa benar-benar menjaga Amazon,” tegasnya.

Namun ia juga mengingatkan, janji politik harus diwujudkan dalam tindakan nyata, bukan sekadar pidato.
Amazon, Paru-paru Dunia yang Terancam
Hutan Amazon mencakup lebih dari 6,7 juta kilometer persegi, menjadi rumah bagi ribuan spesies unik, sekaligus penyerap karbon raksasa yang menjaga iklim global. Ilmuwan memperingatkan, kehilangan hutan ini dapat mempercepat pemanasan global, mengacaukan pola hujan hingga ke Amerika Utara dan Eropa, serta menekan produksi pangan dunia.
Baca juga: Krisis Hutan Tropis Bisa Picu Pemanasan Global Abadi
Jika deforestasi terus berlanjut, Amazon berpotensi mencapai titik tidak bisa kembali (point of no return), di mana hutan akan berubah menjadi sabana kering. Dampaknya akan terasa di seluruh planet.
Tantangan Politik, Ekonomi, dan Keberanian
Sekretaris Jenderal ACTO, Martín von Hildebrand, mengingatkan bahwa persatuan politik menjadi kunci. Sementara Julio Cusurichi, pemimpin masyarakat adat Peru, menegaskan, “Kami meminta tindakan segera. Deforestasi dan polusi meningkat, dampak iklim kian parah.”
Pertemuan Bogota memberi harapan, tetapi tantangannya besar. Negara-negara Amazon masih bergulat dengan dilema ekonomi. Antara menjaga hutan atau mengejar keuntungan jangka pendek dari penebangan, pertambangan, dan ekspansi pertanian.
Baca juga: Masyarakat Adat, Penjaga Bumi yang Terabaikan dalam Krisis Global
Bagi dunia, Amazon adalah aset global. Namun bagi negara-negara pemiliknya, Amazon juga bagian dari kedaulatan. Pertemuan ini menunjukkan satu hal, hanya dengan kolaborasi, menghormati kearifan lokal, dan komitmen internasional, Amazon bisa tetap berdiri sebagai paru-paru dunia. ***
- Foto: X: @CancilleriaCol – Para pemimpin negara-negara Amazon bersama perwakilan masyarakat adat saat menyampaikan komitmen dalam Deklarasi Bogota di Kolombia, 22 Agustus 2025. Pertemuan ini menandai langkah baru menjaga hutan hujan terbesar dunia dari ancaman deforestasi dan krisis iklim.